TRIBUNNEWS.COM - Seorang siswa kelas 1 SD di Kecamatan lenek, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) meninggal dunia setelah diduga meniru aksi freestyle atau gaya bebas dari sebuah game online.
Aksi freestyle ini ramai di media sosial dilakukan anak-anak dengan meniru gerakan ekstrem handstand atau berdiri dengan tangan yang dilakukan oleh karakter di dalam game secara tidak aman.
Gaya freestyle ini menirukan gaya push-up dengan kaki di atas yang kadang dilakukan di sela-sela waktu bermain, bahkan beberapa waktu lalu viral dilakukan saat sujud dalam shalat.
Dan benar saja, seorang siswa kelas 1 SD yang menirukan gaya tersebut dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (3/5/2026) lalu setelah menirukan gaya ini secara tak aman.
Sebelum dilaporkan meninggal dunia, korban yang berinisial HIW ini sempat mendapat perawatan di rumah sakit.
Wali Kelas Korban, Sakiatun Nisa menceritakan, korban sempat tak masuk sekolah karena demam dan sakit kepala.
"Dia demam, dia sakit kepala dikasih minum obat sama nenek. Dia (kakak korban) bilang gitu," ujar Nisa sambil menirukan kakak korban yang duduk di bangku kelas 5.
Satu minggu setelah mendapatkan kabar korban sakit, Nisa mendapatkan informasi bahwa korban masuk rumah sakit.
Nisa mengaku sempat diperbolehkan menjenguk karena korban berada di ICU, namun akhirnya hanya bisa melihat dari luar pintu kaca saja.
"Ketika saya lihat biasa saja rupa wajahnya, cuma kepalanya saja yang dibalut perban, tangannya pakai infus," lanjut Nisa, dikutip dari tayangan Saksi Kata di Youtube Tribun Lombok.
Seminggu berlalu, korban sudah boleh pulang dari rumah sakit, namun masih belum berangkat sekolah.
Baca juga: Bocah SD di Lombok Tewas setelah Ikut Tren Freestyle, Ini Penjelasan Sekolah
Saat Nisa bertanya pada kakak korban kenapa adiknya tak masuk sekolah, sang kakak mengatakan bahwa korban hanya berbaring di kasur dan sesekali bangun, namun hanya bersandar di tembok saja.
Tak lama dari ia mendapatkan informasi tersebut, korban ternyata hendak masuk rumah sakit lagi untuk operasi.
Nahas, sebelum operasi nyawa korban tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.
"Nah, setelah lama karena kegiatan di sekolah banyak, saya tanya lagi penjaga sekolah, karena dia sering ke sana (mengunjungi korban), 'Ee Pak Ris, bagaimana keadaannya?',"
"'Mau dioperasi lagi, Bu Guru?,' dia (penjaga sekolah) bilang begitu,"
"Ternyata di operasi yang kedua ini dia (korban) meninggal dunia," ujar Nisa.
Nisa menambahkan, aksi diduga freestyle tersebut dilakukan oleh korban di luar lingkungan sekolah.
"Kejadiannya di rumah. Dan itu pun di rumah kayaknya sudah lama," kata Nisa.
Korban dan kakaknya hanya tinggal bersama neneknya di rumah karena orang tuanya merantau untuk mencari nafkah.
NIW menurut Nisa merupakan sosok siswa yang tak neko-neko apabila berada di lingkungan sekolah.
Pihak sekolah baru mengetahui fakta terkait meninggalnya NIW ini karena freestyle setelah kasusnya viral di media sosial.
"Nggak pernah kita dengar dulu-dulu cuman setelah viral ini lah baru kita lihat gambarnya di internet. Oh, ternyata freestyle itu begini. Karena gak pernah kita lihat di murid kita," pungkasnya.
Terpisah, Kapolsek Lenek, Ipda Alam Primayogi mengonfirmasi tewasnya NIW.
"Korban masih duduk di kelas 1 SD, dan meninggal dunia pada 3 Mei kemarin. Namanya HIW. Dia meninggal setelah mempraktikkan aksi freestyle yang lagi viral," ujarnya, dikutip dari TribunLombok.com.
Ia menuturkan, korban sempat mendapatkan pertolongan medis, namun nyawanya tak tertolong karena mengalami benjolan di kepala.
Baca juga: Kode Redeem Free Fire Spesial Hardiknas 2 Mei 2026: Klaim Skin dan Luck Royale Ticket dari Garena
Menurutnya, fenomena aksi freestyle ini sedang marak ditiru oleh anak-anak melalui media sosial.
"Ada permainan daring yang menampilkan gerakan-gerakan ekstrem, dan itulah yang kemudian diikuti oleh anak-anak masa kini," jelas Yogi.
Ia pun mengimbau para orang tua untuk memperketat dalam mengawasi kegiatan anak, terutama dalam penggunaan ponsel.
Pihak sekolah juga diimbau untuk memberikan edukasi terkait bahaya gerakan freestyle ini.
"Kami himbau kepada masyarakat untuk tetap mengawasi anak-anak kita dengan keta entah itu di rumah maupun di Sekolah," tutupnya.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunLombok.com, Rezi Anwar)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.