Jakarta (ANTARA) - Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier menyambut baik penguatan kerja sama pasokan energi antara Indonesia dan Australia di tengah dampak krisis di kawasan Timur Tengah yang memengaruhi rantai pasok global.


Menurut Brazier, hubungan kedua negara menunjukkan pentingnya kemitraan strategis dalam menjaga ketahanan energi di tengah ketidakpastian global.


"Ketika gangguan di Timur Tengah memengaruhi rantai pasok global, Indonesia dan Australia saling mendukung dengan meningkatnya ekspor urea Indonesia ke Australia serta bertambahnya pasokan LPG Australia ke Indonesia," kata Brazier dalam siaran pers Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Senin.


Peningkatan pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Australia ke Indonesia terjadi dalam beberapa bulan terakhir untuk membantu menutupi kekurangan pasokan akibat terganggunya distribusi energi dari Timur Tengah.


Kondisi tersebut berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada rantai pasok energi global. Penutupan jalur pelayaran strategis itu juga menyebabkan terganggunya salah satu sumber utama pasokan LPG dunia yang selama ini memasok kebutuhan berbagai negara.






Sepanjang 2026, jumlah kargo LPG Australia yang dikirim ke Indonesia meningkat sedikitnya tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun 2025.


Menurut pernyataan Kedutaan Besar Australia, pengiriman tambahan tersebut membantu Indonesia memenuhi kebutuhan LPG pada periode yang sangat krusial.


Di sisi lain, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela menilai kerja sama tersebut mencerminkan kuatnya hubungan bilateral kedua negara.


"Hal ini menunjukkan bagaimana kedua negara dapat bekerja sama memperkuat ketahanan energi, meningkatkan resiliensi rantai pasok, serta mendorong kepentingan ekonomi bersama," katanya.


Pasokan tambahan LPG tersebut berasal dari Ichthys Project yang dioperasikan oleh INPEX dan berlokasi di Australia Barat serta Northern Territory.






Proyek energi tersebut juga mencerminkan eratnya kolaborasi Indonesia dan Australia. Infrastruktur utama proyek itu diproduksi di Batam, sekaligus memperlihatkan keterkaitan yang kuat antara sektor sumber daya lepas pantai Australia dan industri manufaktur Indonesia.