TRIBUNSTYLE.COM - Sungai kecil yang membelah kawasan pecinan di Kota Solo itu mendadak jadi pusat perhatian setiap perayaan Imlek tiba.
Bukan hanya karena cahaya lampion, tetapi karena hadirnya perahu wisata yang hanya muncul setahun sekali.
Di kawasan Pasar Gede Hardjonagoro, suasana menjelang malam terasa berbeda.
Aroma jajanan tradisional bercampur dengan semilir angin sungai, menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan.
Perahu wisata di Sungai Pepe menjadi magnet utama selain lampion warna-warni yang bergantung anggun di atas jalan.
Kehadirannya selalu dinanti warga lokal maupun wisatawan luar kota.
Tak seperti wahana wisata lain yang bisa dinikmati kapan saja, perahu ini hanya beroperasi saat perayaan Grebeg Sudiro dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek.
Itulah yang membuatnya terasa eksklusif.
Baca juga: Mengapa Lapis Legit Wajib Ada di Meja Imlek Warga Tionghoa Solo? Ternyata Ada Makna dan Sejarahnya
Festival budaya Grebeg Sudiro sendiri merupakan perpaduan tradisi Jawa dan Tionghoa.
Perayaan ini sudah menjadi agenda tahunan yang identik dengan Kota Solo.
Menjelang pukul 17.00 WIB, loket tiket mulai dibuka.
Antrean pun perlahan mengular, bahkan sebelum matahari benar-benar tenggelam.
Harga tiketnya tergolong ramah di kantong. Pengunjung cukup merogoh Rp 15.000 per orang atau Rp 25.000 untuk dua orang.
Begitu malam turun, lampion-lampion mulai menyala redup, memantul indah di permukaan Sungai Pepe.
Pendar cahaya itu menciptakan nuansa romantis yang sulit ditandingi.
Perahu akan berangkat dari bawah jembatan di depan Pasar Gede, menyusuri sungai dengan tempo pelan, lalu kembali ke titik semula.
Perjalanan singkat itu justru terasa begitu berkesan.
Setiap perahu biasanya terisi penuh.
Keberangkatan pertama dimulai sekitar pukul 18.00 WIB.
Sementara itu, perjalanan terakhir dijadwalkan hingga pukul 23.00 WIB.
Namun, tiket sering kali habis sebelum waktu keberangkatan terakhir.
Tingginya minat membuat pengunjung harus sigap mengatur waktu kedatangan.
Banyak yang rela mengantre hingga malam demi merasakan sensasi berlayar di bawah cahaya lampion.
Tak sedikit pula yang datang dari luar kota khusus untuk momen ini.
Suasana di bantaran sungai semakin semarak dengan pedagang kuliner dan pertunjukan seni yang digelar selama festival berlangsung.
Lampion yang menghiasi kawasan Pasar Gede akan tetap menyala hingga Idul Fitri 2026.
Namun, perahu wisata hanya tersedia sampai 21 Februari 2026.
Artinya, setelah tanggal tersebut, wisatawan harus menunggu satu tahun lagi untuk kesempatan serupa.
Keunikan inilah yang membuat perahu Sungai Pepe selalu dirindukan.
Ia bukan sekadar wahana, melainkan simbol perayaan yang dinanti.
(TribunStyle.com/Putri Asti)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.