TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Di tepian kawasan Danau Sentarum yang dikenal sebagai salah satu ekosistem rawa air tawar terbesar di Indonesia, masyarakat Kampung Semangit, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, terus mempertahankan tradisi mengolah hasil tangkapan nelayan menjadi ikan asap.
Aktivitas yang telah diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat, tetapi juga menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga yang menggantungkan hidup dari kekayaan perairan Danau Sentarum.
Beragam jenis ikan hasil tangkapan nelayan diolah menggunakan teknik pengasapan tradisional yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Salah satu jenis ikan yang paling banyak diolah adalah ikan bauk, selain ikan menyadin, landin, dan entukan yang melimpah di perairan Danau Sentarum.
Setiap hari, ikan-ikan segar yang baru ditangkap dari danau langsung dibersihkan sebelum melalui proses pengasapan menggunakan tungku tradisional.
• PMI Kota Pontianak Perkuat Dukungan bagi Anak Penyintas Kanker, Talasemia, dan Jantung Bawaan
Proses tersebut berlangsung selama kurang lebih satu hari penuh hingga ikan benar-benar matang, memiliki aroma asap yang khas, serta lebih tahan disimpan dibandingkan ikan segar.
Nur Anis (70), salah seorang warga Kampung Semangit yang telah lama menekuni usaha pengasapan ikan, mengatakan seluruh bahan baku berasal dari hasil tangkapan nelayan lokal di kawasan Danau Sentarum.
"Setelah ikan didapat dari danau, kemudian diasap selama satu hari hingga matang dan lebih awet," ujar Nur Anis sembari mengayun cucunya saat ditemui TribunPontianak.co.id, Kamis 23 Juli 2026.
Ia menjelaskan bahwa teknik pengasapan bukan hanya bertujuan memperpanjang masa simpan ikan, tetapi juga memberikan cita rasa yang khas sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli.
Aroma asap yang meresap hingga ke dalam daging ikan membuat produk olahan tersebut memiliki karakter rasa yang sulit ditemukan pada olahan ikan lainnya.
Menurut Nur Anis, setelah proses pengasapan selesai, ikan sebenarnya sudah siap untuk langsung dikonsumsi. Namun sebagian besar hasil produksi lebih banyak dikemas terlebih dahulu agar mudah dipasarkan ke berbagai daerah.
"Setelah diasap ikannya bisa langsung dimakan, tapi kami biasanya packing untuk dijual lagi dengan harga sekitar Rp40.000 per kilogram," jelasnya.
Produk ikan asap khas Kampung Semangit tidak hanya dipasarkan kepada masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu.
Permintaan juga datang dari berbagai wilayah lain di Kalimantan Barat karena cita rasanya yang khas serta kualitas ikan yang berasal dari perairan alami Danau Sentarum.
• Kisah Siswa SD di Kapuas Hulu Menantang Arus Sungai Demi Menimba Ilmu
Keberadaan usaha pengasapan ikan ini turut menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Selain memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan nelayan, kegiatan tersebut juga membuka peluang usaha rumahan yang telah menjadi mata pencaharian turun-temurun bagi warga Kampung Semangit.
Dengan tetap mempertahankan cara pengolahan tradisional dan memanfaatkan kekayaan sumber daya perairan Danau Sentarum secara berkelanjutan, masyarakat berharap ikan asap khas Kapuas Hulu akan semakin dikenal luas sebagai salah satu produk unggulan dan kuliner khas Kalimantan Barat yang memiliki nilai ekonomi sekaligus melestarikan warisan budaya lokal.
(*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.