TRIBUNNEWS.COM - LOMBOK TIMUR - Aksi freestyle yang viral dan banyak ditiru menyebabkan nyawa seorang bocah SD di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) melayang.
Siswa SD dari Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Lombok Timur ini meninggal dunia diduga setelah meniru aksi freestyle.
Baca juga: Cerita Guru SD di Lombok Timur soal Meninggalnya Murid Kelas 1 SD setelah Tiru Freestyle di Game
Sementara itu, terkait bocah SD di Lombok yang meninggal diduga karena gerakan freestyle dkabarkan sempat dirawat ke rumah sakit akibat mengalami benjolan dibagian kepala.
Kepala Kepolisian Subsektor (Kapolsubsek) Lenek, Ipda Alam Prima Yogi, mengungkapkan bahwa korban adalah murid kelas 1 di SDN 3 Lenek Baru. Korban menghembuskan nafas terakhir pada Minggu (3/5/2026) lalu.
"Korban masih duduk di kelas 1 SD, dan meninggal dunia pada 3 Mei kemarin. Namanya HIW. Dia meninggal setelah mempraktikkan aksi freestyle yang lagi viral," katanya pada Jumat (8/5/2026).
Pada saat kejadian, korban sempat mendapat pertolongan medis. Namun nyawanya tidak bisa selamat karena mengalami benjolan di kepala.
Gerakan freestyle ini diduga viral dari game online Free Fire (FF).
Belum diketahui siapa yang pertama kali membuat gerakan ini menjadi sebuah tren, namun gerakan ini banyak ditiru anak-anak.
Dari video-video yang beredar, tren ini dilakukan saat gerakan sujud pada salat.
Saat sujud, anak akan mengangkat kedua kaki mereka, sambil bertumpu pada siku dan pergelangan tangan mirip gerakan chinstand atau peacock pada olahraga yoga.
Yogi mengaku, fenomena aksi freestyle ini sedang marak ditiru anak-anak di media sosial. Aksi tersebut terinspirasi dari salah satu permainan daring yang populer.
"Ada permainan daring yang menampilkan gerakan-gerakan ekstrem, dan itulah yang kemudian diikuti oleh anak-anak masa kini," jelas Yogi.
Menurutnya, fenomena seperti ini sangat membahayakan dan penuh risiko bagi anak-anak. Karena itu, peran orang tua dan para guru di sekolah menjadi sangat penting dalam mengingatkan anak-anak di sekolah dan di rumah.
"Kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk semua pihak," tambahnya.
Ia mengimbau para orang tua agar lebih ketat dalam mengawasi kegiatan anak, terutama yang berhubungan dengan tren digital atau konten permainan yang berdampak buruk. Pihak sekolah dan guru juga diharapkan turut memberikan pemahaman kepada murid-murid mengenai bahaya aksi freestyle ini.
"Kami himbau kepada masyarakat untuk tetap mengawasi anak-anak kita dengan keta entah itu di rumah maupun di Sekolah," tutupnya.
Terpisah Sakiatun Nisa guru kelas korban mengaku tidak pernah tahu anak didiknya (korban) tersebut sering melakukan freestyle, karena korban tersebut pendiam dan liga kalau di Sekolah.
"Dia lugu anak itu, dan tidak pernah melakukan gerakan tersebut, begitu juga dengan anak-anak yang lain," jelasnya saat ditemui pada Jumat (8/5/2026).
Sakiatun mengatakan, setelah meninggalnya korban tersebut kata-kata freestyle diketahui, karena sebelumnya ia tidak mengetahui gaya ekstrem tersebut.
"Sekarang sudah kita tahu istilah itu, setelah korban viral di sosial media (Sosmed)," tuturnya.
Ia berharap kejadian ini merupakan bentuk pembelajaran bagi orangtua dan semua guru agar gaya-gaya yang membahayakan keselamatan anak segera dicegah.
"Bagi kami ini merupakan bagian dari pembelajaran, dan insyaallah kami akan mengawasi anak-anak kami di sini," tutupnya.
Ada bahaya di balik gerakan sujud freestyle, selain banyak dinilai tidak terpuji karena mempermainkan gerakan salat, tren ini juga berbahaya bagi tubuh.
Apa bahaya sujud freestyle? Langsung saja simak penjelasan dokter
Dijelaskan dr. Arina Heidyana dikutip dari alodokter, tren sujud dengan gerakan handstand ini sangat berbahaya bila tidak dilakukan oleh profesional atau orang terlatih. Terlebih lagi untuk anak yang tulangnya belum terlalu kuat dan lebih kecil dibandingkan orang dewasa.
Postur tulang yang relatif lebih kecil dan tipis pada anak-anak lebih berisiko mengalami patah tulang. Apalagi gerakan sujud freestyle ini dilakukan tanpa peregangan otot serta latihan memadai.
“Iya, bisa berbahaya karena ada kemungkinan risiko cedera saat melakukannya. Cederanya itu bisa membuat pergeseran sendi bahkan sampai patah tulang,” jelas dr. Arina.
Pada gerakan sujud freestyle, leher juga punya risiko cedera. Leher yang menopang berat badan juga bisa keseleo hingga patah tulang.
Saat tangan dan leher tidak kuat atau sempurna menahan beban tubuh, risiko jatuh dengan kepala terbentur ke lantai juga besar. Dalam kondisi tersebut, kepala bisa memar, bengkak, berdarah, hingga dapat berujung gegar otak.
Dilansir dari Very well, gerakan handstand hanya boleh dilakukan oleh orang terlatih. Penderita glaukoma atau gangguan tekanan bola mata tinggi juga tidak disarankan melakukan gerakan ini.
Orang dengan kondisi mata yang tidak dapat menyesuaikan dengan tekanan tambahan saat kondisi badan terbalik sebaiknya pikir-pikir lagi sebelum melakukan gerakan handstand.
Dengan mengetahui banyaknya potensi bahaya sujud freestyle, sudah sepatutnya orangtua lebih mengawasi si kecil dalam mengikuti sebuah tren. Berhubung tren ini berawal dari sebuah game online, Anda perlu lebih mengawasi permainan apa saja yang dimainkan oleh sang anak.
Bila permainan tersebut membawa pengaruh yang negatif pada anak, tak ada salahnya untuk meminta anak tidak memainkannya lagi.
Kalaupun anak sudah mulai mencoba-coba tren ini karena tidak tahu bahayanya, sebaiknya Anda tidak langsung memarahi. Berikan penjelasan dengan sederhana soal bahaya mengikuti tren ini.
Ingatkan juga kalau gerakan dalam salat tidak baik dijadikan bahan bercandaan atau konten semata.
(Tribunnews.com/Anita/TribunLombok.com, Rozi Anwar )
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.