Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat mengimbau masyarakat untuk tidak lengah meski tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam tiga bulan terakhir menunjukkan penurunan signifikan.
Kondisi cuaca dengan tingkat kelembaban dan suhu yang masih ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dinilai berpotensi memicu peningkatan kasus apabila upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) tidak dilakukan secara rutin.
“Mengingat kondisi cuaca saat ini masih sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, jadi jangan lengah, tetap laksanakan PSN secara rutin di rumah dan sekitarnya,” ujar Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
Sahruna melanjutkan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kesesuaian iklim untuk DBD pada Juni 2026 menunjukkan tingkat kelembaban udara (RH) rata-rata mencapai 80 persen.
"Angka ini masuk dalam rentang kelembaban optimum bagi pertumbuhan nyamuk, yakni 71 hingga 83 persen," kata dia.
Selain itu, lanjut dia, suhu udara di Jakarta Barat diprediksi berkisar antara 24 hingga 31 derajat Celsius, mendekati suhu rata-rata optimum perkembangan nyamuk di angka 25 hingga 27 derajat Celsius.
"BMKG juga prediksi Angka Insiden (Incident Rate/IR) DBD bulanan berpotensi mencapai 7,6 kasus per 100.000 penduduk," kata dia.
Menyikapi tantangan iklim tersebut, lanjutnya, saat ini seluruh Puskesmas di Jakarta Barat terus memperketat pemantauan berkala terhadap Angka Insiden dan kecepatan penularannya di lapangan. Langkah intervensi cepat juga segera dilakukan melalui Penyelidikan Epidemiologi (PE) serta penguatan gerakan PSN 3M Plus.
"Puskesmas gencar melakukan pemantauan vektor atau jentik DBD di lingkungan pemukiman yang dibarengi dengan peningkatan promosi kesehatan tentang bahaya DBD secara luas,” ungkapnya.
Sahruna menekankan, kunci utama keberhasilan pengendalian DBD ada pada deteksi dini jentik nyamuk yang bertumpu pada kesadaran warga masyarakat.
“Dalam pelaksanaannya, kami mengutamakan peran serta aktif masyarakat secara mandiri sebagai Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di rumah masing masing,” imbuhnya.
Sebelumnya, Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Barat mencatat tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya mengalami penurunan signifikan dalam tiga bulan terakhir.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna di Jakarta, Jumat, memaparkan data terkini bahwa pada April 2026 tercatat sebanyak 335 kasus DBD. Jumlah tersebut kemudian menurun pada Mei 2026 menjadi 197 kasus, dan per 4 Juni 2026 pukul 09.00 WIB baru dilaporkan sebanyak satu kasus.
"Tren dalam tiga bulan terakhir memang menunjukkan penurunan yang cukup baik. Namun, penurunan ini tidak boleh membuat kita abai, sebab prediksi iklim dari BMKG menunjukkan kondisi lingkungan kita masih berada pada tingkat optimum bagi siklus hidup nyamuk penular DBD," kata Sahruna saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat (5/6).