TRIBUNNEWS.COM - Baru lahir ke dunia, sejumlah bayi di Puskesmas Watubaing, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) harus langsung berhadapan dengan kerasnya dunia.

Senin (17/8/2026) malam, lima bayi yang baru lahir harus tidur di luar ruangan karena semua pasien Puskesmas Watubaing dievakuasi.

Pasien-pasien tersebut dievakuasi karena adanya gempa susulan yang terjadi pada Senin sore.

Dokter Puskesmas Watubaing, Servasius mengatakan, pihaknya telah meminta bantuan tenda sejak Senin pagi.

Namun, hingga malam hari, bantuan belum juga datang.

Akibatnya, para pasien tidur di luar ruangan yang bersekat kain biasa dan para perawat membuat atap dari terpal seadanya.

"Kami menunggu bantuan tenda yang sudah dikoordinasikan dari pagi tapi tak kunjung datang,"

"Akhirnya kami pakai tenda swadaya seadanya untuk menjaga bayi bayi ini tetap hangat," ujarnya, dikutip dari Pos-Kupang.com.

Ada lima orang bayi yang tidur di tenda darurat tersebut, dan lima orang ibunya.

"Bayi ada 5 orang. 3 bayi dengan berat lahir normal,"

"2 bayi dengan berat badan lahir rendah (bblr),Ibu nifas ada 5 dan ibu dengan ancaman abortus 1," Jelasnya.

Baca juga: Cerita Bidan Bantu Persalinan saat Gempa Guncang Flores, Bawa Ibu Hamil ke Halaman Puskesmas

68 Orang meninggal Dunia

Jumlah korban meninggal akibat gempa di Flores bertambah.

68 orang dikabarkan meninggal dunia dalam peristiwa ini per Senin (17/8/2026) pukul 16.40 Wita.

"Untuk Kabupaten Manggarai Barat korban meninggal menjadi dua orang, Kabupaten Nagekeo menjadi 8 orang, dan Kabupaten Manggarai Timur menjadi 24 orang, dan terdapat 2 korban meninggal dari Kabupaten Ngada," ujar Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman.

Mengutip Pos-Kupang.com, korban luka-luka dari kejadian ini mencapai 132 orang.

BAYI DIRAWAT- 5 orang bayi yang baru lahir harus terbaring di bawah tenda darurat di belakang Puskesmas Watubaing, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin 17 Agustus 2026 malam.

Ribuan orang juga masih mengungsi karena huniannya rusak hingga roboh.

Bidan Bantu Persalinan

Di tengah kepanikan warga untuk menyelamatkan diri, sejumlah bidan di Puskesmas Laja, Kecamatan Golewa Selatan, Ngada, NTT tetap sedia menjalankan tugas.

Ada enam bidan yang masih memberikan pelayanan kepada pasien di kondisi darurat.

Keenam bidan tersebut, yakni Bidan Yoan, Bidan Ica, Bidan Lina, Bidan Nita, Bidan Tefin dan Bidan Chen.

Ruang bersalin yang biasanya digunakan, terdampak gempa dan membuat pasien harus dibawa ke luar Puskesmas.

Seorang ibu harus melahirkan di bawah tenda darurat pagi itu.

Listrik yang padam membuat sejumlah tenaga kesehatan (nakes) harus menerangi proses persalinan menggunakan lampu senter dari HP.

"Sejak pukul enam kemarin hingga jam 8 malam kami menggunakan senter HP untuk mendampingi pasien,"

"Listrik baru menyala setelah jam delapan malam," ungkap Kepala Puskesmas Laja, Anastasia, Minggu (16/8/2026).

Mengutip Pos-Kupang.com, meski dengan penerangan terbatas, proses persalinan pun lancar, ibu dan bayi dalam kondisi sehat.

Terpisah, Kepala Puskesmas Laja, Anastasia mengapresiasi perjuangan para nakes yang tetap memberikan pelayanan di tengah situasi darurat.

Baca juga: Kisah Korban Gempa di NTT, Nelayan di Ngada Kakinya Patah Tertimpa Tembok, Rumah Rata dengan Tanah

"Saya apresiasi atas perjuangan teman-teman nakes yang tetap memberikan yang terbaik di tengah kondisi darurat," ujar Anastasia.

(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(Pos-Kupang.com, Arnold Welianto)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.