Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pintu Gapit yang berada di barat Keraton Solo dulu dikenal sebagai titik pengamanan.

Kini, pintu tersebut digunakan sebagai jalan umum.

Pintu ini merupakan akses keluar-masuk benteng yang mengitari area dalam keraton.

Diketahui, atap Pintu Gapit barat Keraton Kasunanan Surakarta ambrol pada Jumat (27/3/2026).

Warga Baluwarti, KP Bambang Ary Pradotonagoro, mengungkapkan bangunan cagar budaya ini terakhir dibenahi pada era Pakubuwono XII.

“Terakhir perbaikan tahun 2000-an ketika PB XII masih hidup. Ada tiga pintu, yakni timur, barat, dan selatan,” ungkapnya.

Sekitar tahun 1907, tembok ini dibangun untuk menggantikan tembok di sampingnya yang sudah roboh.

“Tembok sisi barat dulunya berada di sebelah timur tembok aslinya. Tembok aslinya tidak sampai 7 meter. Sekitar 1907 semua pintu akhirnya disamakan modelnya. Sudah masuk cagar budaya,” jelasnya.

RUSAK. Kondisi Atap Pintu Gapit Barat Keraton Kasunanan Surakarta ambrol pada Jumat (27/3/2026).Atap tersebut ambrol lantaran sudah rapuh.
RUSAK. Kondisi Atap Pintu Gapit Barat Keraton Kasunanan Surakarta ambrol pada Jumat (27/3/2026).Atap tersebut ambrol lantaran sudah rapuh. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Situasi dan Kondisi Berbeda

Mulanya, pintu ini merupakan titik pengamanan oleh prajurit keraton.

Namun, saat ini digunakan sebagai jalan umum untuk keluar-masuk warga Baluwarti.

“Untuk pengamanan pintu keluar-masuk keraton. Karena situasi dan kondisi sudah berbeda, pintu menjadi akses bagi masyarakat,” terangnya.

Pihaknya bersama petugas kelurahan telah menurunkan sejumlah bagian bangunan yang mengalami kerusakan.

Hal ini dilakukan agar tidak membahayakan pengguna jalan.

Baca juga: Potret Wapres Gibran di Boyolali: Berangkat Jumatan Pakai Sandal Jepit

“Kondisinya saat ini memprihatinkan. Yang kami khawatirkan, sirapnya masih menempel pada penyangga atau tidak. Kami meminta izin BPK Wilayah X karena foto dan video sudah kami kirimkan. Kemudian diizinkan untuk dilakukan pembongkaran pada bagian yang membahayakan keselamatan, dengan catatan harus didokumentasikan, dan itu sudah kami kirimkan,” jelasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, Maretha Dinar Cahyono, saat ini tengah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk melakukan penanganan lebih lanjut.

Ia memperkirakan kerusakan mencapai 50–70 persen.

“Koordinasi dengan wilayah terkait seperti apa penanganannya. Kami juga koordinasi dengan DPUPR terkait rehabilitasi ke depan. Kami memfasilitasi teknis penanganan cagar budaya, apakah nanti ada anggaran yang dialokasikan atau diambilkan dari dana hibah. Sekitar 50–70 persen jika dilihat dari lapuknya kayu,” terangnya. (*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.