Jakarta -

Food influencer ini menuai kritik usai sebut puding legendaris di Tokyo sebagai 'jebakan turis'. Review viral ini picu debat soal etika ulasan kuliner.


Seorang food influencer menuai sorotan usai mengulas dessert tradisional di Tokyo. Ia dinilai menyinggung pedagang lokal dan memicu perdebatan soal etika review makanan.


Influencer bernama Cian itu berasal dari Amerika Serikat. Ia dikenal sering membagikan konten street food dan wisata kuliner dari berbagai negara.




Dalam salah satu videonya, ia mengunjungi sebuah lapak puding custard legendaris yang sudah lama dikenal dan viral di media sosial, lapor IBT (2/5).


Tempat tersebut terkenal karena penyajian unik serta jumlah produksi terbatas yang membuat antrean panjang setiap harinya.





Review Puding Viral di Tokyo, Influencer Ini Tuai Kritik PedasReview Puding Viral di Tokyo, Influencer Ini Tuai Kritik Pedas Foto: detikcom/Riska Fitria

Dalam video tersebut, Cian menceritakan bahwa ia sempat beberapa kali gagal membeli puding karena selalu habis. "Saya sudah coba beberapa kali, tapi selalu sold out (terjual habis)," ujarnya.


Lapak itu disebut hanya memproduksi sekitar 50 porsi per hari, sehingga membuatnya semakin diburu wisatawan.


Setelah akhirnya berhasil mendapatkan puding, ekspektasi tinggi Cian justru berujung kekecewaan.


Saat mencicipi di depan kamera, ia langsung mengkritik rasa dan teksturnya. "Rasanya pahit dan teksturnya seperti putih telur," katanya.


Ia bahkan menyebut tempat tersebut sebagai 'jebakan turis', komentar yang langsung menyebar luas dan menuai reaksi beragam.


Meski memberikan penilaian negatif, Cian tetap melanjutkan makan sambil mengomentari puding tersebut.



Review Puding Viral di Tokyo, Influencer Ini Tuai Kritik PedasKakek pemilik toko pudding yang legendaris di Tokyo. Foto: detikcom/Riska Fitria

Ia juga sempat menyinggung bahwa penjualnya adalah lansia yang sudah lama berjualan dan memiliki gaya penyajian atraktif yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan.


Lapak puding tersebut sendiri memang sudah lama dikenal sebagai kuliner ikonik di Tokyo.


Dengan konsep sederhana, produksi terbatas, dan sentuhan nostalgia, tempat ini kerap jadi destinasi wajib wisatawan yang ingin mencicipi dessert klasik Jepang.


Video tersebut kemudian viral dan memicu perdebatan di TikTok. Sebagian pengguna menilai Cian berhak menyampaikan opini jujur.


Namun tak sedikit yang menganggap caranya terlalu blak-blakan dan kurang menghargai pelaku usaha kecil.


"Pendapat itu hak dia sih, tapi mungkin lain kali bisa dipertimbangkan soal etikanya. Karena kita harus menghormati budaya orang lain," tulis netizen.


"Boleh jujur, tapi tetap harus menghormati budaya lokal," tulis salah satu netizen.








Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.