Laporan Muhammad Azzam

TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI- Kasus sekelompok siswa SMAN 1 Purwakarta yang melecehkan guru perempuan mereka di dalam kelas hingga viral di media sosial memantik keprihatinan luas.

Bagi I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya, pemerhati kesehatan mental anak dan remaja sekaligus hipnoterapis profesional dari Indonesian Hypnosis Centre (IHC), insiden ini bukan sekadar soal kenakalan remaja, melainkan sinyal nyata dari krisis karakter yang lebih dalam.

"Perilaku merendahkan guru di depan kamera itu bukan tiba-tiba. Itu ekspresi dari defisit regulasi emosi, krisis identitas, dan pencarian pengakuan yang salah arah. Remaja hari ini tumbuh dalam budaya viral, di mana perhatian yang meskikup negatif, terasa lebih baik daripada tidak diperhatikan sama sekali," kata Dewa saat ditemui di Bekasi pada Senin (20/4/2026).

Pria yang akrab disapa Dewa ini menilai bahwa perdebatan soal bentuk sanksi, apakah skorsing 19 hari atau hukuman membersihkan sekolah seperti yang disarankan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

Menurutnya tidak akan menyentuh akar persoalan jika tidak diiringi intervensi yang tepat.

"Skorsing atau bersih-bersih toilet itu sah-sah saja sebagai bagian dari pendekatan restoratif. Tapi kalau hanya itu, anak cuma belajar memendam rasa, bukan mengubah sikap. Yang perlu disentuh adalah lapisan terdalam pikiran mereka," ujar Dewa.

Hipnoterapi: Bukan Klenik, Tapi Berbasis Bukti

Dewa menawarkan pendekatan yang mungkin masih asing di dunia pendidikan Indonesia: hipnoterapi.

Ia menegaskan bahwa hipnoterapi bukan ilmu klenik atau manipulasi pikiran seperti yang sering disalahpahami masyarakat.

Hipnoterapi adalah metode berbasis bukti yang bekerja dengan mengakses kondisi relaksasi mendalam, kondisi di mana pikiran bawah sadar lebih terbuka terhadap sugesti positif.

"Untuk remaja bermasalah perilaku, ini sangat efektif untuk membangun ulang citra diri yang sehat dan menanamkan nilai-nilai empati serta rasa hormat," jelasnya.

Dalam praktiknya, Dewa menjelaskan bahwa sesi hipnoterapi untuk remaja berfokus pada dua hal utama: penguatan jati diri dan penanaman nilai karakter. Melalui dua pendekatan ini, pola respons emosional yang destruktif dapat diubah secara lebih permanen.

"Remaja yang tampak nakal di permukaan sering kali menyimpan luka pengabaian atau kecemasan yang tidak pernah ditangani. Hipnoterapi membuka pintu dialog dengan bagian terdalam pikiran itu, jadi bukan dengan menghakimi, tapi dengan memandu. Hasilnya adalah perubahan karakter yang tumbuh dari dalam, bukan kepatuhan semu karena takut hukuman," papar Dewa.

Keluarga Tetap Kunci Utama

Di sisi lain, Dewa menyoroti peran keluarga yang tidak bisa diabaikan. Ia menilai fakta bahwa orang tua siswa yang terlibat menangis saat dipanggil pihak sekolah justru menunjukkan adanya jurang komunikasi yang selama ini tidak disadari.

"Orang tua terkejut. Itu artinya ada yang tidak tersampaikan di rumah. Rumah adalah laboratorium pertama tempat anak belajar empati dan rasa hormat. Kalau laboratorium itu tidak berfungsi, intervensi sekolah tidak akan pernah cukup," tegasnya.

Hipnoterapi, lanjut Dewa, paling efektif bila diintegrasikan dalam pendekatan holistik, dikombinasikan dengan konseling psikologis, keterlibatan aktif orang tua, dan pembinaan sekolah yang konsisten.

Kasus di SMAN 1 Purwakarta dapat  sebagai bahan refleksi bersama. Dewa berharap refleksi itu berujung pada langkah konkret, termasuk membuka ruang bagi metode ilmiah berbasis psikologi dalam program pembinaan karakter sekolah.

"Pendekatan normatif yang kaku perlu inovasi. Sudah saatnya dunia pendidikan kita melirik metode seperti hipnoterapi yang telah terbukti membantu penanganan gangguan perilaku remaja di banyak negara," kata Dewa.

Ia menutup pandangannya dengan pesan yang lugas, kasus di Purwakarta ini bukan anomali. Ini puncak gunung es, anak-anak butuh lebih dari sanksi, yaitu mereka butuh intervensi yang tepat sasaran dan ruang untuk benar-benar bertumbuh. (MAZ)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.