TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mengharukan perjuangan para ibu hamil yang jadi korban bencana di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.

Ada yang darurat, terpaksa melahirkan di perahu dengan bantuan bidan.

Suasana makin dramatis karena bayi mungilnya sempat terlilit tali pusar.

Sementara itu, ibu hamil di Tapanuli Tengah mengeluhkan perutnya nyeri hingga tak dapat bantuan susu untuk ibu hamil.

 

DARURAT, Ibu Hamil di Aceh Melahirkan di Atas Perahu, di Tengah Banjir

Peristiwa dramatis dan mengharukan terjadi di tengah banjir di Aceh.

Seorang perempuan bernama Nurma (40), asal Sabang, terpaksa menjalani persalinan di atas perahu pada Sabtu (28/11/2025).

Ia dibantu oleh Sulaidah, akrab disapa Amoy, bidan di Desa Meureubo Lama, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara.

Nurma dan keluarganya menetap di Desa Lueng Baro, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, dan sejak dua hari terakhir sudah mengabari bidan sukarela Amoy terkait kondisi persalinan yang akan berlangsung.

Awalnya banjir belum begitu parah, sehingga Amoy sempat menaruh peralatan medis di atas lemari.

Namun ketika waktu persalinan tiba, Amoy dijemput dengan perahu untuk menuju pengungsian di meunasah, sambil kembali ke rumah untuk mengambil perlengkapan medis seperti jarum suntik dan aboket, meski peralatan belum lengkap.

"Saya dijemput lagi sore hari naik perahu untuk proses persalinan ke pengungsian saya. Saya sudah mengungsi saat itu ke meunasah (mushala)," kata Amoy dikutip dari KOMPAS.COM, Jumat (12/12/2025).

Selama perjalanan, perahu dikayuh oleh Tasir, sementara perahu lain mengawal dari belakang.

Amoy memeriksa kondisi Nurma dan mendapati bayi diduga terlilit tali pusat, sehingga keluarga meminta agar persalinan dibawa ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia Aceh Utara.

Dengan banjir setinggi dada orang dewasa, dua perahu menempuh jalur menuju jalan raya, dan Amoy memutuskan untuk memproses persalinan di perahu.

Setelah sekitar 30 menit, bayi lahir dengan selamat dan diberi nama Iryana Putri, meski proses berlangsung di tengah malam gelap, hujan deras, banjir setinggi dua meter, dan hanya dengan senter di kepala untuk penerangan.

"Saya lihat sudah bisa ini kita proses, saya proses lahirannya, memang terlilit tali pusar bayinya.

Alhamdulillah, lahir dengan selamat dan diberi nama Iryana Putri," ujar Amoy.

"Saya bilang ke pengayuh perahu, jangan berhenti mengayuh.

MELAHIRKAN SAAT BANJIR - Bayi Iryana Putri lahir di tengah banjir bandang di Aceh Utara, Sabtu (28/11/2025).

 

Nestapa 18 Hari Ibu Hamil di Tapteng Tinggal di Pengungsian

Mengenakan daster berwarna biru, seorang ibu hamil bernama Sri Asmara (22) tampak berjalan kesusahan menaiki anak tangga.

Meski sedang mengandung 4 bulan anak keempat, ia masih kuat menggendong bayi laki-laki di sebelah kirinya.

Jalannya pelan-pelan, penuh kehati-hatian. Langkahnya sedikit agak kesusahan menaiki anak tangga satu persatu, dan lantai keramik.

Di tangan sebelah kanannya, ia menuntun seorang anak dibawah lima tahun (Balita) menuju ke arah tim trauma healing.

Satu anak lagi yang diperkirakan berusia 5 tahun, berjalan mengikutinya dari belakang.

Ia kemudian bergabung dengan ibu-ibu lainnya lantaran anaknya menginginkan balon yang dibagikan.

Ketika mengantre, sesekali ia mengelus perutnya menggunakan tangan sebelah kanan.

Sri Asmara merupakan pengungsi di gedung gelanggang olahraga (Gor) Kota Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Ia merupakan perantau asal Kota Medan, yang menetap di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Sudah 18 hari ia dan ratusan warga lainnya mengungsi disini karena rumah mereka kena banjir, maupun longsor.

Selama mengungsi, ia mengaku kebutuhan pangan terpenuhi.

Namun, yang menjadi masalah ialah pemberian jatah pampers yang dinilai jauh dari kata cukup.

Katanya, dalam sehari, para ibu yang memiliki balita, maupun bayi cuma diberikan 2 pampers.

Padahal, kebutuhan mereka lebih dari 2 perharinya.

Keluhannya bertambah ketika anaknya yang kedua dan ketiga, sedang digendong mengalami diare sejak 2 hari belakangan.

Kebutuhan pampers meningkat sekitar 10 sampai 15 popok sehari.

Saat mau meminta tambahan popok tidak diberikan karena jatah memang hanya 2 sehari.

Sehingga, ia pun kuwalahan mengatasi diare anaknya yang berulangkali buang air besar.

"Biasanya perhari diberikan 2 Pampers. Tetapi karena ini sudah diare, jadi butuhnya itu 10 sampai 15 Pampers. Dari 3, dua anak saya yang diare,"kata Sri Asmara, Jumat (12/12/2025).

 

Tidak Ada Vitamin dan Susu

Keperluan lainnya yang dianggap kurang ialah kebutuhan kesehatan untuk ibu hamil.

Vitamin diberikan, namun susu untuk ibu hamil tidak ada.

Kemudian, sebagai orang yang sedang mengandung, pelayanan kurang maksimal.

Dia sempat mengeluh perutnya keram dan sakit, tapi tidak diperiksa. Melainkan cuma diberikan obat pereda nyeri.

Padahal, ia khawatir sesuatu terjadi pada kandungannya.

"Semalam saya mengeluh sakit hanya diberikan obat saja, tidak diperiksa apa-apa. Kemarin perut saya keram, mules-mules hanya diberi Paracetamol."

ibu hamil di tapteng gak dapat susu
IBU HAMIL KORBAN BENCANA - Seorang ibu hamil bernama Sri Asmara (22) mengeluhkan pemberian popok bayi dan anak dibawah lima tahun yang cuma 2 sehari, di gelanggang olahraga (Gor) Kota Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Jumat (12/2025). Ia menyebut kebutuhan popok anaknya saat ini 10 sampai 15.

Selama menjadi pengungsi akibat bencana, Sri tak tahan lagi.

Ia benar-benar ingin pulang ke Medan, dan kembali menjalani kehidupan normal.

Sedangkan untuk kembali ke rumahnya yang di Kecamatan Tukka, ia tak mau lagi karena hingga saat ini kondisi belum pulih.

Lanjut Sri, menjadi pengungsi hamil dengan kondisi terbatas begitu menyiksanya.

Kini ia berharap layanan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui ditingkatkan.

Begitu juga dengan tenaga medis, jika memang kurang ditambah.

"Rasanya pengen pulang. Disini gak nyaman."

 

(tribun network/Serambinews.com/TribunMedan.com)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.