TRIBUNJATIM.COM - Inilah sosok Abah Mamad (70), tukang cukur yang tak pernah patok tarif terhadap pelanggannya.
Ia terima saja jika ada pelanggan yang membayar Rp 2.000 hingga Rp 10.000.
Bahkan, tak jarang ada pelanggan yang tidak membayar sama sekali.
Ia juga pernah membiarkan seorang pelanggan pergi tanpa membayar karena mengaku tidak memiliki uang karena baru pulang merantau.
"Dia bilang punya uang cuma buat ongkos angkot ke rumah, ya enggak apa-apa, enggak usah bayar," ujarnya yang memiliki lapak pangkas rambut sederhana di Jalan Empang, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, melansir dari Kompas.com.
Baca juga: Dulu Jadi Tukang Cukur Keliling, 2 Lulusan SMA Kini Jadi Bos Usaha Pangkas Rambut dan Punya 2 Cabang
Dia mengungkapkan, penghasilannya sebagai tukang cukur tidak menentu.
Dalam sehari, ia biasanya hanya memperoleh sekitar Rp 10.000 dan paling banyak Rp 20.000.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mencukupkan penghasilan yang ada.
Selain menjadi tukang cukur, sesekali ia juga bekerja sebagai kuli bangunan jika ada yang memanggilnya.
Meski begitu, profesi utamanya tetap sebagai tukang cukur.
Menurut Mamad, pekerjaan ini sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak tahun 1970-an.
Ia bahkan mengaku akan terus mencukur rambut pelanggan selama masih kuat bekerja.
"Kalau diberi sehat, ya bakal terus jadi tukang cukur, sampai sekuatnya saja," katanya.
Setiap hari, Mamad menempuh perjalanan sekitar lima kilometer dari rumahnya menuju lapak pangkas rambutnya di Jalan Empang.
Perjalanan itu ia lakukan dengan berjalan kaki, pulang pergi.
Peralatan yang digunakan Mamad juga sangat sederhana
Gunting yang ia pakai sudah cukup lama dan mulai tumpul sehingga harus diasah berulang kali agar tetap bisa digunakan.
Mesin cukur yang ia miliki pun bukan alat listrik modern.
Sebagian besar alat itu sudah berusia tua dan ia beli dari lapak barang bekas belasan tahun lalu.
Dulu, Mamad pernah membuka lapak pangkas rambut di Pasar Rangkasbitung.
Namun, setelah pasar tersebut dibongkar, ia memindahkan tempat usahanya ke Jalan Empang, dekat pasar, dan bertahan di sana hingga sekarang.
Lapak itu menempel di tembok bangunan di Jalan Empang, dia pakai secara cuma-cuma.
Mamad mengaku tidak pernah iri dengan banyaknya barbershop modern yang terus bermunculan.
Dia memiliki keyakinan setiap orang punya jalan dan rezekinya masing-masing.
"Ya kalau saya gini saja sudah alhamdulillah, yang penting tidak minta-minta, ada kerjaan dan cukup," ujar dia.
Inilah kisah dua lulusan SMA yang kini sukses membuka usaha pangkas rambut hingga punya dua cabang.
Dua perantau asal Kabupaten Garut ini bernama Supriatna (37) dan Kurniawan (36).
Mereka merupakan pemilik usaha Jaya Pangkas yang kini memiliki dua lokasi operasional dengan delapan tukang pangkas di bawah naungannya.
Perjalanan usaha tersebut dimulai pada 2011 saat keduanya memutuskan merantau dari Garut ke Bandung untuk mencari pekerjaan.
“Enggak ada pilihan, nyari kerja di Garut susah. Dari SMP kemampuan yang diasah cuma nyukur,” ujar Supriatna saat ditemui, Kamis (12/3/2026).
Modal awal mereka saat itu hanya satu set alat cukur sederhana, beberapa botol minyak rambut, serta kain penutup badan.
Tanpa memiliki tempat tetap, Supriatna dan Kurniawan memulai usaha dengan layanan cukur keliling di wilayah Kecamatan Soreang dan sekitarnya.
Mereka berkeliling menggunakan sepeda motor tua pinjaman dari kerabat untuk menawarkan jasa pangkas rambut kepada warga.
“Dikasih sama Mamang di Garut itu cuma alat seadanya, dimasukin ke kotak kaya semir gitu, ya saya sama Kang Supriatna jalan saja di Bandung keliling, sampai akhirnya nyampe ke Kabupaten Bandung,” kata Kurniawan, melansir dari Kompas.com.
Baca juga: Gajinya Dulu Rp 36 Juta, Mantan Bos Rental Mobil Kini Jadi Tukang Cukur dan Dapat Rp 100 Ribu Sehari
Beberapa bulan kemudian, mereka menemukan tempat untuk menetap sementara, yakni di bawah pohon besar di kawasan Kecamatan Kutawaringin.
Di lokasi itu, mereka menyediakan dua kursi kayu buatan sendiri dan sebuah meja kecil untuk meletakkan peralatan cukur.
“Ya tahun 2012 lah, masih nyukur di bawah pohon. Banyak yang datang alhamdulillah, karena mungkin adem juga di bawah pohon. Kita berdua belum punya kios waktu itu,” tutur Supriatna.
Ia mengaku perjalanan usaha tidak selalu mudah.
Berbagai tantangan harus dihadapi, mulai dari kondisi ekonomi hingga gangguan dari pihak-pihak yang meminta uang atau layanan gratis.
“Tahun itu rintangannya banyak juga, kadang ada yang malak, kadang ada saja yang minta dicukur secara gratis. Tapi ya gimana yah perjalanan namanya juga. Dulu sudah kepikiran harus punya kios,” ujarnya.
Setelah empat tahun berjuang dan menabung dari hasil usaha, pada 2015 mereka akhirnya memberi nama resmi pada usaha tersebut, yakni Jaya Pangkas.
Nama itu dipilih sebagai harapan agar usaha yang dirintis dapat terus berkembang.
“Sebetulnya enggak filosofis, tapi kata kita punya energi saja, banyak yang support ke kita sejak dulu buat terus bertahan,” kata Supriatna.
Dengan semangat baru, mereka mulai merencanakan pengembangan usaha.
Baca juga: Dari Pelatihan ke Pangkas Rambut Profesional, Tukang Cukur Binaan Dinsos Kediri Makin Diminati
Pada 2018, keduanya berhasil menyewa sebuah ruko kecil di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, yang berada di dekat pasar tradisional.
Tempat itu kemudian direnovasi secara sederhana dengan menyediakan empat kursi pangkas rambut serta perlengkapan yang lebih lengkap.
Empat tukang pangkas muda dari berbagai daerah di Jawa Barat kemudian direkrut dan dilatih langsung oleh keduanya selama tiga bulan.
Pada 2022, Supriatna dan Kurniawan membuka cabang kedua di kawasan Soreang, yang merupakan lokasi awal mereka membuka usaha di bawah pohon.
Tempat yang dulu hanya berupa area terbuka kini diubah menjadi ruangan tertutup yang lebih rapi dengan empat kursi pangkas rambut.
Saat ini, kedua cabang Jaya Pangkas mempekerjakan delapan tukang pangkas.
“Kalau bahasa Sundanya mah ‘merekeutkeun’, jadi apa yang sudah dihasilkan kita kumpulin tuh, upaya hemat menggunakan uang tabungan, alhamdulillah akhirnya bisa sampai sekarang,” ujar Supriatna.
Ia menambahkan, para pekerja tidak hanya mendapatkan upah, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan keterampilan, termasuk mengikuti pelatihan singkat di sekolah kecantikan.
“Ya harus memperlakukan dengan layak, kata orang tua kita dulu bilang, sebelum jadi bos harus merasakan jadi anak buah. Jadi kami tahu betul situasi dan apa yang mereka rasakan,” jelasnya.
Ke depan, keduanya berencana memperluas usaha dengan membuka cabang baru di wilayah lain di Kabupaten Bandung.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.