Lewat hal yang sudah dijalani selama 2,5 tahun, Uma Oma Group membuktikan bahwa lansia adalah Sumber Daya Manusia yang berharga dan loyal bila didukung dan diberi peluang untuk berkembang.

Jakarta (ANTARA) - Ketika menginjakkan kaki ke restoran ini, rasanya tamu sedang pulang ke rumah nenek lalu disuguhi makanan-makanan rumahan yang lezat. Di sini, para konsumen disebut "cucu kesayangan" yang disambut oleh para "oma" alias staf lanjut usia.


Oma-oma dengan seragam rapi dipadu bawahan kain batik dengan hangat menyambut setiap "cucu" yang membuka pintu Uma Oma Heritage, restoran di area Menteng, Jakarta.


Sebelumnya, Uma Oma Group sudah membuka Uma Oma Cafe di Blok M, Jakarta, yang dipenuhi anak-anak muda. Kafe ini sempat viral di jagat maya karena para konsumen terkesan dengan kehangatan dari karyawan lansia yang bertugas menyambut para tamu.


Di kafe yang lebih sempit dan terdiri dari tiga lantai, karyawan lansia ditempatkan di lantai satu dan dua. Mereka hanya bertugas di lantai masing-masing agar tidak perlu bolak-balik naik turun tangga demi keselamatan.


Versi restoran Uma Oma Heritage Menteng punya konsep yang sedikit berbeda. Dengan bangunan khas rumah lawas, rasanya benar-benar seperti anak Menteng yang pulang ke rumah nenek.






Selain lebih luas, bangunannya hanya satu lantai, sehingga karyawan lansia bisa lebih leluasa bergerak untuk mengantarkan makanan dan minuman.


Uma Oma Heritage, Menteng, Jakarta. (ANTARA/HO)


Dalam peresmian di Jakarta, Kamis (2/4), para oma sibuk mendatangi para cucu, menuangkan air mineral dan teh, menyendokkan nasi ke piring, sampai mengantarkan lauk pauk yang lezat. Di sela pelayanan, mereka juga kerap mengobrol dengan para tamu seakan cucu sendiri.


"Saya tadinya sibuk latihan sendiri, menyiapkan alat sendiri, bertanding sendiri, sekarang harus kerja bersama-sama banyak orang, ternyata tidak terasa sudah tiga bulan," ujar Oma Lauren, salah satu pramusaji yang dulunya atlet bulu tangkis, kepada ANTARA, Kamis (2/4).


Lauren, yang mengaku seangkatan dengan Susi Susanti, sama sekali tidak punya pengalaman di dunia restoran. Bahkan, ini adalah pekerjaan pertamanya. Dari dunia olahraga, Lauren belajar banyak hal soal industri keramahtamahan serta makanan dan minuman.






Uma Oma Heritage, Menteng, Jakarta. (ANTARA/Nanien Yuniar)


Tak cuma dilatih cara menghadapi tamu-tamu, perlahan tapi pasti ia juga belajar menguasai teknologi agar bisa beradaptasi dengan sistem pelayanan restoran yang efisien. Memasukkan pesanan tamu ke dalam sistem via gawai kini bukanlah hal yang sulit baginya.


Selain menyajikan hidangan kepada tamu, dia juga bertugas membuat Bika Talago, salah satu kudapan khas Nusantara yang ditawarkan di sana. Hari ini, Lauren menjadi wajah dari Dapur Oma, elemen interaktif tempat para oma membuat kue dan jajanan tradisional Nusantara secara langsung.



Versi premium


Uma Oma Heritage masih menawarkan cita rasa masakan rumahan, tapi dibungkus dengan gaya yang lebih premium. Pemilihan alat makan yang lebih elegan serta desain interior yang lebih mewah menegaskan konsep tersebut.






Menunya sungguh beragam, kuliner dari berbagai penjuru Indonesia. Makanan pembukanya terdiri dari aneka kue seperti Putri Noong dari Jawa Barat, Talam Ebi dari Kalimantan, Bika Talago khas Minangkabau yang lembut dan manis, serabi dengan pugasan tempe, juga Kue Lontar dari Papua yang bentuk dan rasanya serupa dengan pai susu.



Makanan utama di Uma Oma Heritage, Menteng, Jakarta. (ANTARA/Nanien Yuniar)


Lauk-lauknya mengenyangkan karena disuguhkan dalam porsi besar yang bisa dinikmati bersama-sama. Nasi putih yang sudah disajikan di piring dipadukan dengan Ayam Betutu, Itiak Lado Mudo yang dibalur dengan sambal hijau pedas Minangkabau, Empal Gentong khas Cirebon, serta Cumi Hitam Oma yang punya kejutan karena dihiasi dengan cumi krispi. Sayurnya? Ada Kangkung Bunga Paya yang segar.


Setelah kenyang menikmati makanan utama, para oma datang lagi untuk menyuguhkan hidangan penutup berupa Es Kacang Merah. Saat disendokkan ke mulut, rasa sirup dan susu yang manis membuat kenangan akan cita rasa favorit saat masih kecil kembali menyeruak.






Tak lama kemudian, Bolu Tape yang lembut dengan aroma khas juga disuguhkan.


"Cucu oma makannya harus pintar ya," seloroh Oma Jo yang menemani kami sepanjang siang.



Makanan penutup di Uma Oma Heritage, Menteng, Jakarta. (ANTARA/Nanien Yuniar)


Menu minumannya juga bervariasi. Meski lekat dengan kesan rumahan, menu-menu yang sering kali ada di kafe-kafe modern pun bisa dipesan di sini.


Bedanya, penamaannya lebih membumi. Mont Blanc, misalnya, ditulis sebagai es kopi krim jeruk. Kopi susu manis yang jadi favorit di ibu kota pun hadir sebagai Kopi Kesayangan Oma. Tentunya pengunjung juga bisa menyesap minuman-minuman tradisional seperti Es Asam Jawa, Susu Jahe, sampai Wedang Uwuh.



Lansia berdaya


Konsep pemberdayaan lansia di industri makanan dan minuman muncul dari pengalaman personal para pendiri.


Juna E. Salat, penggagas utama brand Uma Oma yang punya bisnis katering keluarga, mengaku dirinya adalah cucu kesayangan dari sang nenek. Bisnis yang ia besarkan adalah persembahan untuk nenek.


"Dari setiap elemen yang ada di Uma Oma ini, aku pengin ada nostalgia di situ, seperti pulang ke rumah," kata Juna.


Co-founder Uma Oma Group, Firhan Salam, menegaskan bahwa para oma bukanlah sekadar pemanis. Karyawan lansia adalah inti dari pengalaman kuliner di restoran.


"In other words, mereka itu the heart and soul dari brand Uma Oma ini sendiri," ujar Firhan.


Ki-ka: Pendiri Uma Oma Group June E. Salat, Oma Lauren, Oma Betty, co-founder Firhan Salam, dan co-founder Heisel Ridwan di peresmian restoran Uma Oma Heritage, Menteng, Jakarta, Kamis (2/4). (ANTARA/Nanien Yuniar)


Mereka ingin menepis stigma yang melekat kepada lansia yang dianggap tidak berdaya karena usianya tak lagi muda.


Lewat kafe dan restoran, mereka membuktikan bahwa lansia masih bisa tetap produktif. Di restoran ini, komposisi lansia mencapai 30 persen dari total staf. Semua punya porsi kerja masing-masing. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar akan dilakukan oleh karyawan-karyawan muda.


Misalnya, pramusaji muda akan membawa banyak makanan sekaligus, kemudian para oma yang mengantarkannya satu per satu kepada tamu.


Firhan mengatakan, pihaknya sedang menjajaki diskusi dengan Kementerian Ketenagakerjaan untuk membuat kolaborasi yang bertujuan memberdayakan lansia.


Lewat hal yang sudah dijalani selama 2,5 tahun, Uma Oma Group membuktikan bahwa lansia adalah Sumber Daya Manusia yang berharga dan loyal bila didukung dan diberi peluang untuk berkembang.


"Kami juga dalam proses menyediakan yayasan bernama Uma Oma Foundation, seperti wadah pelatihan juga."


Sejauh ini, pelatihan untuk karyawan lansia dilakukan secara internal. Dia berharap kolaborasi mendatang bisa menciptakan pelatihan yang lebih variatif, menjangkau lebih banyak orang, serta memberikan ruang-ruang lebih luas untuk lansia yang ingin aktif dan mandiri.