TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Ogoh-ogoh Sapa Warang Banjar Gemeh berhasil tampil memukau pada malam Pengerupukan di Catus Pata Denpasar, Bali, Rabu 18 Maret 2026.

Tak sedikit warga yang berdecak kagum melihat Sapa Warang saat diarak sambil mengeluarkan asap dari wajahnya.

Seniman asal Gemeh, Marmar Herayukti mengatakan, ekspresi kagum masyarakat merupakan aura yang tidak bisa dibuat begitu saja atau tidak mengada-ada.

Menurutnya, itu semuanya merupakan satu pola energi yang acapkali ditemukan di beberapa tempat.

Baca juga: Badan Terkoyak Sambil Menangis, Ini Makna Ogoh-ogoh Sapa Warang Banjar Gemeh Denpasar Bali

"Contohnya di catus pata itu ketika ketemu sesuatu energi dari ogoh-ogohnya sendiri, dari apa yang akan kita tampilkan, lalu dari energi penonton itu ketemu beberapa kali terjadi seperti itu," jelasnya, Sabtu 21 Maret 2026.

Hal serupa juga ia temukan saat ogoh-ogoh Laliaran Tahun 2024 tampil di malam Pengerupukan. Semua penonton terdiam setelah suara gamelan mulai masuk.

Masuk dalam situasi itu, Marmar mengaku menikmati juga. Pada saat itu ia merasa menjadi bagian dari penonton yang hening.

"Sama seperti yang lain menurut saya perasaan yang dirasakan oleh penonton itu kurang lebih apa yang saya rasakan pada saat itu. Saya bahkan tidak merasa saya orang yang membuat itu. Saya merasa bagian dari orang yang melihat pada saat itu. Karena memang waktunya ogoh-ogoh itu yang solah (tampil)," imbuhnya.

Menurutnya mengapa Sapa Warang begitu disukai oleh masyarakat sebab ide konsepnya yang tidak biasa, selain itu penggarapannya juga komposisi bentuk ogoh-ogoh yang tidak umum.

Wajah Sapa Warang merupakan karakter rahasia yang tidak umum seperti biasanya dibuat.

"Jadi sebenarnya secara angle itu sebenarnya wajahnya bolak balik. Yang umum kita lihat dari bawah itu sebetulnya bagian belakangnya, tapi seolah-olah dia menghadap ke depan, padahal itu sebenarnya bagian belakang," terangnya.

Selain itu, banyak ditambahkan detail di dalam setiap partnya.

Seperti bagian kulit, bagian wajah, begitu pun riasannya menonjol riasan Bali yang diambil dari era-era Bali yang lebih kuno.

Komposisi-komposisi itu yang bikin Sapa Warang menjadi spesial selain konsepnya juga.

"Sapa Warang saya garap cukup panjang (durasi pengerjaannya) sebetulnya daripada ogoh-ogoh yang lain. Ini agak lebih panjang seperti dari Kiai Nirnur kemarin, ini mungkin lebih panjang. Saya punya spare waktu seminggu-dua minggu lebih panjang daripada Kiai Nirnur," paparnya.

Karyanya kerap ditunggu-tunggu membuat Marmar merasa lebih diapresiasi.

Hal tersebut akan semakin membakar semangatnya setiap tahunnya untuk membuat karya yang layak ditunggu dan tidak mengecewakan.

"Mungkin mereka juga yang menunggu itu satu merasa penasaran apa yang akan ditampilkan setelah melihat ogoh-ogoh langsung pada siang hari atau pagi harinya. Nanti malam Pengurupukan seperti apa sih performance yang akan kita tampilkan mungkin itu sih. Jadi mereka rela menunggu berdasarkan malah saya lihat itu ramai banget. Jutaan orang mungkin rame banget padat," pungkasnya.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.