Tokyo (ANTARA) - Aset cadangan devisa Jepang pada bulan Mei turun 5,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menandai penurunan bulanan terbesar yang pernah tercatat, kata Kementerian Keuangan pada hari Jumat.

Data yang dirilis oleh kementerian tersebut menunjukkan aset cadangan resmi berada di level 1,31 triliun dolar AS (1 dolar AS = Rp18.039) pada akhir Mei, turun 77,11 miliar dolar AS dari akhir April, yang menandai penurunan terbesar, baik dalam hal persentase maupun volume sejak data sebanding tersedia pada April 2000.
Data sebelumnya dari kementerian itu mengenai intervensi pasar mata uang selama periode 28 April hingga 27 Mei menunjukkan otoritas Jepang telah menghabiskan rekor 11,73 triliun yen (1 yen = Rp112) untuk membendung penurunan nilai mata uang yen.

Kementerian tersebut tidak mengungkapkan rincian transaksi terkait intervensi mata uang, tetapi kemungkinan besar telah menjual beberapa aset asing guna mendapatkan dolar AS untuk membiayai operasi pembelian yen, menurut Kyodo News.

Pergerakan mata uang berfluktuasi pada 30 April, ketika yen melonjak ke zona 155 dari kisaran atas 160. Yen kemudian melemah, tetapi pada 1 Mei, 4 Mei, dan 6 Mei, mata uang tersebut menguat dengan cepat dari zona 157 ke kisaran 155, memicu anggapan bahwa otoritas negara kembali meluncurkan intervensi.