TRIBUNCIREBON.COM - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ikut menyoroti kasus pembunuhan satu keluarga di Kelurahan Paoman, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Ia bahkan sampai mengadakan sayembara berhadiah Rp750 juta bagi yang berhasil menemukan Aman Yani, sosok yang dituding oleh terdakwa sebagai otak intelektual di kasus pembunuhan tersebut.
Keberadaan Aman Yani kini menjadi kunci krusial dalam pengungkapan kasus pembunuhan berantai satu keluarga Haji Sahroni pada 29 Agustus 2025 lalu.
Sejumlah kejanggalan hukum dan dorongan rasa keadilan membuat Dedi Mulyadi rela menggelontorkan dana pribadi dalam jumlah besar.
Alasan utama Dedi Mulyadi adalah untuk menghentikan saling lempar tanggung jawab di dalam persidangan.
Melalui unggahan Instagramnya pada Rabu (20/5/2026), KDM sapaan akrabnya kembali mengundang adik dari Aman Yani, Titi.
"Saya bertemu dengan adiknya Pak Aman Yani yang hari ini (Aman Yani) tidak ada. Tidak adanya apakah tidak ada itu ada tapi tidak bisa dilihat atau memang sudah meninggal dunia," ujar Dedi Mulyadi dilansir dari Instagram pribadinya, Kamis (21/5/2026), dikutip dari Tribun Sumsel.
Untuk mempermudah proses pencarian, Titi juga memperlihatkan foto wajah sang kakak.
"Begini deh karena Pak Yani ini sosok yang misterius ada bahkan sempat disebut sebagai otak pelaku pembunuhan keluarga Budi atau Sahroni oleh Ririn,"
KDM menyatakan tidak mempermasalahkan apakah Aman Yani ditemukan dalam kondisi hidup atau sudah meninggal dunia.
"Yang pertama, apabila Pak Aman Yani masih ada di Indonesia atau di luar negeri, Bapak tahu sudah ada pengakuan dari Bapak pengacara Khotib, bahwa dana pensiun Bapak diambil oleh Ririn dan pengakuannya ada tanda tangan kuasa dari Bapak walaupun si pemberi kuasa dan yang diberi kuasa tidak bertemu. Ini peristiwa paling aneh," tuturnya.
Baca juga: Dedi Mulyadi Naik Kuda, Ribuan Warga Padati Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Cirebon
Sayembara Rp750 Juta
Guna memancing Aman Yani keluar dari persembunyiannya (jika masih hidup), KDM bahkan berjanji akan menyerahkan uang Rp750 juta itu langsung kepada Aman Yani jika ia mau pulang dan menemui keluarganya di Desa Penganjang, Sindang, Indramayu.
"Bapak balik deh kalau masih ada. Itu dana pensiun yang kemarin Rp400 juta, saya tambahin jadi Rp750 juta deh, saya kasih buat Bapak asalkan Bapak balik," ucap KDM.
"Sekarang balik ke rumah di Indramayu temui istri, anak-anak dan keluarga walaupun istrinya sudah menjadi mantan," sambungnya.
Selain itu, KDM secara terbuka menggelar sayembara dengan nilai fantastis bagi siapa saja yang bisa menemukan Aman Yani, baik dalam kondisi hidup maupun mati.
"Kalau ada yang menemukan Pak Aman Yani, saya kasih juga Rp750 juta. Silakan bawa Bapak Aman Yani balik ke Indramayu. Itu pesan saya untuk semua," katanya.
Ia berharap dari sayembara ini dapat menuntaskan kasus pembunuhan yang menimpa Haji Sahroni dan empat keluarganya.
Ia tidak peduli apakah Aman Yani masih hidup atau sudah meninggal dunia.
KDM menilai, selama Aman Yani tidak dihadirkan, kasus pembunuhan yang menewaskan Haji Sahroni, Budi, Euis Juwita Sari, dan dua bayi mungil ini akan terus menjadi benang kusut tanpa ujung yang jelas.
Di sisi lain, hal lain yang disoroti tajam oleh Dedi Mulyadi adalah adanya aroma konspirasi ekonomi di balik hilangnya Aman Yani.
KDM mencium keanehan di mana dana pensiun Aman Yani sebesar Rp400 juta tetap bisa dicairkan oleh Ririn pasca-hilangnya Aman Yani pada 2016 silam.
"Ada pengakuan dari Bapak pengacara Khotib, bahwa dana pensiun bapak diambil oleh Ririn. Pengakuannya ada tanda tangan kuasa dari bapak, walaupun si pemberi kuasa dan yang diberi kuasa tidak bertemu. Ini peristiwa paling aneh," ujar Dedi Mulyadi, dikutip dari Instagram pribadinya, Kamis (21/5/2026).
Bagi KDM, munculnya Aman Yani akan langsung membuktikan apakah surat kuasa tersebut asli atau merupakan bagian dari pemalsuan dokumen yang disengaja.
Dedi Mulyadi menegaskan dalam kasus pembunuhan sadis yang merenggut nyawa anak-anak dan bayi, keadilan tidak boleh ditawar.
KDM tidak ingin ada pelaku utama yang melenggang bebas di luar sana, atau sebaliknya, ada orang yang dijadikan tumbal atas kejahatan orang lain.
Mengingat Aman Yani memiliki rekam jejak kelam pernah membuat rugi Bank BJB puluhan miliar akibat kasus Kredit Usaha Rakyat (KUR) fiktif sebelum hilang.
KDM merasa karakter dan keberadaan pria ini harus dipastikan demi hukum.
Nyanyian Terdakwa di Persidangan
Sebelumnya, duduk perkara menjadi pelik ketika kasus ini bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Indramayu.
Terdakwa Ririn Rifanto berontak dan membantah dirinya adalah pelaku utama.
Selain itu, saat tengah diseret petugas itu, Ririn juga mengaku dipaksa mengakui perbuatan agar menjadi tersangka.
Ririn mencatut nama Aman Yani dan menudingnya sebagai otak atau dalang utama di balik aksi pembunuhan tersebut.
"Saya bukan pelakunya, Pak, saya bukan pelakunya. Pak Aman Yani, Yoga, Joko, Hardi (pelakunya)," teriak Ririn Rifanto.
Ririn sendiri merupakan keponakan dari istrinya Aman Yani.
Terdakwa lainnya, Priyo, dalam persidangan juga sempat membacakan kronologi versi tulisan tangannya.
Ia mengaku awalnya bertemu Aman Yani di kawasan Kuliner Cimanuk (Kulcim).
Di sana, Priyo diklaim ditawari pekerjaan menagih utang oleh Aman Yani dan diminta mengantarkan palu besi kepada eksekutor lain.
Namun, dalam dinamika sidang terbaru, Priyo sempat meralat kesaksiannya dan mengaku ia membantu Ririn, sementara publik menduga ada skenario kebohongan yang saling lempar.
Kejanggalan semakin menebal ketika diketahui bahwa meski Aman Yani hilang sejak 2016, ada aktivitas hukum terkait urusan utang-piutang dan pencairan dana pensiun miliknya pada Oktober 2017 yang melibatkan kuasa hukum dan nama Ririn.
Hal inilah yang membuat pihak Bank BJB akhirnya ikut melaporkan perkara ini ke kepolisian untuk memperjelas status keberadaan mantan pegawainya itu.
Menurut keterangan keluarga, pada 2016 silam, Aman Yani sempat pamit ke keluarga untuk pergi ke Bandung membuka usaha.
Namun, sejak saat itu, ia menghilang tanpa jejak.
Pihak keluarga bahkan sudah berupaya mencari hingga menyebarkan informasi kehilangan orang di media sosial, namun hasilnya tetap nihil.
Hingga akhirnya kasus pembunuhan satu keluarga ini terjadi pada Agustus 2025 lalu.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.