Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Rupiah kembali mencatat pelemahan dan berakhir di level Rp 17.394 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (4/5/2026).
Posisi ini turun 0,33 persen dari Rp 17.337 per dolar AS pada akhir pekan lalu dan menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah.
Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada nilai tukar, tetapi juga memberi tekanan besar terhadap sektor industri dan kinerja perdagangan Indonesia secara keseluruhan.
Pengamat Perdagangan Internasional dari Universitas Widyatama, Dwi Fauziansyah Moenardy, menilai tekanan paling besar dirasakan oleh industri yang bergantung pada bahan baku impor, khususnya sektor manufaktur.
“Tekanan akan cukup besar terutama pada industri manufaktur karena kita masih menggunakan bahan baku impor seperti bahan kimia, plastik, farmasi, tekstil, komponen elektronik,” kata Dwi saat dihubungi, Senin (4/5/2026).
Dwi mengatakan kenaikan nilai impor akibat pelemahan rupiah menyebabkan biaya produksi melonjak dan margin keuntungan industri menipis.
“Ketika rupiah melemah harga menebus impor, harganya akan tinggi dan akibatnya margin industri pun juga akan menipis,” ucapnya.
Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa struktur impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan penolong dengan porsi lebih dari 70 persen sepanjang Januari–November 2025.
Sementara pada awal 2026, impor bahan baku masih tumbuh sekitar 9,27 persen, dan impor barang modal bahkan meningkat hingga 30–35 persen.
“Ini berarti aktivitas produksi dan investasi Indonesia itu masih sangat terkait dengan pasokan luar negeri. Jadi memang tidak bisa kita lepaskan sama sekali,” kata Dwi.
Di sisi lain, ketergantungan impor ini juga menunjukkan adanya aktivitas industri yang berkembang. Namun, dalam kondisi rupiah melemah, hal tersebut justru menjadi risiko.
“Ketergantungan ini tidak selalu buruk, justru menunjukkan bahwa industri kita itu memang sedang meningkat untuk berproduksi dan berinvestasi,” ujarnya.
Tekanan tidak hanya dirasakan industri besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Dwi menjelaskan bahwa dampaknya berbeda tergantung pada struktur usaha.
“Kalau untuk UMKM eksportir dengan adanya pelemahan rupiah ini malah bisa menjadi peluang yang sangat bagus, karena harga produknya lebih kompetitif,” katanya.
Namun bagi UMKM yang bergantung pada bahan impor, situasinya jauh lebih sulit.
“Pelemahan rupiah itu malah menaikkan biaya yang sangat besar, sehingga ini akan menjadi beban yang besar juga,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa banyak UMKM belum memiliki perlindungan nilai (hedging) dan posisi tawar yang kuat, sehingga sulit menyesuaikan harga jual.
“Akibatnya itu akan membuat margin mereka tuh menjadi turun,” ujarnya.
Dwi mengingatkan bahwa risiko terbesar dalam jangka pendek adalah menyempitnya surplus perdagangan Indonesia.
Data awal 2026 menunjukkan ekspor hanya tumbuh sekitar 2,19 persen, sementara impor melonjak hingga 14,44 persen dalam dua bulan pertama.
“Bukan semata-mata karena ekspornya turun, tapi karena impor bahan baku kita ini akan menjadi sangat mahal,” jelasnya.
Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor, mulai dari biaya produksi hingga inflasi.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.