TRIBUNNEWS.COM - Dokter muda bernama Myta Aprilia Azmya meninggal dunia pada Jumat (1/5/2026) lalu saat menjalani tugas sebagai dokter magang di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.
Sebelum meninggal dunia, Dokter Myta ternyata sudah mengeluh sakit sejak 26 Maret 2026 lalu.
Hal ini diketahui dari voice note atau pesan suara yang diperdengarkan dalam konferensi pers oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Kamis (7/8/2026) kemarin.
Adapun voice note ini dikirimkan dokter Myta ke rekannya yang juga sama-sama berstatus sebagai dokter magang.
Pelaksana Tugas (Plt) Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata Saputra, mengungkapkan keluhan kesehatan muncul ketika Dokter Myta tengah menjalani statse di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Kuala Tungkal.
Rudi mengatakan meski mengeluh sakit, Dokter Myta tetap menjalankan tugasnya di IGD.
"Di tanggal 26 Maret, ketika menjalani stase IGD tadi di Kuala Tungkal, Dokter MAA ini merasakan gejala penyakit dan tetap bertugas di UGD. Kemudian yang bersangkutan menjalani pengobatan mandiri," jelas Rudi.
Dia mengatakan kondisi sakit terus dirasakan Dokter Myta hingga 31 Maret 2026.
Namun, kata Rudi, Dokter Myta tidak melaporkan keluhannya kepada dokter pendamping.
"Keluhan ini terus berlanjut di tanggal 31 Maret 2026, yang bersangkutan juga masih kondisinya demam batuk pilek ya, dan jaga malam. Selepas jaga malam yang bersangkutan nanti ada, minta untuk diinfus, nanti kita akan lihatkan videonya."
"Dan Dokter MAA tidak melaporkan kondisinya kepada dokter pendamping. Jadi selama isip (internship) ini setiap peserta isip akan didampingi oleh satu orang pendamping," jelasnya.
Baca juga: Kemenkes Temukan Indikasi Awal Dokter Myta Kelebihan Jam Kerja di RSUD Kuala Tungkal Jambi
Setelah adanya penjelasan dari Rudi, pihak Kemenkes lantas memperdengarkan voice note dari Dokter Myta yang dikirimkan ke rekannya.
Total ada empat voice note dari Dokter Myta, di mana dikirimkan pertama kali pada 1 April 2026.
Dalam voice note pertama, Dokter Myta mengeluh karena merasakan demam tinggi hingga sulit membuka mata.
Namun, Dokter Myta masih enggan untuk istirahat dan lebih memilih untuk meminum obat.
"Kok kelihatan sakit nian gitu. Iyo, bang, Myta bilang kan, baatu pilek, bang, demam, panas nian. Eh, silau, ndak bisa buka mato gitu kan. Dicubunyolah Bang tuh, uh panas nian katonyo jam 12-an tuh ya."
"Ini 40-an ini katonyo. Inject dia lah, Bang. Udah, udah bang. Bang inject inject. Ndak usah, bang. Kato Myta sakit. Myta takut gitu kan. Ndak, ndak, ndak. Inject, inject, inject. Ambil lah dulu ini, ini katonyo. Ndak usah, bang, minum obat bae 'ya sudah, minumlah PCT 1000 mili gitu kan. Dikasihlah 1000 mili," kata Myta dalam voice note tersebut.
Selanjutnya, dalam voice note kedua yang diperdengarkan, Myta mengeluhkan kondisinya yang terasa panas saat bernafas hingga membuatnya mual.
"Napas aku panas. Panas. Hidung aku panas, semua hal ini nih panas. Sepanas itu, Ren memang. Tapi aku menggigil. Minumlah, minum kato abang tuh. Buka bae maskernyo. Aku make masker kan, aku batuk pilek kan, takut bae gitu kan. Buka bae eh biar napasnyo enak, minum."
"Mual, bang. Nak muntah gitu. Ya sudah aku ambilkan dio obat, diambilnyo obat, dia lansoprazole biaso sih memang," ujar dokter Myta.
Lalu pada voice note ketiga yang diperdengarkan, Dokter Myta mengeluh kondisinya yang lemah saat harus tetap menjalani tugas jaga malam di rumah sakit.
Dia juga menyebut, dalam kondisi itu, banyak pasien yang masuk. Dokter Myta pun mengaku tidak enak dengan rekan lainnya karena harus berisitrahat saat bertugas buntut kondisi kesehatannya.
"Sudah mendingan. Tapi mati nian Ren, perasaan tuh kayak mati nian. Malam itu tuh, sampai jam dua ini inject, inject. Inject, inject, inject itu disuruh tidur di dalam. Aku ndak mau kan. Karena kayak ya segan bae abang tuh di situ gitu kan. Abis itu sampai jam dua sekianan tuh, pasien itu kan banyak ren."
"Maksudnya itu, ada yang masuk lagi. Duh nak konsul, jelek kali loh. Pasien aku pun yang jelek itu tuh, jadi dipegang Bang David gitu kan. 'Bang pokoknya selama ada space waktu aku selalu bilang 'bang maaf ya bang, bang makasih ya bang gitu. Dia yaudah ndakpap istirahatlah kata abang tu," kata Dokter Myta.
Setelah itu, Rudi menjelaskan Dokter Myta masih bertugas pagi pada 11-12 April 2026 di IGD meski dalam kondisi sakit.
Kemudian, pada 13 April 2026, Dokter Myta pun dirawat dengan dipasangi infus. Adapun pada hari itu bertepatan dengan yang bersangkutan berulang tahun.
"Jadi dokter MAA merayakan ulang tahunnya dengan kondisi pasca jaga malam dengan tangan terinfus, kondisi yang tadi masih ada keluhan demam batuk pilek ininya," jelasnya.
Selanjutnya, pihak Kemenkes kembali memperdengarkan voice note dari Dokter Myta pada 15 April 2026 yang berisi permintaan kepada rekannya agar mau menggantikannya untuk berjaga karena kondisinya yang begitu lemah.
Dalam voice note tersebut, Dokter Myta terdengar berbicara seperti bernafas dengan sesak.
"Astri, aku mau minta tolong... Hmmm, mau minta tolong. Jadi kalau dari jadwal kan Astri ini ya, apa, libur, ndak sih? Libur, ndak sih? Aku... mau minta tolong gantiin jadwal aku, yang pagi ini."
"Kalau misal... kamu...bisa... hari ini aja. Nanti yang malam biarlah Rena nanti yang gantiin... Kalau yang aku sih kayak... Enggak kuat, Astri," kata Dokter Myta.
Baca juga: Dokter Magang di Jambi Meninggal Janggal, Diduga Ada Pelanggaran hingga Kelalaian Medis
Rudi menuturkan rekan Dokter Myta pun bersedia untuk menggantikannya terkait jadwal jaga.
“Ya, selanjutnya berdasarkan informasi keterangan dari rekannya, dokter A ini bersedia menggantikan dokter MAA untuk jaga di IGD,” jelasnya.
Rudi pun menjelaskan, berdasarkan investigas yang telah dilakukan oleh Kemenkes, ada temuan di mana Dokter Myta mengalami beban kerja berlebih.
Dia mengatakan dokter pendamping yang mendampingi dokter magang seperti Myta menutupi fakta tersebut.
Dalam konferensi pers tersebut, pihak Kemenkes memperlihatkan bukti dalam layar yang memperlihatkan tangkapan layar chat yang berupa instruksi dari dokter pendamping utnuk mengubah ketentuan shift jaga di IGD.
"Coba aku lihat jadwal," kata J (dokter pendamping).
"Baik dokter, jadwalnya di laptop, saya ambil dulu," balas salah satu dokter magang.
"Kalau bisa jadwal diedit buat yang tiga shift yang di IGD," kata J.
"Kalau mau diedit agak lama dokter," jawab dokter magang.
Rudi mengungkapkan adanya instruksi semacam itu demi memunculkan pandangan bahwa jadwal jaga relatif normal.
Dia mengatakan temuan itu lantas dikonfirmasi ke Dokter J. Namun, dokter tersebut banyak berkilah seperti mengaku tidak mengetahui pedoman batas jam kerja.
Temuan lain juga memperlihatkan bahwa manipulasi jadwal turut dilakukan dengan cara memaksa sejumlah dokter magang untuk menandatangani perjanjian tersebut demi menyiratkan agar keputusan itu berdasarkan keputusan bersama.
Tak cuma itu, Kemenkes juga menemukan bahwa dokter magang kerap dibebani tugas berlebih dan bahkan yang bukan kewenangannya.
Rudi mengungkapkan salah satu alasannya agar dokter magang bisa menyerap banyak ilmu ketika langsung menangani pasien.
"Jadi selama bertugas di stase IGD, terutama malam hari, ini ada oknum dokter berdasarkan keterangan yang kami dapatkan, ini yang lebih mengandalkan ke dokter peserta internship, untuk menangani pasien dengan alasan agar lebih banyak belajar," tuturnya.
Baca juga: Soroti Jam Kerja hingga Cuti, Ini 4 Evaluasi Menkes usai Dokter Internship Meninggal di Jambi
Rudi juga menyebut adanya bukti di mana dokter pendamping justru kerap absen dari ruang jaga seperti makan hingga merokok di kantin.
"Kemudian ada juga (dokter pendamping) yang memang istirahat tidur di kamar jaganya, itu berdasarkan keterangan yang kami dapatkan.
Selain itu, adapula temuan di mana dokter magang tidak memperoleh tunjangan yang jelas.
Rudi menutrukan berdasarkan perjanjian, para dokter magang bakal menerima biaya pengganti kost selama 12 bulan. Namun faktanya hanya dibayarkan lima bulan.
"Namun berdasarkan keterangan yang kami dapatkan, pernah diberikan uang sebesar Rp1,7 jutaan untuk penggantian biaya kos selama lima bulan. Tapi yang janjikan sebetulnya oleh pihak rumah sakit itu ada sampai 12 bulan biaya mengganti kos," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kemenkes, Yuli Farianti mengatakan berdasarkan temuan yang ada, dokter pendamping terancam akan dibekukan izin praktiknya hingga surat tanda registrasi oknum dokter.
"Pendamping memadatkan jadwal, tidak ada waktu istirahat, tujuh hari itu dia selalu masuk," kata Yuli.
Yuli menyebut pihaknya juga menyoroti soal fasilitas yang diterima dokter magang di RSUD KH Daud Arif yang tidak memadai.
"Satu lagi yang sebenarnya ada di dalam pedoman, wahana menyiapkan ruang jaga yang memadai. Rupanya di RSUD Kuala Tungkal, dokter organik tidur di atas, dokter internshipnya tidur di bawah," jelasnya.
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.