TRIBUNNEWSMAKER.COM - Tragedi di Gunung Piramid, Bondowoso, mengungkap jejak terakhir pendaki asal Surabaya, Maliya Finda, yang ditemukan meninggal dunia bersama seorang pemandu lokal.
Korban ditemukan pada Selasa (4/8/2026) bersama Erfan (35), warga Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso.
Keduanya ditemukan setelah sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat melakukan pendakian.
Kapolres Bondowoso AKBP Aryo Dwi Wibowo mengatakan jasad kedua korban berada di bawah jalur Punggung Naga.
Menurutnya, posisi korban berada di jurang dengan kedalaman sekitar 60 meter dan ditemukan sekitar pukul 13.00 WIB.
Jasad Maliya dan Erfan ditemukan dalam kondisi tertelungkup serta tersangkut di ranting pohon dengan jarak sekitar lima meter.
Tim SAR gabungan langsung menuju lokasi untuk melakukan penanganan awal terhadap kedua korban.
"Kemudian kita lakukan pembungkusan korban," ujarnya.
Meski demikian, proses evakuasi tidak dapat langsung dilakukan karena kondisi medan dan cuaca yang dinilai tidak memungkinkan.
Sejumlah personel SAR akhirnya memutuskan bermalam di Gunung Piramid agar evakuasi dapat dilanjutkan keesokan harinya.
Di sekitar lokasi penemuan jasad, petugas juga menemukan sejumlah barang milik korban seperti tas, sepatu, dan perlengkapan lainnya.
"Sudah kita amankan," ujarnya.
OSC Basarnas Jember, Jefriyansah, menjelaskan bahwa proses evakuasi direncanakan menggunakan metode *leafting* menuju jalur Punggung Naga sebelum diteruskan secara estafet ke Pos 2 dan Pos 1.
Dalam proses tersebut, tiga tim akan diterjunkan dengan dua tim difokuskan untuk mengevakuasi kedua korban dari lokasi jurang.
"Selanjutnya akan dievakuasi di RS Bhayangkara," ujarnya.
Terkait penyebab kematian, Jefri menduga kedua korban terjatuh ke jurang saat perjalanan turun dari puncak Gunung Piramid.
Namun, penyebab pasti meninggalnya kedua pendaki masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan otopsi.
Sebelum dinyatakan hilang, Maliya dan Erfan diketahui menitipkan sepeda motor Yamaha NMAX berwarna merah bernomor polisi P 2938 ES di rumah seorang warga sekitar.
Warga mulai curiga setelah kendaraan tersebut tidak diambil hingga Senin (3/8/2026) sore, padahal jalur pendakian Gunung Piramid umumnya ditempuh dengan sistem tektok yang hanya memerlukan waktu sekitar delapan jam.
Temuan tersebut menjadi awal terungkapnya tragedi yang kembali menambah daftar kecelakaan maut di jalur ekstrem Gunung Piramid.
Baca juga: Kronologi Pendaki Wanita & Pemandu Lokal Hilang di Gunung Piramid Bondowoso, Sempat Titipkan Motor
Maliya Finda diketahui tinggal di kawasan Jalan Cipunegara, RT 14, RW 06, Darmo, Wonokromo, Kota Surabaya.
Sekira dua minggu lalu, Maliya baru memiliki cucu dari anak perempuannya.
Menurut kerabatanya, Wawan, pihak keluarga besar sejak awal mengetahui rencana pendakian yang dilakukan Finda secara privat bersama seorang guide.
Wawan menerangkan, Finda itu berangkat dari rumah Surabaya menuju ke Bondowoso pada Sabtu (1/8/2026) pagi.
Kemudian, memulai pendakian pada Minggu (2/8/2026) pagi. Sepanjang waktu itu, Finda masih terus berkomunikasi dengan anaknya yang tinggal di Bali.
Seharusnya, pendakian tersebut cuma berlangsung satu hari; pagi berangkat, sore hari, pulang. Namun, hingga Minggu sore, Finda tak lagi merespon pesan masuk atau sambungan telepon dari anak atau kerabatnya.
"Sabtu perjalanan ke Bondowoso, minggu Pagi naik, masin kontak-kontakan. Tapi senin sudah enggak ada kabar. Seharusnya tektok, berangkat pagi naik, sore pulang, ternyata belum ada info kembali," ungkapnya.
Wawan belum dapat memperkirakan kapan jenazah bakal dibawa ke rumah duka.
"Kami menunggu proses evakuasi, kedalamannya itu sekitar 470 meter. Jurang dalam. Jadi ada tali 300 meter kurang panjang, kabar kerabat kami di sana, katanya lagi kesulitan dengan alat. Masih proses, semoga bisa dievakuasi secepatnya," ujarnya saat ditemui di teras rumah duka, pada Selasa (4/8/2026) sore.
Rencananya, jenazah Finda akan disemayamkan di rumah duka Surabaya sebelum dimakamkan di komplek makam umum Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan, Jatim, keesokan hari.
"Jenazah dibawa ke sini untuk disucikan dimandikan disalatkan, tapi rencana dimakamkan di Babat Lamongan. Beliau putrinya 1 orang. Iya sudah punya cucu 2 minggu lalu baru lahiran anaknya," kata Riris, keponakan korban.
Baca juga: Sosok Pendaki & Pemandu yang Tewas di Gunung Piramid Bondowoso, Jatuh ke Jurang Sedalam 60 Meter
Di usia paruh baya, Finda masih terbilang konsisten menekuni hobinya mendaki gunung.
Wawan tak menampik, hobi mendaki yang ditekuni tantenya itu, baru berjalan kurun waktu 2-3 tahun belakangan. Bahkan, hampir satu bulan sekali selalu ada agenda pendakian yang dilakoni.
Namun, hobi yang lebih lama ditekuni oleh Finda adalah bersepeda atau gowes.
Nah, kalau jenis kegiatan ini, biasa dilakukan hampir setiap hari. Terutama saat weekend, Wawan pun terkadang turut terlibat dalam satu komunitas gowes bersama sang tante.
"Beliau hobi mendaki. Dan suka gowes sepeda ontel, kebetulan ngontel juga sama saya. Hobi mendaki itu barusan. Dari Rinjani dan Lawu. Gunung populer," terangnya.
Mengenai firasat akan adanya insiden tersebut, Wawan mengaku tidak memperoleh petanda apa pun. Pihak terakhir yang berkomunikasi dengan tantenya itu adalah sang istri; Ririn.
Istrinya memang sempat berkunjung ke rumah sang tantenya di Kota Surabaya, beberapa hari sebelum pendakian, antara hari rabu atau kamis, pekan lalu.
"Istri sedang berkunjung, beliau ngomong mau mendaki, guide private. Tapi kami gak tahu kalau Gunung Piramid, dilarang," katanya.
Disinggung mengenai sosok pribadi Finda semasa hidup. Wawan tak menampik, tantenya itu merupakan pribadi yang baik, ramah dan periang.
Memang, untuk urusan pendakian gunung, tantenya itu, masih sangat bersemangat meskipun diusia yang tak bisa dikatakan muda lagi.
Wawan menduga keberhasilan mendaki beberapa gunung lain sebelumnya, barangkali memicu sang tante senantiasa bersemangat menaklukkan pendakian gunung-gunung lainnya.
"Sosok beliau, baik, beliau menyelesaikan ambisi mungkin, karena sudah pernah menaiki gunung mana mana, akhirnya penasaran lalu dicoba, melawan rasa penasaran. Usianya itu seharusnya usia istirahat, tapi beliau masih aktif. Usia 51," pungkasnya.
Sementara itu, keponakan korban atau istri Wawan, Riris mengaku tak memiliki firasat apa pun yang menandai kepergian sang tante. Kepergian sang tante meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar.
Ia menduga, tantenya itu mengalami insiden kecelakaan terpeleset hingga terjatuh ke jurang saat sedang menempuh pendakian di Gunung Piramid. Namun, pihak keluarga tetap akan menunggu hasil visum yang dilakukan Kepolisian nantinya.
"Baru ditemukan tadi siang (selasa siang). Dugaannya, jatuh katanya, betul (indikasi kecelakaan) kepeleset," ujar Riris saat ditemui di teras rumah duka.
Di lain sisi, para tetangga menyebutkan sosok Finda sebagai salah satu warga yang baik, ramah dan gemar menyapa.
"Kaget semua orang-orang mas, beliau baik, sama kita yang di jalan kalau ketemu ya menyapa, grapyak pokoknya," kata para tetangga yang nongkrong di warung kopi samping rumah korban.
(Tribunnewsmaker.com/ Surya.co.id/ Sinca Ari Pangistu)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.