TRIBUNWOW.COM - Kebiasaan berbuka puasa dengan sesuatu yang manis sudah terlanjur menjadi semacam konsensus tidak tertulis di masyarakat Indonesia.
Banyak orang meyakini bahwa menu manis adalah syarat utama saat berbuka, seolah tanpa itu tubuh tidak akan cepat pulih setelah seharian berpuasa.
Padahal, yang sebenarnya dibutuhkan tubuh adalah sumber kalori yang mudah dan cepat diubah menjadi tenaga, bukan semata-mata rasa manis itu sendiri.
Zat yang paling cepat dimanfaatkan tubuh sebagai energi adalah glukosa, yang memang banyak terdapat pada makanan atau minuman manis.
Artinya, berbuka tidak harus dengan minuman manis, selama makanan atau minuman yang dikonsumsi mengandung gula atau sumber kalori yang mudah diserap tubuh.
Baca juga: Bagaimana Batasan Penderita Sakit Kronis saat Puasa? Ini Penjelasan Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Pertanyaan:
Dari sudut pandang medis, bagaimana dokter melihat kebiasaan berbuka puasa dengan sesuatu yang manis?
Begini jawaban Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUD Bung Karno, dr. Achmadi, Sp.PD, FINASIM dalam podcast kesehatan "Healthy Talk" dalam kanal YouTube Tribunnews.com.
Jawaban:
Sebenarnya, berbuka puasa tidak harus selalu dengan sesuatu yang manis, tetapi yang utama adalah mengonsumsi sumber kalori yang mudah diserap tubuh.
Selama berpuasa dari subuh hingga magrib, tubuh tidak mendapatkan asupan energi, sehingga saat berbuka dibutuhkan sumber tenaga yang cepat tersedia.
Glukosa adalah bentuk energi yang paling mudah dimanfaatkan tubuh, dan inilah alasan mengapa makanan atau minuman manis sering dianjurkan.
Namun, esensinya bukan pada manisnya, melainkan pada kandungan gula atau karbohidrat sederhana yang bisa segera diubah menjadi energi.
Oleh karena itu, berbuka bisa dilakukan dengan berbagai jenis makanan yang mengandung gula alami atau sumber kalori cepat, bukan hanya minuman manis.
Dengan pemahaman ini, masyarakat sebaiknya tidak memaknai anjuran berbuka dengan yang manis sebagai kewajiban mutlak.
Yang lebih penting adalah porsi yang wajar, jenis gula yang dikonsumsi, dan kondisi kesehatan masing-masing, terutama bagi penderita diabetes atau gangguan metabolik lain.
Mereka tetap dapat memenuhi kebutuhan energi dengan memilih sumber kalori yang aman dan terukur, misalnya buah atau takjil sederhana yang tidak terlalu tinggi gula tambahan.
Selain itu, setelah mengisi energi awal, makanan utama yang bergizi seimbang tetap diperlukan untuk menggantikan nutrisi yang hilang selama berpuasa.
Jadi, berbuka dengan yang manis boleh saja, tetapi harus dipahami konteks dan porsinya, bukan dijadikan kebiasaan tanpa mempertimbangkan aspek kesehatan.
(TribunWow.com/Peserta Magang dari Universitas Sebelas Maret/Alifazahra Avrilya Noorahma/Yonatan Krisna Halman Tri Santosa)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.