TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat, mendapat sanksi sosial selama tiga bulan.

Mereka mendapat sanksi itu akibat perilaku tak pantas terhadap seorang guru.

SMAN 1 Purwakarta bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat dan orang tua siswa menyepakati langkah pembinaan melalui sanksi sosial yang berfokus pada pembentukan karakter.

Kepala SMAN 1 Purwakarta, Sidik Tamsil, menyebut para siswa sudah mulai menjalani sanksi sosial tersebut sejak Senin (20/04/2026).

Mereka tetap diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar dan memperoleh hak sebagai pelajar.

"Setelah kejadian, kami langsung memanggil orang tua pada Sabtu lalu. Atas arahan Disdik Jabar dan Gubernur, disepakati sanksi pembinaan selama tiga bulan," katanya  kepada wartawan di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026).

Para siswa itu diminta membersihkan lingkungan sekolah, termasuk ruang kelas hingga fasilitas toilet.

Baca juga: Pemicu Siswa Olok-olok Guru SMAN 1 Purwakarta Diungkap Kadisdik, Berawal dari Tugas Kelompok

 

"(Sanksi) ini akan dievaluasi berdasarkan perubahan sikap para siswa," ujar Sidik Tamsil.

Menurutnya, sanksi sosial ini rancang untuk membentuk karakter. 

"Mereka tetap belajar, tapi juga diberi tanggung jawab melalui kegiatan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari," ucapnya.

Di sisi lain, SMAN 1 Purwakarta pun berupaya meredam dampak sosial yang berpotensi muncul setelah kasus itu. 

Pasca video insiden tersebut viral, sembilan siswa itu menjadi sorotan publik dan rentan mengalami perundungan. 

Karena itu, sekolah mengedukasi siswa lain agar tetap menjaga sikap dan tidak memperkeruh suasana.

Baca juga: 9 Siswa yang Hina Guru SMAN 1 Purwakarta Tak hanya Dapat Sanksi, Diberi Pembinaan Sosial 1-3 Bulan

"Kami sudah melakukan pembinaan setelah apel pagi. Guru dan wali kelas diminta menenangkan siswa lain, agar tidak panik dan tetap menjaga lingkungan sekolah yang kondusif," kata Sidik Tamsil.

Sebagai langkah perlindungan, kesembilan siswa itu menjalani pembelajaran secara terpisah di ruang khusus. 

Kebijakan ini diambil untuk menjaga kondisi psikologis mereka sekaligus memastikan proses pendidikan tetap berjalan.

Sekolah, ucapnya, juga menggandeng psikolog untuk memberikan pendampingan. 

Selain itu, penggunaan gadget di lingkungan sekolah akan diperketat guna mencegah kejadian serupa terulang.

"Kami ingin memastikan mereka bisa melewati masa ini dengan baik. Pendampingan psikolog dan pembatasan penggunaan gadget menjadi bagian dari upaya pembinaan ke depan," ucap Sidik Tamsil.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.