TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Pasar modal Indonesia kembali mendapat sorotan setelah penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices (DJI) memasukkan bursa saham RI ke dalam daftar pantauan (watchlist) untuk evaluasi klasifikasi pada 2027.
Dalam evaluasi itu, Indonesia masih berstatus Emerging Market. Namun, S&P DJI membuka peluang untuk menurunkan status Indonesia menjadi Frontier Market apabila berbagai persoalan yang menjadi perhatian tidak kunjung membaik.
Diketahui, masalah transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar di pasar modal Indonesia terus menjadi sorotan dunia. Tak hanya S&P DJI, hal itu juga dipermasalahkan MSCI dan FTSE Russell.
Konsentrasi kepemilikan yang tinggi (HSC) dan rendahnya saham beredar publik (free float) mengakibatkan terbatasnya likuiditas pasar, sehingga investor global kesulitan melakukan transaksi secara wajar.
Menanggapi hal itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, pengumuman itu memperpanjang periode ketidakpastian di pasar saham Indonesia.
Meski demikian, ia menyoroti status watchlist bukan berarti Indonesia otomatis diturunkan menjadi frontier market.
Justru fase itu merupakan masa evaluasi yang memberikan ruang bagi regulator melakukan berbagai perbaikan terhadap aspek yang menjadi perhatian penyedia indeks global.
Dalam jangka pendek, investor asing berpotensi cenderung menahan penambahan posisi atau wait and see, sementara investor domestik juga akan lebih selektif hingga terdapat kepastian mengenai hasil evaluasi tersebut.
"Dengan kata lain, tekanan terbesar saat ini bukan hanya berasal dari potensi penurunan status, melainkan dari ketidakpastian yang berkepanjangan, karena investor global umumnya kurang menyukai kondisi yang belum memiliki kepastian arah," katanya, kepada Kontan, Rabu (8/7).
Alrich pun memperkirakan pergerakan IHSG dalam jangka menengah akan sangat bergantung pada perkembangan evaluasi indeks global, stabilitas arus modal asing, serta kinerja fundamental emiten pada laporan keuangan semester II.
Selama ketidakpastian masih berlangsung, indeks diperkirakan cenderung bergerak sideways dengan volatilitas yang relatif tinggi.
Adapun prospek IHSG dalam jangka panjang atau di atas satu tahun masih ditopang oleh fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid, pertumbuhan laba emiten, serta besarnya partisipasi investor domestik.
"Apabila regulator berhasil menjawab concern yang disampaikan MSCI maupun S&P DJI, peluang pemulihan kepercayaan investor asing tetap terbuka sehingga tren jangka panjang masih berpotensi kembali positif," tukasnya.
Berkait dengan potensi keluarnya dana asing (outflow) akibat Indonesia masuk ke dalam watchlist S&P DJI, Alrich menilai, hal itu masih terbatas. Pasalnya, mayoritas investor institusi global cenderung menunggu keputusan akhir.
Namun, apabila Indonesia benar-benar mengalami penurunan klasifikasi menjadi frontier market, maka potensi outflow akan jauh lebih signifikan, terutama berasal dari dana pasif (passive fund) yang benchmark investasinya di MSCI.
"Untuk nominalnya masih cukup sulit dipastikan, karena bergantung pada besarnya dana kelolaan (AUM) masing-masing indeks yang melakukan tracking terhadap pasar Indonesia," bebernya.
"Selain itu, sebagian investor aktif (active fund) juga masih dimungkinkan tetap mempertahankan eksposurnya apabila melihat valuasi Indonesia menjadi semakin menarik," sambungnya. (Kontan/Rashif Usman)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.