Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali mengungkap jenis tikus pembawa Seoul virus di Indonesia adalah tikus rumah Rattus rattus dan tikus got Rattus norvegicus yang banyak hidup di kawasan permukiman padat penduduk.

Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, FX Kristandiyoko, mengatakan keberadaan dua jenis tikus tersebut di lingkungan sekitar manusia membuat risiko penularan Hantavirus menjadi lebih tinggi, terutama di wilayah perkotaan dengan sanitasi kurang baik.

“Jenis tikus pembawa Seoul virus di Indonesia adalah tikus rumah Rattus rattus dan tikus got Rattus norvegicus,” kata FX Kristandiyoko.

Hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul kasus kematian di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina.

Di Indonesia, sejumlah warga juga dilaporkan masuk kategori suspek virus tersebut.

Penularan Hantavirus Berasal dari Kotoran dan Urine Tikus

Kristandiyoko menjelaskan, penularan utama virus terjadi dari tikus ke manusia melalui aerosol urine dan feses tikus yang terhirup saat membersihkan area kotor atau tempat yang dipenuhi tikus.

Meski demikian, ia menegaskan Seoul virus yang ditemukan di Indonesia tidak menular antar manusia.

“Dengan pengecualian, tipe Andes di Amerika Selatan bisa terbatas menular antar manusia. Tipe di Indonesia Seoul virus tidak menular orang ke orang,” ujarnya.

TIKUS - Ilustrasi tikus. Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali mengungkap jenis tikus pembawa Seoul virus di Indonesia adalah tikus rumah Rattus rattus dan tikus got Rattus norvegicus yang banyak hidup di kawasan permukiman padat penduduk.
TIKUS - Ilustrasi tikus. Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali mengungkap jenis tikus pembawa Seoul virus di Indonesia adalah tikus rumah Rattus rattus dan tikus got Rattus norvegicus yang banyak hidup di kawasan permukiman padat penduduk. (Istimewa/Dok Dinkes Boyolali)

Gejala Hantavirus Bisa Berujung Gagal Ginjal

Dinkes Boyolali meminta masyarakat waspada apabila mengalami demam tinggi, nyeri otot berat di punggung atau paha, sakit kepala, hingga sesak napas setelah kontak dengan area yang banyak tikus.

Penyakit ini dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru hingga gagal ginjal jika terlambat ditangani.

Kristandiyoko menyebut hingga kini belum tersedia antivirus maupun vaksin khusus untuk Hantavirus.

“Pengobatan hanya suportif, mulai dari ICU, oksigen, ventilator, ECMO, sampai cuci darah kalau sudah gagal ginjal,” katanya.

Baca juga: Hantavirus Mengintai dari Aktivitas Bersihkan Rumah, Dinkes Boyolali Ingatkan Bahaya Kotoran Tikus

Langkah Pencegahan Hantavirus di Lingkungan Rumah

Untuk mencegah penyebaran Hantavirus, Dinkes Boyolali meminta warga aktif menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus.

Masyarakat diminta menutup akses masuk tikus dengan menyumbat lubang lebih dari 0,5 sentimeter serta memasang kawat kasa.

Selain itu, bahan makanan sebaiknya disimpan di wadah tertutup rapat dan sampah dibuang setiap hari agar tidak mengundang tikus.

Saat membersihkan kotoran tikus, warga disarankan menggunakan metode basah dengan larutan pemutih perbandingan 1:10 yang didiamkan selama 5-15 menit sebelum dibersihkan untuk mengurangi risiko virus beterbangan di udara.

“Kalau ada riwayat bersihin gudang atau rumah banyak tikus lalu demam tinggi, segera sampaikan ke petugas puskesmas. Jangan tunggu sampai sesak atau gagal ginjal,” pungkasnya.

(*)

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.