TRIBUNNEWS.COM - Thalasemia merupakan salah satu kelainan darah yang membuat penderitanya harus menjalani perawatan secara rutin, termasuk transfusi darah dalam jangka panjang.

Meski dari luar pasien thalasemia dapat terlihat sehat, mereka harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mudah lelah, pusing, hingga kewajiban menjalani transfusi darah secara berkala.

Dokter Spesialis Hematologi di Rumah Sakit Moewardi, dr Muhammad Riza, menjelaskan thalasemia adalah merupakan suatu kondisi kelainan darah.

"Jadi Thalasemia berasal dari kata Yunani, yaitu thalasa itu laut dan semia adalah darah," jelas dr Muhammad Riza dalam wawancara program Healthy Talk di kantor redaksi Tribunnews Solo di Karanganyar, Jawa Tengah, dikutip pada Senin (17/8/2026).  

Thalasemia berkaitan dengan kelainan pada sel darah merah yang menyebabkan sel tersebut lebih cepat mengalami kerusakan atau hemolisis.

Kondisi tersebut membuat tubuh kesulitan mempertahankan jumlah sel darah merah yang cukup sehingga pasien, khususnya penderita thalasemia mayor, membutuhkan transfusi darah secara rutin.

Baca juga: Bolehkah Bayi Diberi Penebal Alis dan Pemanjang Bulu Mata? Ini Penjelasan Dokter Anak

Apa Itu Thalasemia?

Thalasemia adalah kelainan darah yang berkaitan dengan gangguan pembentukan hemoglobin pada sel darah merah.

Pada kondisi normal, sel darah merah dapat bertahan sekitar tiga bulan sebelum mengalami penghancuran.

Namun, pada pasien thalasemia, sel darah merah dapat mengalami hemolisis lebih cepat.

Akibatnya, penderita dapat mengalami anemia dan membutuhkan transfusi darah secara berkala untuk membantu memenuhi kebutuhan sel darah merah tubuh.

Apa Penyebab Thalasemia?

Thalasemia merupakan kelainan yang berkaitan dengan faktor genetik atau keturunan.

Penderita thalasemia mayor umumnya membutuhkan transfusi darah secara rutin.

Sementara itu, thalasemia intermedia memiliki kondisi di antara mayor dan pembawa sifat sehingga kebutuhan transfusinya dapat berbeda.

Seseorang yang menjadi pembawa sifat dapat terlihat sehat dan tidak selalu menunjukkan gejala seperti pasien thalasemia mayor.

Karena itu, seseorang dapat tidak menyadari bahwa dirinya membawa sifat thalasemia.

Baca juga: Tak Cuma Jantung dan Ginjal, Diabetes Tipe 2 Berisiko Turunkan Kesuburan Pria

Gejala Thalasemia yang Perlu Dikenali

  • Mudah lelah
  • Pusing
  • Tubuh terasa lemas
  • Badan terasa sakit dan pegal
  • Tampak pucat
  • Pada masa kanak-kanak mengalami kondisi seperti tubuh menguning, muntah dan sulit makan.

Mengapa Pasien Thalasemia Harus Transfusi Darah?

Transfusi darah dilakukan untuk membantu mengatasi dampak dari kelainan sel darah merah yang dialami pasien thalasemia.

Ketika sel darah merah lebih cepat rusak, kadar hemoglobin dapat menurun.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan pasien mengalami gejala anemia seperti lemas dan mudah lelah.

Karena itu, pada pasien yang membutuhkan transfusi rutin, tindakan tersebut dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Thalasemia berbeda dengan anemia akibat kekurangan zat besi.

Pada anemia defisiensi besi, seseorang dapat membutuhkan tambahan zat besi.

Sementara itu, pasien thalasemia yang mendapatkan transfusi berulang justru dapat mengalami kelebihan zat besi.

Karena itu, pasien halasemia tidak dianjurkan mengonsumsi suplemen zat besi secara sembarangan tanpa arahan dokter.

Penanganan dan pola makan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien serta mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan.

Baca juga: Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Melakukan Transplantasi Sel Punca bagi Pasien Thalasemia Mayor

Cara Mencegah Thalasemia

Thalasemia adalah penyakit yang dapat dicegah melalui upaya screening, terutama untuk mengetahui apakah seseorang merupakan pembawa sifat.

Pemeriksaan darah rutin seperti MCV dan MCH serta pemeriksaan lanjutan ini menjadi tahap yang sangat diperlukan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kecurigaan thalasemia, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan Hb elektroforesis untuk membantu menentukan kondisi atau jenis thalasemia.

Seseorang yang tidak mengetahui dirinya sebagai pembawa sifat berpotensi menurunkan sifat tersebut kepada anak.

Oleh karena itu, pemeriksaan dapat menjadi salah satu upaya untuk mengetahui kondisi kesehatan dan status pembawa sifat masing-masing orang.

(Tribunnews.com/Oktavia WW)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.