4 Ton Besi Melaju 8.700 Km/Jam ke Bulan, Apa Dampak Tabrakan Roket SpaceX ke Satelit Bumi?

 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah bagian dari roket Falcon 9 milik SpaceX yang semula tidak ditujukan untuk menuju Bulan justru berakhir menghantam permukaan satelit alami Bumi tersebut, menciptakan kawah tumbukan baru.

Objek dengan berat sekitar 4 ton itu merupakan tahap kedua roket Falcon 9 yang diluncurkan pada awal 2025.

Berdasarkan data pelacakan astronomi, pecahan roket tersebut menabrak permukaan Bulan pada pagi hari 5 Agustus 2026, di wilayah dekat kawah Einstein, dengan kecepatan sekitar 8.700 kilometer per jam.

Baca juga: Roket SpaceX Milik Elon Musk Meledak di Udara, Langit Texas Bak Hujan Meteor

Tumbukan tersebut diperkirakan menghasilkan energi sekitar 3 ton TNT, cukup untuk membentuk kawah baru di permukaan Bulan yang selama ini relatif tidak banyak berubah akibat aktivitas manusia.

Meski terdengar seperti insiden besar, tabrakan ini bukan akibat kegagalan misi SpaceX.

Bagian roket tersebut sebenarnya telah menyelesaikan tugas utamanya setelah membawa muatan ke orbit.

Namun, setelah terlepas dari roket utama, tahap kedua itu tidak lagi memiliki kemampuan manuver yang cukup untuk mengubah lintasannya.

Selama lebih dari 18 bulan, pergerakannya secara perlahan dipengaruhi oleh interaksi gravitasi Bumi, Bulan, dan Matahari. Kombinasi gaya tersebut akhirnya mengubah jalur orbitnya hingga mengarah ke permukaan Bulan.

"Pada dasarnya, kombinasi aktivitas Matahari dan gravitasi telah mendorong objek ini ke orbit menuju Bulan," ujar Julianna Scheiman, Manajer Program Sains NASA dan Manajer Program Dragon SpaceX.

Bukan Meteor, Melainkan Jejak Aktivitas Manusia

Peristiwa ini menarik perhatian karena kawah baru tersebut bukan terbentuk akibat hantaman meteor alami, melainkan oleh benda buatan manusia.

Selama ini, persoalan sampah antariksa lebih sering dikaitkan dengan ribuan satelit mati dan pecahan roket yang mengorbit Bumi.

Namun, kasus ini menunjukkan bahwa benda buatan manusia juga dapat menjadi ancaman baru di lingkungan luar angkasa yang lebih jauh, termasuk wilayah sekitar Bulan.

Para ilmuwan memperkirakan dampak tumbukan dapat memberikan informasi penting mengenai karakteristik permukaan Bulan.

Wahana antariksa seperti Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA dan Danuri milik Korea Selatan dilaporkan melakukan pengamatan untuk merekam perubahan sebelum dan sesudah tumbukan.

Data tersebut dapat membantu peneliti mempelajari material yang terlontar akibat benturan serta ukuran dan bentuk kawah baru yang terbentuk.

Tantangan Baru di Era Eksplorasi Bulan

Tabrakan ini menjadi peristiwa kedua yang tercatat mengenai pecahan roket manusia yang secara tidak sengaja menghantam Bulan.

Sebelumnya, pada Maret 2022, bagian dari roket Long March 3C milik China yang diluncurkan pada 2014 juga jatuh ke sisi jauh Bulan dan menciptakan kawah tumbukan.

Dengan semakin banyaknya negara dan perusahaan swasta berlomba mengirim misi ke Bulan, persoalan pengelolaan benda sisa peluncuran mulai menjadi perhatian baru dalam industri antariksa.

Program eksplorasi Bulan seperti Artemis milik NASA, misi China, hingga berbagai proyek komersial membuka peluang semakin banyak aktivitas di orbit Bulan.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan akan pemantauan lalu lintas antariksa dan pengelolaan "sampah" di luar orbit Bumi menjadi semakin penting.

Kejadian Falcon 9 ini menjadi pengingat bahwa aktivitas manusia di luar angkasa meninggalkan jejak yang dapat bertahan lama — bahkan hingga mencapai permukaan Bulan.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.