Jakarta -
Kondisi restoran yang semakin ramai membuat pemiliik restoran ini menolak untuk diviralkan. Bahkan dirinya meminta agar para influencer tidak datang dan memberi ulasan dengan sejujur-jujurnya.
Pemilik bisnis kuliner mungkin senang jika gerainya ramai dikunjungi pelanggan. Hal tersebut juga akan membantu meningkatkan pendapatan mereka. Namun tidak selamanya hal seperti ini menyenangkan.
Banyak juga pemilik bisnis kuliner yang menolak usahanya diviralkan agar pengunjung yang datang tidak semakin membludak. Pasalnya di sisi lain, lonjakan pengunjung tersebut bisa membebani operasional, seperti menyebabkan pelayanan lambat, kualitas makanan menurun, sampai merusak reputasi usaha kuliner jika memang tidak dikelola dengan manajemen yang matang.
Contohnya restoran sup ayam di Foshan, Provinsi Guangdong, China yang menolak viral. Pasalnya baru-baru ini restoran tersebut menarik pengunjung dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Restoran tersebut pernah menerima lebih dari 200 rombongan yang mana membuat pelanggan perlu menunggu lebih dari tiga jam, lapor South China Morning Post (13/4).
Pada dasarnya restoran ini menawarkan hidangan sup ayam yang diracik dengan ramuan pengobatan tradisional China. Tetapi bukan itu alasan mengapa restoran ini viral. Alasan utamanya karena pemiliknya yang seringkali menolak untuk diviralkan.
Sikapnya tersebut bukannya membuat pelanggan kesal, melainkan justru membuat restoran semakin ramai.
Penjual ini menolak agar restorannya diviralkan karena kondisi yang sudah terlalu ramai. Foto: scmp.com / Sina |
Pemilik warung bermarga Mo itu juga berusaha sekuat tenaga menghentikan kunjungan para food vlogger atau influencer untuk mempromosikan bisnisnya.
Mo memberitahu pelanggan bahwa hidupnya akan menjadi sulit jika di dalam video, para food vlogger tersebut membuat restoran ini layak dikunjungi karena makanannya lezat. Ia juga secara khusus meminta food vlogger atau influencer untuk tidak menyombongkan diri.
Berbeda dengan kebanyakan pemilik bisnis yang ingin restorannya diberi ulasan baik, Mo Tidak. Mo ingin para food vlogger memberi ulasan jujur dengan menyebutkan kemungkinan risiko yang dihadapi pengunjung saat makan di sini.
"Para pengunjung yang bersantap di restoran ini mungkin akan mendapati kotorannya lebih lembek atau encer, ini adalah fenomena normal," bunyi pemberitahuan di restoran tersbeut.
Pemberitahuan itu juga menegaskan bahwa efek tersebut mungkin timbul dari ramuan alami yang ditambahkan ke dalam sup. Tujuan sebenarnya untuk membantu menghilangkan kelembapan tubuh. Selain itu, Mo juga memperingati bahwa wanita hamil tidak boleh meminum sup ayam racikannya itu.
Popularitas tinggi membuat restoran ini terpaksa memperpanjang jam buka untuk mengakomodasi lonjakan pelanggan.
Tampaknya kondisi restoran yang ramai memang membuat Mo kesulitan. Putri Mo sempat mengunggah video ketika ayahnya pingsan di restoran karena kelelahan saat sedang memebersihkan resto suatu malam.
Karena omongan Mo, akhirnya restoran ini dijuluki sebagai 'restoran yang paling tidak ingin terkenal'. Mo juga dijuluki sebagai 'pemilik restoran paling malas.'
Bahkan pemilik restoran ini tidak ingin influencer untuk datang dan mengulas restorannya. Foto: scmp.com / Sina |
Tidak sekadar FOMO, beberapa pelanggan yang berniat datang ke restoran ini juga memiliki tujuan jelas. Mereka ingin menikmati sup tersebut karena ingin menghilangkan kelembapan yang dianggap sebagai hal penting ketika berada di kimlim Guangdong yang lembap dan lengket.
Sikap Mo terhadap banyak pelanggan memicu beragam kritik.
Seorang netizen merasa Mo, sebagai pemilik restoran, seharusnya tidak bersikap seperti itu.
"Tidak diterima, dan tidak ada yang bisa saya lakukan untuk Anda," ujar netizen ini.
"Ada pepatah tradisional Tiongkok yang mengatakan 'Good wine needs no bush'(suatu yang berkualitas tinggi tidak perlu dipromosikan berlebihan), yang sangat menggambarkan keengganan pemiliknya," ujar netizen lain.

