Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut peningkatan impor barang modal pada Mei 2026 menunjukkan penguatan aktivitas dan kapasitas produksi nasional.


Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), impor barang modal meningkat signifikan sebesar 21,12 persen secara bulanan, sementara pada April 2026 tercatat 6,33 persen.


"Kenaikan impor barang modal mencerminkan menguatnya aktivitas investasi dan kapasitas produksi nasional. Hal ini diharapkan dapat mendukung peningkatan daya saing industri serta ekspor Indonesia ke depan," ujar Budi dalam keterangan di Jakarta, Jumat.


Pada Mei 2026, nilai impor Indonesia tercatat sebesar 24,81 miliar dolar AS, turun 1,59 persen dibandingkan April 2026, namun meningkat 22,16 persen dibandingkan Mei 2025. Penurunan bulanan terjadi seiring melemahnya impor migas maupun nonmigas.


Budi menjelaskan, pelemahan impor pada Mei 2026 terutama berasal dari penurunan impor barang konsumsi sebesar 8,42 persen dan bahan baku/penolong sebesar 5,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya.






Selama Januari-Mei 2026, nilai impor Indonesia mencapai 111,33 miliar dolar AS atau tumbuh 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang impor migas sebesar 27,89 persen dan nonmigas sebesar 13,16 persen.


Berdasarkan golongan penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor mengalami pertumbuhan, yakni barang modal sebesar 17,53 persen, barang konsumsi 17,05 persen, dan bahan baku/penolong 14,41 persen.


Sementara berdasarkan komoditas, peningkatan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya yang melonjak 808,56 persen, diikuti garam, belerang, batu dan semen sebesar 73,94 persen, bijih logam, terak dan abu sebesar 58,63 persen, bahan bakar mineral sebesar 40,48 persen, serta berbagai produk kimia sebesar 34,94 persen.


Dari sisi negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan mencapai 52,68 persen. Sementara itu, pertumbuhan impor nonmigas tertinggi berasal dari Meksiko yang meningkat 247,36 persen, Perancis 193,63 persen, dan Spanyol 88,33 persen.