TRIBUNNEWS.COM - Di balik sosok kepala keluarga yang terlihat tenang dan tegar, terdapat beban hidup yang tidak selalu terlihat oleh anak maupun istrinya.
Tanggung jawab mencari nafkah dan memastikan keluarga tetap bertahan membuat seorang lelaki dituntut mampu menghadapi berbagai persoalan, sekaligus tetap menjadi sosok yang memberikan rasa aman ketika berada di rumah.
Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) La Tansa Cipanas, KH Adrian Mafatihullah Karim, menggambarkan peran tersebut sebagai dua sisi yang berjalan bersamaan.
Seorang lelaki, kata dia, harus menjadi father di rumah sekaligus fighter ketika menghadapi kehidupan di luar.
"Di balik punggungnya yang kokoh dan senyumnya yang selalu tampak tenang, tersimpan badai luka yang tak pernah diizinkannya terlihat. Ini adalah potret jujur tentang seorang lelaki yang menelan setiap kepedihan hidup mentah-mentah, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi melihat keluarganya tetap bernapas dan bertahan di dunia," ujar KH Adrian Mafatihullah Karim.
Pandangan tersebut disampaikan Adrian dalam sesi di panggung utama Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Assembly Hall & Lower Level Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Menurut Adrian, tuntutan sebagai kepala keluarga bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan materi.
Baca juga: Perpusnas Tetapkan Karya Ahmad Rifa’i Jadi IKON 2026, AMRI Siapkan Buku Bunga Rampai
Ada ketangguhan mental yang juga dituntut ketika seorang lelaki harus tetap menjalankan kewajibannya meski menghadapi tekanan dan persoalan pribadi.
"Menjadi kepala keluarga berarti memikul dunia di atas pundak, bahkan saat dunia itu perlahan meremukkan tulang-tulangmu. Ketangguhan terbesar seorang lelaki sering kali lahir dari tangisan yang tertahan dan luka yang sengaja dibiarkan berdarah dalam diam—demi satu alasan: keluarga," lanjutnya.
Di hadapan para pengunjung, ia mengangkat pengalaman dan beban kepala keluarga sebagai refleksi mengenai makna perjuangan seorang lelaki dalam menjaga keberlangsungan rumah tangga.
Adrian mengatakan, ketegaran tidak selalu berarti seseorang terbebas dari rasa sakit. Justru, dalam banyak keadaan, seorang kepala keluarga memilih menyimpan persoalan yang dihadapi agar tidak menambah beban keluarganya.
"Lelaki sering kali diajarkan untuk tidak mengeluh, bahkan ketika hidup menghujamnya bertubi-tubi. Ini menembus lapisan topeng ketegaran tersebut untuk memperlihatkan sisi paling rapuh dari seorang pejuang nafkah," ucapnya.
"Sosok manusia yang terus melangkah menembus gelap, berdarah-darah di sepanjang jalan, semata-mata agar keluarganya tetap memiliki rumah untuk pulang," pungkas Adrian.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.