TRIBUNPRIANGAN.COM, JAKARTA - Keterlambatan masuknya Beckham Putra menjadi sorotan usai Timnas Indonesia kalah 0-1 dari Bulgaria di final FIFA Series 2026. Permainan Garuda justru lebih hidup di menit akhir saat Beckham diturunkan.
Banyak yang melihat Timnas Indonesia mengalami kebuntuan menembus pertahanan Timnas Bulgaria pada final FIFA Series 2026.
Beckham baru masuk pada menit ke-79 menggantikan Joey Pelupessy, ketika intensitas serangan Indonesia mulai menurun dan tim masih tertinggal.
Padahal, pada pertandingan sebelumnya, Beckham tampil sebagai pembeda dengan torehan dua gol. Minimnya menit bermain di laga final membuat kontribusinya tak maksimal sejak awal, meski dalam sekitar 10 menit penampilannya, permainan Indonesia justru tampak lebih hidup.
Masuknya Beckham, bersama Dony Tri Pamungkas pada menit ke-73, menghadirkan dinamika baru di lini serang Indonesia. Timnas mulai lebih berani melakukan penetrasi ke kotak penalti dan meningkatkan tempo serangan, sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan saat menghadapi blok pertahanan rapat Bulgaria.
Baca juga: Analisis Timnas Indonesia VS Bulgaria dari Guru Besar FPOK UPI
Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (30/3), Indonesia harus mengakui keunggulan Bulgaria dengan skor tipis 0-1.
Sejak peluit awal, skuad Garuda tampil dominan dalam penguasaan bola. Tim asuhan John Herdman mengontrol hingga sekitar 65 persen penguasaan bola dan terus mencoba membangun serangan dari kedua sisi sayap.
Namun dominasi tersebut tidak berbanding lurus dengan efektivitas di sepertiga akhir. Struktur pertahanan Bulgaria yang disiplin membuat Indonesia kesulitan menemukan ruang di area krusial. Aliran bola lebih banyak berputar di lini tengah tanpa mampu dikonversi menjadi peluang bersih.
Perubahan taktik Herdman juga menjadi faktor kekalahan timnas. Setelah sukses menggunakan pendekatan false midfielder di laga sebelumnya, kali ini ia melakukan perjudian dengan mengubah formasi menjadi 3-4-3.
Perubahan ini memang memberikan kontrol lebih dalam fase build-up, tetapi di sisi lain mengurangi fleksibilitas di lini depan. Serangan Indonesia mudah dibaca lawan, sehingga Bulgaria dapat mengantisipasi dengan blok rendah yang rapat dan terorganisir.
Baca juga: Beckham Menggila di GBK! Brace Kilat Bungkam Kritik, Timnas Indonesia Hajar St Kitts & Nevis 4-0
Kebuntuan tersebut berujung petaka pada menit ke-34. Kevin Diks melakukan pelanggaran terhadap Zdravko Dimitrov di dalam kotak penalti. Wasit Nazmi Nasaruddin sempat melanjutkan pertandingan sebelum akhirnya menunjuk titik putih setelah meninjau VAR.
Marin Petkov yang maju sebagai eksekutor sukses menaklukkan Emil Audero pada menit ke-38. Gol tersebut menjadi satu-satunya yang tercipta dalam pertandingan dan bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, Indonesia tetap menguasai jalannya laga, tetapi masalah utama belum berubah: kurangnya daya dobrak di lini depan. Pergantian pemain yang dilakukan Herdman di awal babak kedua belum mampu mengubah situasi secara signifikan.
Justru Bulgaria yang sempat mengancam pada menit ke-56, meski upaya mereka masih bisa digagalkan lini belakang Indonesia.
Peluang terbaik Indonesia datang pada menit ke-74 melalui Ole Romeny. Dalam situasi satu lawan satu, ia mencoba melakukan chip saat melihat kiper Bulgaria keluar dari sarangnya. Namun bola hanya membentur mistar gawang.
Momentum perubahan baru terasa saat Beckham Putra dan Dony Tri Pamungkas masuk pada menit ke-79. Kehadiran keduanya meningkatkan intensitas serangan, terutama melalui pergerakan tanpa bola dan keberanian melakukan duel di kotak penalti.
Tekanan Indonesia meningkat signifikan dalam 10 menit terakhir. Peluang kembali tercipta pada menit ke-86 melalui sepakan Rizky Ridho, tetapi lagi-lagi bola hanya membentur mistar gawang. Hingga peluit panjang dibunyikan, Indonesia gagal mencetak gol meski tampil dominan hampir sepanjang pertandingan.
Usai laga, Herdman mengungkapkan kekecewaannya terhadap hasil akhir, meski tetap mengapresiasi performa tim.
“Sangat disayangkan sekali, sungguh sangat disayangkan,” ujarnya.
Ia menilai, secara permainan Indonesia sudah menunjukkan identitas yang diinginkan, terutama dalam hal penguasaan bola dan konektivitas antar lini.
“Kami bermain melawan tim Eropa dengan tradisi kuat. Saya pikir kami tampil bagus dengan identitas menyerang dan tim terlihat terhubung selama 90 menit,” kata Herdman.
Herdman juga menyoroti faktor ketidakberuntungan yang dialami timnya, terutama dua peluang yang membentur mistar gawang serta keputusan penalti yang dinilainya cukup ringan.
“Kami punya dua peluang yang mengenai mistar dan penalti yang menurut saya soft. Kami sedikit kurang beruntung, tapi secara permainan kami sudah berada di jalur yang benar,” ujarnya.
Secara tidak langsung, Herdman mengakui bahwa fase akhir pertandingan justru menjadi periode terbaik Indonesia, terutama setelah masuknya Beckham dan Dony.
“Dalam 10 menit terakhir kami memiliki Beckham dan Dony. Mereka memberikan energi, agresivitas, dan kualitas di kotak penalti. Itu menjadi hal yang harus terus kami kembangkan,” katanya.
Analisis pertandingan menunjukkan bahwa dominasi penguasaan bola Indonesia belum diimbangi dengan efektivitas di lini depan. Perubahan taktik yang dilakukan Herdman memberi kontrol permainan, tetapi mengurangi ketajaman di area krusial.
Kehadiran Beckham Putra yang terlambat menjadi indikasi bahwa kreativitas dan keberanian menyerang justru baru muncul di fase akhir pertandingan, ketika waktu sudah semakin terbatas.
Ke depan, Herdman menegaskan akan terus membenahi efektivitas serangan timnya, agar dominasi permainan dapat dikonversi menjadi gol.
“Kami bisa mengontrol permainan hingga sepertiga akhir, tetapi harus lebih tajam. Kami akan terus bekerja dan berkembang,” tutupnya.
Setelah gelaran FIFA Series 2026, Timnas Indonesia akan kembali bersiap menghadapi agenda berikutnya, yakni Piala AFF pada Juli–Agustus mendatang. (Tribun Jabar/Tribunnews)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.