TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Ikan sapu-sapu yang dikenal invasif karena merusak ekosistem perairan menjadi sumber nafkah bagi warga atau nelayan di Kali Ciliwung, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Setiap harinya warga penangkap ikan sapu-sapu turun ke aliran Kali Ciliwung demi menjaring spesies asal Amerika Latin tersebut, untuk selanjutnya dijual ke pengepul sebagai bahan makanan.
Di antaranya Tedy Supriyadi (43) yang sudah 15 tahun menjadi penangkap ikan sapu-sapu di sepanjang aliran Kali Ciliwung, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati.
"Kita sekali turun itu bisa sampai delapan jam, dari sore sampai malam. Kadang bisa sampai pagi lagi untuk jala ikan sapu-sapu," kata Tedy di Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (18/4/2026).
Menggunakan peralatan seperti jaring dan ban bekas yang digunakan sebagai pelampung, rata-rata setiap harinya Tedy dapat menangkap hingga 100 kilogram ikan sapu-sapu.
Ikan sapu-sapu yang sudah tertangkap tersebut dia potong untuk kemudian diambil bagian dagingnya, lalu dijual kepada pengepul dengan harga berkisar Rp15-Rp20 ribu per kilogram.
Tapi karena daging ikan sapu-sapu sedikit, dari 100 kilogram ikan sapu-sapu hasil tangkapan maka daging yang diperoleh setelah proses pemotongan hanya berkisar 30 kilogram.
Rata-rata setelah bekerja hingga 13 jam untuk proses menangkap dan memotong ikan sapu-sapu Tedy dapat mendapat Rp400 ribu, tapi penghasilan ini bukan tanpa risiko.
"Dulu pernah ada teman (penangkap sapu-sapu) hanyut, hanyut dari sini (Kramat Jati) sampai ditemukan tiga hari setelahnya di Kali Angke (Jakarta Barat). Ditemukan sudah meninggal," ujarnya.
Pengalaman selama belasan tahun membuat Tedy paham bahaya yang mengintai di aliran Kali Ciliwung, terlebih saat tinggi muka air sedang naik akibat debit air kiriman di Depok dan Bogor.
Tapi sebagai seorang ayah yang harus menghidupi anak-anaknya, meski saat tinggi muka air naik Tedy setiap harinya tetap harus turun ke Kali Ciliwung untuk menangkap ikan sapu-sapu.
Untuk meminimalisir risiko saat melakukan penangkapan ikan sapu-sapu, Tedy memanfaatkan waktu sebelum debit air kiriman dari Depok dan Bogor tiba ke Kali Ciliwung di Jakarta.
"Jadi kita cek dulu di Katulampa (Bogor) dan (Pos Pantau) Depok. Kalau kita lihat di sana sudah naik, kita langsung turun. Biar pas sebelum air sampai Jakarta kita sudah dapat ikan," tuturnya.
Selain risiko hanyut, para penangkap ikan sapu-sapu juga dibayangi keberadaan ular di sepanjang aliran Kali Ciliwung yang sewaktu-waktu dapat menggigit mereka saat bekerja.
Kemudian risiko kecelakaan kerja terluka karena tubuh tersangkut jaring, tapi semua bahaya tersebut tetap dihadapi para penangkap ikan sapu-sapu demi memenuhi kebutuhan hidup.
Di sepanjang aliran Kali Ciliwung wilayah Kelurahan Cililitan saja setidaknya terdapat 20 penangkap sapu-sapu yang mencari nafkah dengan menjual daging sapu-sapu ke pengepul.
Pengepul atau bandar daging ikan sapu-sapu yang membeli daging dari penangkap ikan sapu-sapu pun tidak hanya seorang, umumnya masing-masing penangkap memiliki pengepul tersendiri.
Nantinya daging ikan sapu-sapu tersebut dijual pengepul sebagai bahan baku pembuatan olahan siomay, otak-otak, hingga pakan ternak bebek dan lele sesuai kebutuhan pembeli.
"Saya menangkap ikan sapu-sapu sudah lama, dari anak masih merah (baru lahir) sampai sekarang sudah besar. Kadang juga daging ikan sapu-sapu saya goreng untuk makan sendiri," lanjut Tedy.
Sebagai penangkap ikan sapu-sapu, Tedy berharap mendapat perhatian dari Pemkot Jakarta Timur yang menyatakan akan memberikan insentif uang kepada warga penangkap sapu-sapu.
Rencana ini sebelumnya dilontarkan Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin saat operasi penangkapan ikan sapu-sapu serentak di 10 kecamatan untuk mengembalikan ekosistem perairan lokal.
Tedy mengatakan bila rencana insentif bagi penangkap sapu-sapu terealisasi, maka para nelayan cukup menangkap sapu-sapu lalu menyerahkannya ke petugas untuk dikubur.
Mereka tidak perlu bersusah payah memotong ikan sapu-sapu yang memiliki kulit keras hanya untuk mengambil bagian daging ikan, sehingga meringankan beban kerja para nelayan.
"Kalau dijual mentah per ekor belum dipotong enggak ada yang mau, harus sudah bentuk daging. Kalau dapat insentif kan kita enggak perlu motong-motong untuk ambil daging," sambung Tedy.
Menurutnya para penangkap sapu-sapu di Kali Ciliwung secara tidak langsung sudah sejak lama membantu Pemprov DKI Jakarta untuk mengendalikan populasi, atau membasmi sapu-sapu.
Terlebih populasi ikan sapu-sapu di Jakarta sudah terlampau banyak dan butuh waktu untuk melakukan penangkapan, sehingga peran warga turut dibutuhkan.
Pemkot Jakarta Timur sendiri berencana membahas skema pemberian insentif bagi warga penangkap ikan sapu-sapu dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bazis Jakarta Timur.
"Namanya itu (ikan sapu-sapu termasuk) hama juga. Kan kita juga secara enggak langsung membantu membasmi ikan kan. Kata namanya ikan ya mungkin enggak bakalan habis," kata Tedy.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.