TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Setiap harinya Vica Acnia Pratiwi (24) menggunakan jasa KRL Commuter Line.
Dari rumahnya di Bekasi, Vica memacu sepeda motor menuju Stasiun Telaga Murni.
Di sana insinyur muda ini menitipkan motornya.
Lalu melanjutkan perjalanan menuju kantornya di Jakarta membelah kemacetan ibu kota menggunakan jasa angkutan umum KRL Commuter Line.
Vica adalah sosok pejuang keluarga.
Lulusan Teknik Elektro Universitas Negeri Lampung ini baru lima bulan meniti karier di sebuah perusahaan di Tebet, Jakarta Selatan.
Di KRL malam itu, Vica menghembuskan nafas terakhir.
"Semua pasti kembali ke takdir," demikian Nazarman ayahanda Vica merelakan kepergian sang putri tercinta saat ditemui di rumah duka kemarin.
Vica adalah satu dari 16 korban meninggal dunia akibat kecelakaan tragis dua kereta di Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek itu juga mengakibatkan sedikitnya 90 orang terluka.
Korban lainnya adalah seorang guru SD bernama Nurlaela (37).
Nurlaela berstatus sebagai ASN Guru di SDN Pulo Gebang 11, Jakarta Timur.
Paman korban bernama Mulyadi menyebut Nurlaela memang rutin menggunakan transportasi KRL untuk berangkat mengajar.
Dia juga mengenal Nurlaela sebagai sosok yang pekerja keras dan pendiam.
Atas jasanya Badan Kepegawaian Negara (BKN) menaikkan pangkat anumerta dan pemberian hak pensiun bagi Nurlaela (37).
Baca juga: Kakak Suka Bilang Pengen Dikasih Bunga, Sekarang Bunganya Banyak Datang ke Rumah
Tutik Anitasari (31) satu korban meninggal lainnya.
Dia adalah warga Perum Depsos, Blok D3 Nomor 2, Telagaasih, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.
Tutik meninggalkan seorang suami bernama Aji dan anaknya yang masih usai satu tahun empat bulan.
Tutik dan suami sama-sama bekerja.
Suami Tutik bekerja di pabrik kawasan Industri MM2100 Cikarang Barat. Sementara Tutik merupakan pegawai kecantikan di wilayah Tebet, Jakarta.
Tutik dan suaminya pekerja keras untuk menghidupi kebutuhan keluarga.
"Kadang malau lewat saat berpapasan suka nyapa. Karena kan dia berangkat 06.00, kalau pulangnya jam 10 malam," ujar Suprapto, tetangga korban.
Selama Tutik dan suaminya bekerja, anaknya yang usai 1 tahun lebih itu dititipkan oleh mertuanya. Sebab, mertua laki-laki dan perempuannya tinggal bersama satu rumah.
"Anaknya nangis terus soalnya kan memang masih konsumsi ASI (Air Susu Ibu) ya. Kalau kerja juga katanya suka stok ASI dulu di rumahnya," kata dia.
Sehari-hari Tutik menggunakan jasa KRL Commuter Line untuk berangkat ke tempat kerjanya di Tebet.
Nur Ainia Eka Rahmadhyna atau Ain (32) termasuk satu diantara korban meninggal dunia.
Suasana duka menyelimuti kediaman Karyawan Kompas TV ini. di Griya Asri 2 Blok H 14, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Ain dikenal sebagai pekerja keras hampir setiap hari berangkat dari rumahnya di Bekasi menuju Jakarta menggunakan jasa KRL Commuter Line.
Perempuan berusia 32 tahun itu dikenang sebagai pribadi yang peduli dan penuh kasih.
Sebagai anak sulung, Ainia juga menjadi tulang punggung keluarga setelah sang ayah pensiun.
Ia kerap membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk keperluan pendidikan adik-adiknya.
"Membantu, sangat membantu orang tua, bisa dibilang gitulah, tulang punggung. Karena ayahnya sudah kebetulan pensiun," ucap Hary, keluarga korban.
Korban meninggal yang paling terakhir ditemukan adalah Mia Citra.
Perempuan berusia 27 tahun itu merupakan warga Perumahan Mangun Jaya Lestari 2, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Ia bekerja di Jakarta Timur.
Setiap hari, Mia menggunakan KRL sebagai transportasi utama.
Komisioner Komnas Perempuan, Yuni Asrianti, menekankan bahwa dampak tragedi ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menghantam keberlangsungan hidup keluarga korban.
"Banyak korban berada dalam usia produktif, yang merupakan bagian dari tulang punggung ekonomi keluarga. Oleh karena itu, suara dan kebutuhan perempuan korban harus menjadi pusat dalam setiap proses pemulihan dan pengambilan kebijakan," ujar Yuni dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).
Komnas Perempuan mendorong pemulihan korban dilakukan secara komprehensif dan responsif gender yang mencakup layanan kesehatan, rehabilitasi fisik dan psikologis, bantuan hukum, kompensasi, hingga jaminan keberlanjutan hidup.
Hal ini terutama bagi perempuan yang kehilangan pekerjaan atau menjadi pencari nafkah utama.
Komisioner Komnas Perempuan Chatarina Pancer Istiyani, menegaskan negara wajib menjamin keselamatan transportasi publik, khususnya bagi masyarakat pekerja yang bergantung pada moda tersebut.
"Tidak boleh ada kompromi terhadap standar keselamatan, terlebih pada moda transportasi yang menjadi tumpuan mobilitas harian masyarakat," kata Chatarina.
Ia juga menilai kecelakaan ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan bagian dari persoalan struktural, termasuk keterbatasan infrastruktur dan sistem keselamatan perlintasan yang masih manual di banyak titik.
Sumber: Tribunnews.com/Kompas.TV/Warta Kota
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.