TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Ada yang dengan cepat memahami angka dan logika, sementara yang lain lebih mudah menangkap informasi melalui gambar atau visual.
Perbedaan ini tidak selalu sekadar preferensi, melainkan bisa berkaitan dengan cara kerja otak yang memang unik pada setiap individu.
Kondisi tersebut dikenal sebagai neurodivergen, yaitu keadaan di mana seseorang memiliki pola kerja otak yang berbeda dari kebanyakan orang.
Mengutip dari Scientific American, neurodivergen bukanlah sebuah gangguan atau penyakit, melainkan variasi alami dalam cara berpikir, belajar, dan berinteraksi. Kondisi ini mencakup beberapa spektrum seperti ADHD, autisme, hingga disleksia.
Penelitian juga menunjukkan bahwa salah satu langkah penting dalam mendukung perkembangan anak adalah membantu mereka memahami bagaimana cara kerja otaknya sendiri.
Ketika anak mengerti alasan di balik kesulitan fokus atau keunggulan di bidang tertentu, mereka cenderung memiliki konsep diri yang lebih positif.
• Peresmian Masjid Jami Shiraatur Rahman di Sandai, Bupati Ketapang Tekankan Gotong Royong Pembangunan
Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri serta kemampuan mereka dalam menyampaikan kebutuhan kepada orang lain.
Sebelum anak mencapai tahap tersebut, peran orang tua menjadi sangat krusial. Orang tua perlu terlebih dahulu mengenali tanda-tanda awal neurodivergen yang dapat diamati dari perilaku sehari-hari di rumah.
Gejala yang muncul biasanya tidak hanya berupa keterlambatan bicara, tetapi juga hambatan interaksi sosial yang lebih spesifik.
Menurut Ries Sansani, seorang terapis okupasi, tanda-tanda yang sering muncul antara lain kesulitan berbicara, sulit fokus, minimnya kontak mata, serta rendahnya respons terhadap interaksi sosial.
Anak mungkin tidak menunjukkan reaksi timbal balik ketika diajak berkomunikasi, bahkan saat diberikan rangsangan seperti ekspresi lucu atau ajakan bermain.
Dalam beberapa kasus, gejala ini sudah dapat terlihat sejak usia bayi melalui respons terhadap lingkungan sosial.
Namun, pengamatan saja tidak cukup. Orang tua tetap disarankan untuk melakukan konsultasi dengan tenaga profesional guna mendapatkan diagnosis yang tepat. Hal ini penting agar anak memperoleh stimulasi, terapi, atau penanganan yang sesuai sebelum memasuki dunia pendidikan formal.
Dalam konteks pendidikan, anak neurodivergen tetap memiliki peluang untuk bersekolah di sekolah umum, terutama bagi mereka yang berada pada spektrum ringan dengan kemampuan kognitif yang baik.
Meski demikian, diperlukan penyesuaian strategi pembelajaran di kelas. Salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan adalah kehadiran guru pendamping atau shadow teacher yang membantu anak tetap fokus selama proses belajar.
Selain itu, pengaturan lingkungan kelas juga berperan penting, seperti menempatkan anak di posisi yang minim distraksi atau menyesuaikan tata ruang sesuai kebutuhan sensorik mereka. Hal ini bertujuan agar anak merasa lebih nyaman dan tidak mudah mengalami kelelahan mental.
Untuk anak dengan kebutuhan yang lebih kompleks, pendekatan pendidikan tidak selalu harus berfokus pada pencapaian akademik.
Orang tua dapat mengarahkan anak pada pengembangan potensi yang dimiliki, seperti di bidang seni atau keterampilan tertentu.
Dengan pendekatan yang tepat, kelebihan tersebut dapat menjadi kekuatan utama dalam kehidupan mereka.
Di sisi lain, tantangan sosial juga sering menjadi hambatan tersendiri. Masih adanya stigma dari lingkungan sekitar dapat memengaruhi kondisi emosional anak maupun orang tua.
Seperti yang dialami Wina Natalia, yang mengungkapkan bahwa anaknya kerap mendapat pandangan negatif saat mengalami tantrum di tempat umum.
Karena itu, dukungan keluarga menjadi sangat penting, termasuk menghindari kebiasaan membandingkan anak satu dengan yang lain.
Setiap anak memiliki perjalanan dan kemampuan yang berbeda, sehingga pendekatan yang penuh empati dan pemahaman akan membantu mereka tumbuh dengan lebih optimal dan percaya diri.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.