Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) mendorong Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) untuk berperan aktif mengintegrasikan sertifikasi internasional yang relevan dengan kebutuhan pelajar Indonesia.


Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua BNSP, Syamsi Hari, saat melakukan audiensi dengan PPI Dunia, sebagaimana pernyataan pers yang diterima di Jakarta, Minggu.


“PPI Dunia diharapkan dapat mencari dan mengintegrasikan sertifikasi internasional serta membawa standar internasional ke dalam standar nasional,” kata Syamsi Hari.


Dalam audiensi tersebut, PPI Dunia memaparkan profil organisasi dan berbagai program kerja, termasuk Internal Learning Series (ILS) sebagai program peningkatan kapasitas internal melalui pelatihan dan sertifikasi.


PPI Dunia juga menyampaikan bahwa minat pelajar dan alumni Indonesia di luar negeri untuk kembali dan bekerja di Indonesia cukup tinggi.






Menanggapi hal tersebut, Ketua BNSP menekankan pentingnya peningkatan kesadaran akan kompetensi bagi generasi muda sebagai kunci penguatan kualitas sumber daya manusia.


Syamsi menambahkan bahwa sertifikasi yang diterbitkan oleh BNSP telah diakui secara internasional dan menjadi instrumen penting dalam memastikan standar kemampuan tenaga kerja Indonesia.


Dirinya juga menilai bahwa PPI Dunia memiliki potensi untuk mengidentifikasi berbagai jenis sertifikasi populer di luar negeri yang belum banyak dikenal di Indonesia. Oleh sebab itu, dirinya mendorong agar PPI Dunia lebih aktif untuk mengintegrasikan sertifikasi nasional sesuai kebutuhan para pelajar.


Syamsi pun mencontohkan pengalaman lembaganya dalam mensertifikasi berbagai profesi, termasuk Pekerja Migran Indonesia (PMI). Sertifikasi tersebut telah diterapkan secara ketat pada sejumlah bidang pekerjaan, misalnya, auditor halal yang wajib memiliki sertifikasi.


Lebih lanjut, Syamsi mengapresiasi langkah PPI Dunia yang menginisiasi pertemuan ini sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas SDM Indonesia.






“BNSP menyatakan bangga atas inisiatif PPI Dunia melakukan audiensi,” ungkap Syamsi.