TRIBUNNEWS.COM - Guru merupakan fondasi utama pembangunan bangsa.
Di tangan para guru, kualitas generasi masa depan dibentuk, bukan hanya dari sisi pengetahuan, tetapi juga karakter, nilai, dan semangat kebangsaan.
Oleh karena itu, peran guru sangat strategis dalam menentukan arah kemajuan suatu negara.
Sosok guru bernama Syamsiah atau yang akrab disapa Bu Atun, baru-baru ini menyita perhatian publik.
Hal itu setelah ia diolok-olok oleh sembilan siswanya. Video aksi para siswa mengolok Bu Atun itu viral di media sosial.
Bu Atun merupakan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat.
Meski mendapat perlakuan tidak sopan, Bu Atun memilih untuk memaafkan sembilan muridnya.
Ia juga mendoakan agar mereka dapat menyadari kesalahan dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik.
"Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya."
"Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak," ujar Syamsiah atau dikenal dengan nama bu Atun kepada Tribunjabar.id, Senin (20/4/2026).
Keputusan Bu Atun yang memilih memaafkan siswa yang mengoloknya itu juga ia tegaskan saat berbincang dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Baca juga: Pengakuan Guru SMAN 1 Purwakarta setelah Dihina Siswa, Disorot Mendikdasmen dan Dedi Mulyadi
Dalam video di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel yang diunggah pada Rabu (22/4/2026), Gubernur Jawa Barat itu menanyakan alasan Bu Atun memaafkan siswa yang mengoloknya.
"Ibu memaafkan kenapa?" tanya Dedi Mulyadi.
Menurut Bu Atun, tidak semua kesalahan harus dibalas dengan hukuman keras.
Karena, kata dia, pada dasarnya setiap anak memiliki kesempatan untuk berubah dan menjadi lebih baik.
"Kasihan, itu generasi masih panjang waktunya dia berubah berbuat baik, yang salah gak selamanya salah, yang nakal gak selamanya, yang teledor itu gak selamanya."
"Apalagi didukung oleh maaf dan doa saya yang oleh mereka diperlakukan seperti itu, mudah-mudahan doa saya dikabul oleh Allah."
"Sangat memaafkan, saksinya Allah. Saya sangat memaafkan, supaya menjadi anak-anak yang berakhlak," ucapnya, dikutip Tribunnews.com, Jumat (24/4/2026).
Dalam kesempatan itu, Dedi Muyladi memberikan uang tunai sebesar Rp25 juta kepada Bu Atun.
Alih-alih menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi, Bu Atun justru langsung berniat menyumbangkan seluruh uang tersebut.
Uang itu akan disumbangkan ke yayasan anak yatim yang ia bina di depan kediamannya.
"Terima kasih banyak, Pak. Tapi saya niatkan, niat baik Bapak menjadi ganda."
"Rp25 juta akan saya sumbangkan kepada yayasan yatim yang saya bina, karena saya punya yayasan yatim di depan saya," tandasnya.
Baca juga: Sosok Syamsiah Guru PKN di Purwakarta: Pertama Kali Diolok Siswa Sejak mengajar 2003
Melansir TribunJabar.id, peristiwa itu bermula saat kegiatan pembelajaran PKN yang dikemas dalam sesi interaktif, termasuk kegiatan foto bersama di akhir pembelajaran.
Kepala SMAN 1 Purwakarta, Sidik Tamsil mengatakan, pada saat itu, terdapat juga sesi mencicipi makanan.
"Di sesi akhir ada kegiatan foto, kemudian ada momen mencicipi sesuatu sebagai bagian dari tugas siswa."
"Setelah itu, ketika situasi sudah tidak formal, ada siswa dari belakang yang melakukan gestur tidak pantas," ujar Sidik kepada Tribunjabar.id, Senin (20/4/2026).
Setelah video siswa mengolok guru viral, pihak sekolah langsung melakukan pemanggilan dan pembinaan terhadap para siswa dalam satu kelas pada hari berikutnya.
"Kami kumpulkan satu kelas, kami dalami apa yang terjadi, dan kami lakukan treatment sesuai arahan dari Dinas Pendidikan dan Gubernur," ucapnya.
Dari hasil pendalaman, sekolah menetapkan sembilan siswa terbukti melakukan tindakan tidak pantas secara sengaja.
Sementara 24 siswa lainnya dinyatakan tidak terlibat.
"Kami tegaskan, tidak semua siswa terlibat seperti pada video permintaan maaf siswa yang beredar."
"Ada yang berinisiatif, tapi yang lain tidak. Kami pastikan 24 siswa lainnya tetap mendapatkan perlakuan yang adil dan tidak terdampak stigma," kata Sidik.
Untuk sembilan siswa yang terlibat, sekolah memberikan sanksi berupa pembinaan khusus melalui kegiatan sosial selama 1 hingga 3 bulan.
Lama sanksi itu bergantung pada perkembangan perubahan sikap mereka.
"Kegiatannya berupa pembentukan karakter, seperti membersihkan lingkungan sekolah, tetapi mereka tetap mendapatkan hak pendidikan," katanya.
(Tribunnews.com/Nanda Lusiana, TribunJabar.id/Deanza Falevi)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.