TRIBUNNEWS.COM - Kasus pembunuhan siswa SMP, ZAAQ (14) di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat mendapat sorotan dari kriminolog, Haniva Hasna.
Kasus tersebut terungkap setelah jasad korban ditemukan konten kreator yang hendak syuting di area terbengkalai wisata Kampung Gajah, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (13/2/2026).
Setelah dilakukan identifikasi, terungkap jasad merupakan ZAAQ yang hilang sejak Senin (9/2/2026).
Pelaku pembunuhan merupakan dua teman korban, YA dan APM yang masih di bawah umur.
Penangkapan dilakukan di Garut, Jawa Barat pada Minggu (15/2/2026).
Motif pembunuhan yakni dendam serta sakit hati karena korban ingin mengakhiri pertemanan.
Haniva Hasna menyatakan ada perbedaan mendasar antara cara orang dewasa dan remaja dalam mengelola konflik.
Bagian otak depan yang berfungsi mengambil keputusan dan menimbang konsekuensi pada remaja usia 14-16 tahun belum berkembang optimal.
"Tapi ketika anak-anak di usia 14 tahun ini biasanya yang paling berkembang adalah otak emosi sehingga ketika terjadi sesuatu dan dia mengalami eskalasi peningkatan dari emosi tersebut, dia akan melakukan tindakan ekstrem," ucapnya dikutip dari YouTube KompasTV.
Bagi seorang remaja, teman bukan sekadar kawan bermain, melainkan elemen krusial dalam pembentukan identitas.
"Nah ketika dia dihilangkan dalam pertemanan itu, maka yang terjadi adalah bentuk penolakan, rasa tidak berharga, dan ini menjadi sesuatu yang sangat-sangat berat bagi remaja," sambungnya.
Baca juga: Siswa SMP Bandung Dibunuh di Eks Kampung Gajah, Ditusuk 8 Kali karena Putus Pertemanan
Dalam fase ini, pelaku terus-menerus memikirkan perlakuan tidak menyenangkan yang ia terima hingga muncul perasaan dendam.
"Bisa jadi demikian Mas, karena sebetulnya kejahatan yang dilakukan oleh seseorang pun oleh anak-anak itu sebetulnya bukan hasil dari kemarahan satu malam tapi ini melalui proses panjang."
"Segala macam kejahatan itu karena yang pertama karena tekanan hidup yang tinggi. Kemudian kontrol diri yang kurang dan yang terakhir adalah kontrol sosialnya tidak ada," tukasnya.
Ia mengingatkan para orang tua dan pihak sekolah untuk tidak hanya sekadar mendamaikan jika melihat anak menunjukkan sinyal agresivitas yang tidak wajar.
"Karena kalau dibantu oleh profesional kemungkinan emosinya bisa diturunkan dan agresi-agresi yang mungkin akan keluar ekstrem selanjutnya sampai melakukan pembunuhan bisa ditekan atau ditiadakan," jelasnya.
Sebelumnya, Kapolres Cimahi, AKBP Niko N Adi Putra, menyatakan YA telah merencanakan pembunuhan dengan mengajak APM dan membawa senjata tajam dari Garut.
Baca juga: Hilang Sepulang Sekolah, Siswa SMPN 26 Bandung Ditemukan Tewas di Bekas Objek Wisata Kampung Gajah
Mereka menjemput korban kemudian membawanya ke kawasan Kampung Gajah.
Setelah korban tewas, jasad ditinggalkan dan handphone korban diambil untuk membuat alibi korban masih hidup.
"Dalam kurun waktu 1x24 jam setelah penemuan jasad, tim berhasil mengamankan dua pelaku yang masih di bawah umur. Saat ini keduanya tengah menjalani pemeriksaan intensif," katanya.
Akibat perbuatannya, YA dan APM terancam jeratan pasal pembunuhan berencana dengan ancaman maksimal pidana mati atau penjara seumur hidup.
(Tribunnews.com/Mohay) (TribunJabar.id/Rahmat)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.