Jakarta -
Munculnya video drama pendek dengan karakter buah dari kecerdasan buatan (AI) belakangan ramai di TikTok hingga menarik perhatian jutaan netizen. Ini alasan di baliknya.
Munculnya tren dan konten aneh di media sosial sepertik TikTok dan Instagram memang bukan hal baru lagi. Belakangan ini muncul konten video di TikTok yang menampilkan kehidupan buah-buahan yang diberi karakter layaknya manusia, lengkap dengan alur cerita penuh konflik seperti perselingkuhan hingga drama emosional.
Contohnya drama perselingkuhan antara buah stroberi dengan pisang, lalu ada juga kisah kehidupan buah durian yang digambarkan penuh konflik. Bahkan kerap muncul karakter dari sayuran seperti terong, brokoli, hingga tomat.
Aneh Tapi Seru! Drama Percintaan Buah 'AI' Ini Disukai Jutaan Orang Foto: TikTok/Generated by AI |
Meski terdengar aneh, video buah-buahan AI seperti ini justru mampu meraih ratusan juta penonton dan terus bermunculan di TikTok.
Dilansir dari The Conversation (24/04/2026), popularitasnya tak lepas dari cara kerja psikologi pengguna media sosial yang kerap disebut 'brain rot'.
Video pendek dengan alur cepat dan penuh kejutan memicu rasa penasaran. Dalam satu klip singkat, penonton bisa disuguhi berbagai emosi sekaligus, mulai dari sedih, marah, hingga humor.
Pola ini yang kemudian dimaksud sebagai 'brain rot', di mana konten-konten memanfaatkan sistem di otak yang berkaitan dengan dopamin, sehingga membuat pengguna terus ingin menonton video berikutnya tanpa henti.
Selain itu, unsur keanehan dari karakter buah yang menyerupai manusia juga menjadi daya tarik tersendiri. Visual yang tidak sepenuhnya realistis menciptakan sensasi aneh tapi menarik.
Aneh Tapi Seru! Drama Percintaan Buah 'AI' Ini Disukai Jutaan Orang Foto: TikTok/Generated by AI |
Kondisi ini membuat penonton bertahan lebih lama karena ingin memahami alur cerita yang terasa janggal. Rasa penasaran tersebut mendorong pengguna untuk terus mengikuti kelanjutan cerita, meski logikanya sering kali tidak konsisten.
Dari sisi konten, penggunaan karakter buah juga membuat cerita terasa lebih ringan dan tidak terlalu serius. Meski mengangkat tema sensitif, penonton cenderung menganggapnya sebagai fiksi semata karena tokohnya bukan manusia.
Algoritma TikTok juga berperan besar dalam menyebarkan tren drama buah-buahan ini. Konten dengan tingkat interaksi tinggi, seperti durasi tonton dan jumlah komentar, akan lebih sering direkomendasikan di linimasa (timeline/FYP). Akibatnya, video serupa terus diproduksi karena terbukti mampu menarik perhatian dan viral.

