TRIBUNJAKARTA.COM - Kebiasaan memakan pasir, kertas, hingga benda-benda tak wajar lainnya sering dianggap sekadar fase tumbuh kembang. 

Dokter Spesialis Anak dokter Rania Ali, Sp.A dari Eka Hospital M.t. Haryono  mengingatkan kebiasaan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena bisa menjadi tanda anemia defisiensi zat besi.

Hal tersebut disampaikan dokter Rania saat menjadi narasumber di channel YouTube Tanya Dokter.

Dokter Rania menjelaskan bahwa perilaku tersebut dikenal sebagai pika, yakni kecenderungan memakan benda yang bukan makanan.

“Biasanya sering terjadi kita sebutnya sebagai pika. Pika itu apa? Jadi kan seharusnya anak-anak itu nggak makan tanah, pasir, batu, atau kertas,” ujarnya, pada TribunJakarta.com, pada Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, kondisi ini kerap ditemukan pada anak dengan anemia defisiensi zat besi.

“Pada anak anemia, terutama anemia defisiensi zat besi, mereka punya kebiasaan yang jelek yang biasanya nggak terjadi pada anak normal. Salah satunya suka makan pasir, kertas, atau batu. Itu harus kita hati-hati, kemungkinan bisa jadi dia ada anemia defisiensi zat besi,” jelasnya.

Ia menambahkan, gejala serupa juga bisa muncul pada orang dewasa dalam bentuk kebiasaan mengunyah es batu.

“Kalau pada orang dewasa biasanya suka ngemilin es batu. Itu juga bisa jadi ciri pika,” katanya.

Tanda Gangguan Kesehatan

Pika bukan hanya kebiasaan aneh, tetapi sinyal tubuh bahwa ada kekurangan zat besi. 

Jika tidak dikenali sejak dini, anemia dapat mengganggu fungsi kognitif anak.

Orang tua biasanya datang dengan keluhan yang tampak tidak berkaitan langsung dengan anemia.

“Ibu datang dengan komplain, ‘Dok, anak saya kok konsentrasinya kurang ya? Di sekolah cepat capek, cepat tertidur. Bangunin pagi susah banget.’ Nah, di situ fungsi kognitifnya sudah terganggu,” ujar dokter Rania.

Kondisi tersebut bisa menjadi petunjuk awal adanya anemia pada anak.

Ciri-ciri Fisik

Selain perubahan perilaku dan kebiasaan makan, anemia juga dapat dikenali melalui pemeriksaan fisik sederhana.

Pertama, pucat dapat terlihat pada wajah, telapak tangan, kuku, dan bagian dalam kelopak mata.

“Pucat itu biasanya baru nampak kalau Hb-nya sudah sangat rendah, biasanya di bawah 7,” jelasnya.

Jika belum terlalu rendah, pucat masih bisa dilihat pada bagian dalam kelopak mata yang tampak lebih pucat dari normal.

Telapak tangan anak penderita anemia tampak lebih putih dibandingkan orang sehat.

Kedua, pada anemia defisiensi besi dapat muncul spoon nail, yaitu kuku berbentuk cekung seperti sendok.

“Normalnya kuku halus. Pada anemia defisiensi zat besi, kuku bisa cekung masuk ke dalam seperti sendok,” ujarnya.

Ketiga, lidah dapat tampak halus dan kemerahan akibat berkurangnya papila.

“Kalau lidahnya smooth dan merah, itu bisa ada atrofi dari bintil-bintil lidah,” jelasnya.

Keempat, luka atau pecah di sudut bibir juga dapat menjadi tanda anemia.

Jika anemia berlangsung lama dan tidak diobati, warna kulit anak bisa berubah.

“Kalau anemianya sudah berjalan lama dan tidak diobati, yang awalnya pucat berubah menjadi kuning,” katanya.

Bahaya Anemia

Anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau hemoglobin.

Hemoglobin yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. 

Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan otak anak. 

Kekurangan oksigen dalam jaringan tubuh dapat menyebabkan anak mudah lelah, sulit konsentrasi, hingga mengalami gangguan perkembangan kognitif.

Dalam jangka panjang, anemia yang tidak ditangani juga dapat melemahkan sistem imun, mengganggu fungsi organ, dan menurunkan kualitas hidup anak.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.