Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Mahasiswa Magister (S2) dan Doktor (S3) Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Nusa Cendana (Undana) mendapatkan pelajaran berharga tentang potensi besar industri garam nasional saat melakukan kuliah lapangan di Pulau Madura, Jawa Timur, pada 28 - 30 Mei 2026.
Dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026) disebutkan, sebanyak 12 mahasiswa bersama dosen pendamping Dr. Yulianus Paonganan, S.Si., M.Si. dan Dr. Ir. Alfred O.M. Dima, M.Si. mengunjungi kawasan produksi garam PT Garam Nasional Area Sumenep I serta Pabrik Garam Camplong di Kabupaten Sampang.
Kunjungan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung proses produksi garam, mulai dari pemompaan air laut hingga pengolahan menjadi garam konsumsi yang siap dipasarkan.
Di kawasan produksi Sumenep I, rombongan memperoleh gambaran mengenai skala besar industri garam nasional.
Baca juga: Undana dan Unwira Perkuat Kolaborasi, Teken MoU untuk Pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi
Air laut dipompa ke waduk produksi seluas sekitar 2.000 hektare dan membutuhkan waktu hampir satu bulan untuk mencapai tingkat kepekatan tertentu sebelum dialirkan ke meja kristalisasi.
Sekitar 500 hektare lahan digunakan sebagai area pembentukan kristal garam yang menjadi pusat produksi perusahaan.
Setiap musim produksi, kawasan tersebut mampu menghasilkan sekitar 65.000 ton garam bahan baku yang kemudian dipasok ke berbagai industri pengolahan garam di Indonesia.
Dr. Yulianus Paonganan mengatakan, selama ini garam sering dipandang hanya sebagai kebutuhan dapur, padahal memiliki nilai strategis bagi pembangunan ekonomi, kesehatan, industri, dan ketahanan pangan nasional.
"Selama ini belum banyak akademisi yang tertarik meneliti garam. Mungkin karena masyarakat memandang garam hanya sebagai penyedap rasa di dapur. Padahal garam memiliki nilai strategis yang sangat besar bagi pembangunan ekonomi, kesehatan, industri, hingga ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan garam dalam skala besar mampu menciptakan nilai ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
"Garam satu sendok terasa asin, tetapi kalau satu truk terasa manis. Artinya, ketika dikelola dalam skala besar, garam tidak lagi sekadar soal rasa, melainkan menjadi sumber kesejahteraan dan nilai ekonomi yang sangat besar," katanya.
Menurut Yulianus, kunjungan tersebut membuka wawasan mahasiswa mengenai peran garam sebagai bagian penting dari sistem industri nasional yang melibatkan aspek lingkungan, teknologi, ekonomi, dan kebijakan publik.
Ia juga menilai Universitas Nusa Cendana memiliki tanggung jawab untuk mendukung pengembangan sektor garam di Nusa Tenggara Timur yang memiliki garis pantai sekitar 5.700 kilometer serta sejumlah kawasan pengembangan garam nasional di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, Sabu Raijua, Timor Tengah Utara, dan Sumba Timur.
"Undana harus menjadi lokomotif pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi dalam pengembangan garam di NTT. Potensi laut kita sangat besar, tetapi masih membutuhkan dukungan riset, inovasi teknologi, dan kolaborasi multipihak agar memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat," ujarnya.
Di Pabrik Garam Camplong, mahasiswa mempelajari proses hilirisasi garam dari bahan baku hingga menjadi produk konsumsi yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Setiap batch produksi harus melalui pengujian laboratorium, termasuk kadar air, magnesium, dan natrium klorida.
Selain mempelajari proses produksi, tim akademisi Undana juga menyoroti potensi pemanfaatan air sisa kristalisasi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Dr. Alfred O.M. Dima mengatakan cairan dengan kandungan mineral tinggi tersebut dapat menjadi sumber bahan baku berbagai produk bernilai ekonomi melalui pendekatan ekonomi sirkular.
"Kita melihat ada peluang besar untuk menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam industri garam. Air sisa kristalisasi tidak semestinya hanya dibuang. Kandungan mineral di dalamnya masih sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi," katanya.
Menurut Alfred, limbah tersebut berpotensi diolah menjadi bahan baku minuman isotonik berbasis mineral laut, pupuk cair organik, magnesium, hingga bahan baku industri kimia.
Ia juga mengingatkan bahwa industri garam menghadapi tantangan perubahan iklim yang membuat pola musim semakin sulit diprediksi. Curah hujan di luar musim dapat mengganggu proses kristalisasi dan menurunkan produktivitas.
"Ke depan diperlukan teknologi tepat guna yang mampu menjaga proses kristalisasi tetap berlangsung optimal meskipun terjadi anomali cuaca. Adaptasi terhadap perubahan iklim bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan bagi industri garam nasional," katanya.
Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Lingkungan Undana memperoleh wawasan baru mengenai peluang riset dan inovasi di sektor garam, mulai dari pengelolaan sumber daya laut, ekonomi sirkular, pengelolaan limbah, hingga adaptasi perubahan iklim. (fan)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.