Tianjin (ANTARA) - Para peneliti China telah mengembangkan perangkat saraf bionik pertama di dunia yang memungkinkan otak para individu dengan gangguan pendengaran untuk "memahami" suara alih-alih hanya "mendengarnya."

Perangkat ini, yang diciptakan oleh tim peneliti dari Universitas Nankai di Kota Tianjin, China utara, menawarkan pendekatan substitusi dan perbaikan elektronik baru untuk rekonstruksi pendengaran, melampaui implan koklea konvensional.

"Saat ini, implan koklea hanya mengatasi masalah 'pendengaran.' Namun, karena terbatas oleh mekanisme tetap berbasis sinyal waktu dan jumlah elektrode yang terbatas, implan koklea masih jauh tertinggal dari sistem pendengaran alami dalam hal resolusi temporal dan pengenalan ucapan di lingkungan akustik yang kompleks," kata Xu Wentao, yang memimpin penelitian di Fakultas Rekayasa Elektronika dan Optik, dalam siaran pers Universitas Nankai pada Senin (13/7).

"Tujuan kami bukan hanya membuat sistem ini mampu 'mendengar,' tetapi untuk memungkinkannya benar-benar 'memahami' suara, yang berarti mampu memilih, memproses, dan mengirimkan informasi pendengaran yang berharga seperti saraf alami," katanya, seraya mengatakan bahwa perangkat baru ini menandai langkah penting dalam pemulihan pendengaran dari "memulihkan persepsi" menjadi "membangun kembali fungsi."

Studi yang berjudul "Antarmuka neuromorfik artifisial untuk pemulihan pendengaran" ini dipublikasikan secara daring pada 1 Juli di jurnal Nature Materials.

Menurut penelitian tersebut, pendengaran tidak hanya bergantung pada telinga, tetapi juga pada saraf pendengaran, yang bertindak seperti "jalan raya super" yang mengirimkan sinyal suara ke otak. Hilangnya pendengaran sensorineural, jenis ketulian yang disebabkan oleh kerusakan pada jalur ini, dialami oleh sekitar 3 persen populasi global.

Implan koklea tradisional dapat mengubah suara menjadi sinyal listrik, tetapi masih bergantung pada saraf pendengaran yang tersisa pada pasien untuk menyelesaikan proses akhir transmisi.

Begitu saraf pendengaran mengalami kerusakan parah atau hilang, "bahkan implan koklea tercanggih pun menjadi tidak efektif," kata Xu, seraya menambahkan bahwa tantangan lama inilah yang berusaha diatasi oleh terobosan timnya.

Perangkat baru ini, yang digambarkan sebagai "antarmuka neuromorfik" yang meniru proses pengodean alami saraf pendengaran biologis, mengintegrasikan akuisisi suara, pengodean saraf, pemrosesan semantik, dan output bioelektrik ke dalam sebuah lingkaran saraf artifisial yang lengkap.

Tim peneliti menjelaskan bahwa alat ini tidak hanya menangkap suara tetapi juga memfilter, menganalisis, dan mengodekannya dengan cara yang menyerupai sistem pendengaran alami, sebelum kemudian menyampaikan informasi yang bermakna ke otak.

"Ke depannya, kami akan melanjutkan penelitian kami di bidang perbaikan saraf dan kecerdasan bionik, serta bekerja keras untuk memindahkan teknologi inti kami dari laboratorium ke penggunaan klinis dan pasar," kata Xu.

"Kami berharap dapat mencapai lebih banyak terobosan dalam prostetik saraf, perawatan kesehatan cerdas, antarmuka otak-komputer, dan kecerdasan berwujud (embodied intelligence)," imbuhnya.