TRIBUNNEWS.COM - Membiasakan anak menyikat gigi secara rutin bukan perkara mudah bagi sebagian orang tua.
Anak terkadang menolak, rewel, bahkan merasa takut atau tidak nyaman ketika diajak menyikat gigi.
Padahal, menyikat gigi secara rutin merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut anak.
Karena itu, orang tua perlu mencari cara yang menyenangkan agar aktivitas tersebut tidak terasa seperti kewajiban yang membebani anak.
Dokter Gigi Klinik APIC, drg. Nadya Cita Bella, mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah membangun kebiasaan menyikat gigi secara konsisten di lingkungan keluarga.
Menurut drg. Nadya, anak dapat belajar melalui kebiasaan yang dilakukan orang tuanya.
Karena itu, orang tua sebaiknya terlebih dahulu menunjukkan kebiasaan menyikat gigi secara rutin.
Orang tua dapat membiasakan diri menyikat gigi pada waktu yang sama setiap hari, terutama pada pagi hari setelah sarapan dan sebelum tidur malam.
“Bikin kebiasaan, bikin habit. Mungkin kalau misalnya anaknya traumatik, tidak mau dan lain-lain, mungkin dibantu dengan orang tuanya dulu,” ujar drg. Nadya dalam wawancara bersama Ahmad Nur Rosikin, jurnalis TribunHealth.com, untuk program MOMSPIRATION yang tayang di Kantor Tribunnews Solo, Klodran, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Rabu (25/3/2026).
Ketika anak sering melihat orang tuanya menyikat gigi, aktivitas tersebut secara perlahan dapat dianggap sebagai bagian normal dari rutinitas sehari-hari.
Setelah itu, anak dapat diajak untuk ikut menyikat gigi bersama.
Baca juga: Jangan Diabaikan, Ini Gejala Gigi Bungsu Impaksi yang Bisa Bikin Nyeri sampai Kepala
Selain memberikan contoh, orang tua dapat membuat kegiatan menyikat gigi menjadi lebih menyenangkan.
Drg. Nadya menyarankan orang tua menciptakan suasana yang membuat anak merasa senang ketika menyikat gigi.
Misalnya, orang tua dapat mengajak anak membuat permainan atau lomba kecil saat menyikat gigi.
Cara tersebut dapat membantu mengubah aktivitas yang sebelumnya dianggap membosankan menjadi kegiatan yang lebih menarik bagi anak.
Orang tua juga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih sendiri perlengkapan sikat giginya.
Misalnya, ajak anak ke supermarket dan biarkan mereka memilih sikat gigi dengan warna atau gambar karakter yang disukai.
Anak mungkin lebih antusias menggunakan sikat gigi bergambar dinosaurus atau memilih warna favorit seperti merah muda dan biru.
Dengan melibatkan anak dalam proses tersebut, orang tua dapat membuat anak merasa memiliki pilihan dan lebih tertarik menjalankan rutinitas menyikat gigi.
Membangun kebiasaan baru tentu membutuhkan waktu.
Pada awalnya, anak mungkin masih menolak atau rewel ketika diajak menyikat gigi.
Menurut drg. Nadya, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat orang tua langsung menyerah.
Orang tua perlu tetap mengajak anak menyikat gigi secara konsisten.
Jika dilakukan berulang-ulang, aktivitas tersebut perlahan dapat menjadi kebiasaan.
“Memang sih mungkin satu-dua hari dia rewel, enggak mau dan lain-lain. It's okay, enggak apa-apa, yang penting dilakukan terus-menerus,” jelasnya.
Ketika kebiasaan sudah terbentuk, anak diharapkan dapat mulai menyikat gigi dengan lebih nyaman dan bahkan melakukannya tanpa harus terus-menerus dibujuk.
Pengalaman sakit gigi juga dapat membuat anak menjadi takut menyikat gigi.
Dalam kondisi tersebut, orang tua dapat membantu dengan memberikan penjelasan sederhana yang mudah dipahami anak.
Misalnya, orang tua dapat menjelaskan bahwa di dalam mulut terdapat kuman yang perlu dibersihkan dengan menyikat gigi.
Setelah gigi dibersihkan, anak dapat diberi pemahaman bahwa menjaga kebersihan gigi membantu mencegah rasa sakit.
Orang tua juga dapat memberikan afirmasi positif setelah anak berhasil menyikat gigi.
Jika anak kemudian merasakan bahwa setelah menyikat gigi dirinya tidak mengalami rasa sakit, pengalaman tersebut dapat membantu mengurangi rasa takut dan membuatnya lebih bersedia menyikat gigi pada hari berikutnya.
“Dibantu dikasih pengertian anaknya,” kata drg. Nadya.
Membiasakan anak menyikat gigi tidak selalu berhasil dalam satu atau dua kali percobaan.
Orang tua mungkin harus menghadapi penolakan, tangisan, atau anak yang tidak mau bekerja sama.
Namun, konsistensi tetap menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan.
Orang tua dapat menjadikan menyikat gigi sebagai bagian dari rutinitas harian yang dilakukan pada waktu yang relatif sama.
Dengan demikian, anak perlahan memahami bahwa menyikat gigi merupakan kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari, bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika orang tua mengingatkan.
Pada akhirnya, tujuan orang tua bukan sekadar membuat anak mau menyikat gigi pada hari itu, tetapi membangun kebiasaan yang dapat terus dilakukan hingga anak tumbuh besar.
Selain membangun kebiasaan menyikat gigi, orang tua juga perlu memperhatikan kesehatan gigi anak secara keseluruhan.
Karies atau gigi berlubang pada anak dapat dicegah dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut serta membangun kebiasaan perawatan gigi sejak dini.
Jika masalah gigi sudah muncul, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter gigi untuk mendapatkan penanganan sesuai kondisi anak.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.