Jakarta -
Setelah kematian, serangkaian proses alami mulai terjadi dalam tubuh manusia. Jenazah akan mendingin, memucat, dan mengeras sebelum akhirnya mulai membusuk. Proses tubuh menjadi kaku ini disebut rigor mortis.
Rigor mortis adalah proses alami yang terjadi pada tingkat sel. Proses ini dimulai segera setelah kematian, ketika tubuh kehabisan adenosin trifosfat (ATP), molekul energi yang menjadi sumber utama tenaga bagi kontraksi otot.
"ATP pada dasarnya adalah sumber energi fundamental untuk kontraksi otot. Molekul ATP itulah yang memungkinkan kita bergerak," ujar Dr Michelle Jorden, ahli medis dari National Association of Medical Examiners dikutip dari LiveScience, Minggu (22/2/2026).
Setelah kematian, tubuh berhenti memproduksi ATP. Kemudian, persediaan molekul energi tersebut biasanya habis dalam beberapa jam.
Tubuh membutuhkan ATP bukan hanya untuk bergerak, tetapi juga untuk relaksasi otot. Saat cadangan ATP menipis, filamen otot atau protein yang saling terikat di dalam sel otot, mulai saling menempel dan terkunci, sehingga tubuh menjadi kaku dalam waktu beberapa jam.
Antara dua hingga enam jam setelah kematian, kekakuan pertama kali muncul pada otot-otot kecil di wajah. Setelah enam hingga 12 jam, kekakuan menjalar ke otot yang lebih besar di tangan, lengan, leher, dan dada.
Terakhir, otot-otot terbesar di bagian bawah tubuh ikut mengeras. Rigor mortis pada seluruh tubuh biasanya terjadi antara 12 hingga 24 jam setelah kematian.
Fase tubuh yang kaku ini tidak muncul secara permanen. Rigor mortis berlangsung selama 24-48 jam, lalu menghilang saat proses pembusukan di mulai.
Pada tahap ini, otot kembali lemas karena proses pembusukan memecah struktur protein. Tubuh kembali lemas dalam urutan yang sama seperti saat mengeras, dimulai dari wajah dan tangan, lalu leher dan tubuh bagian atas, hingga akhirnya kaki.
Jorden, yang juga seorang ahli patologi forensik dan neuropatologi, mengatakan menentukan waktu terjadinya rigor mortis bisa menjadi metode dalam analisis lokasi kematian.
"Hal ini dapat memberikan petunjuk apakah jenazah telah dimanipulasi atau dipindahkan," katanya.
"Selain itu, jika waktu terjadinya rigor mortis tidak sesuai dengan dugaan situasi kematian, hal tersebut bisa menjadi petunjuk yang membuat kami berhenti sejenak dan mengajukan pertanyaan lebih lanjut," tandas Jorden.