Jakarta -
Pohon unik berkaki delapan di Situ Sangiang, Majalengka jadi sorotan. Simak fakta, asal-usul, dan mitos yang dipercaya masyarakat di balik fenomena langka itu.
Masih ingat dengan fenomena pohon berkaki delapan di Majalengka yang sempat menghebohkan warga? Pohon ini termasuk dalam jenis pohon nunuk yang memiliki delapan kaki, berada di kawasan Situ Sangiang.
Keberadaan pohon ini sempat menghebohkan warga sekitar karena bentuknya yang tak lazim, memiliki delapan cabang kaki, yang menjulang ke atas dan membentuk satu batang pohon utama.
Melansir arsip informasi detikTravel, Sabtu (28/3/2026), pohon itu terletak di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka, pohon ini menjadi salah satu daya tarik wisata alam sekaligus cerita mistis yang berkembang di tengah warga.
Menurut Diding Jaenudin, tokoh masyarakat di Desa Sangiang, pohon itu sudah diprediksi sudah berusia ratusan tahun dan menjadi salah satu pohon tua yang hidup di kawasan tersebut.
Mitos Pohon Nunuk Berkaki Delapan
Di balik keunikan bentuknya, pohon nunuk juga lekat dengan berbagai mitos yang berkembang di tengah masyarakat. Cerita-cerita ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kepercayaan lokal yang masih dipercaya hingga saat ini.
Salah satu mitos yang paling dikenal adalah keyakinan bahwa kulit pohon tersebut memiliki khasiat khusus, terutama dalam urusan rumah tangga.
Konon, kulit pohon nunuk dipercaya dapat membantu mendatangkan keharmonisan dalam hubungan suami istri, bahkan diyakini mampu mengatasi persoalan seperti konflik rumah tangga hingga isu poligami.
Pohon Berkaki Delapan di Majalengka (Erick Disy Darmawan/detikJabar) |
Sebagian pengunjung yang percaya dengan mitos ini dengan sengaja mengambil atau mengelupas kulit pohon untuk dijadikan jimat, dengan harapan memperoleh manfaat sesuai dengan mitos yang beredar.
Praktik itu dilakukan secara diam-diam maupun terang-terangan, dan dalam beberapa kasus dianggap sebagai bagian dari "ritual" pribadi oleh mereka yang mempercayainya.
Pohon Berkaki Delapan di Majalengka (Erick Disy Darmawan/detikJabar) |
Namun di sisi lain, berkembangnya mitos tersebut justru membawa dampak negatif terhadap kondisi fisik pohon. Kulit pohon yang terus-menerus dikelupas menyebabkan bagian batang menjadi rusak, bahkan berpotensi mengganggu kesehatan dan pertumbuhan pohon itu sendiri.
Jika dibiarkan, kerusakan ini bisa semakin parah dan mengancam kelestarian pohon yang sudah berusia ratusan tahun tersebut.
Diding menjelaskan bahwa masyarakat sekitar yang mengelola kawasan Situ Sangiang berupaya melakukan perbaikan dengan memasang isian batang pohon dengan bambu. Untuk menjaga kelestarian pohon, pengelola juga memasang peringatan bagi pengunjung agar tidak mengambil kulit pohon tersebut.
Faktor Fenomena Alam
Fenomena pohon berkaki delapan ini juga memunculkan berbagai pertanyaan terkait penyebab kemunculannya. Di balik kesan mistis yang berkembang di masyarakat, fenomena ini sejatinya dapat dijelaskan secara ilmiah sebagai bagian dari proses alami pertumbuhan pohon.
Berdasarkan pengamatan terhadap struktur pohon, terdapat dugaan bahwa pohon tersebut bukanlah satu pohon tunggal yang sejak awal tumbuh di lokasi Situ Sangiang. Kemungkinan besar, pohon ini berawal dari satu pohon utama yang kemudian "ditumpangi" oleh pohon lain, dalam hal ini pohon nunuk, yang tumbuh menempel pada pohon inangnya.
Fenomena seperti ini sebenarnya cukup umum terjadi di alam, khususnya pada jenis pohon seperti nunuk atau beringin yang memiliki kemampuan tumbuh sebagai epifit, yakni tumbuh di atas pohon lain.
Pohon Berkaki Delapan di Majalengka (Erick Disy Darmawan/detikJabar) |
Seiring waktu, pohon nunuk tersebut akan mengeluarkan akar-akar yang menjulur ke bawah hingga mencapai tanah. Akar-akar ini kemudian menguat dan berkembang menjadi batang baru, sehingga secara visual tampak seperti satu pohon besar dengan banyak "kaki".
Diding dan masyarakat sekitar menduga bahwa selain faktor alami, tidak menutup kemungkinan adanya campur tangan manusia dalam membentuk tampilan pohon tersebut. Akar-akar yang menjuntai ke bawah diduga pernah diarahkan atau ditancapkan ke tanah oleh orang-orang yang merawat kawasan itu, dengan tujuan memperkuat struktur sekaligus menambah nilai estetika.
Terlepas dari bagaimana proses terbentuknya, baik secara alami maupun dengan bantuan manusia, pohon nunuk berkaki delapan ini kini telah menjadi simbol kebanggaan bagi masyarakat setempat.
Keunikannya tidak hanya menarik perhatian wisatawan, tetapi juga memperkaya cerita dan identitas lokal Desa Sangiang.


