TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Perjuangan orang tua dalam mendampingi anak yang mengidap penyakit kronis bukanlah perjalanan yang mudah. 

Dibutuhkan ketabahan, kesabaran, serta kekuatan mental untuk terus memberikan semangat kepada buah hati agar tetap menjalani pengobatan secara rutin. 

Kisah seperti inilah yang dialami Dewi, seorang ibu yang selama bertahun-tahun setia mendampingi putranya, Alam (12), penyintas talasemia, menjalani rangkaian pengobatan yang harus dilakukan secara berkelanjutan. 

Cerita tersebut disampaikannya saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional bersama anak-anak penyintas kanker dan penyakit jantung bawaan di Pontianak, Kamis 23 Juli 2026.

Dewi mengenang momen ketika keluarganya pertama kali mengetahui kondisi kesehatan Alam. 

Saat itu, ia sama sekali tidak menyangka bahwa putranya mengidap talasemia, penyakit kelainan darah yang mengharuskan penderitanya menjalani transfusi darah secara berkala sepanjang hidup.

• Warga Kecewa Pengajuan Sertifikat Hilang di Kantor Pertanahan Landak, BPN Janji Kawal Hingga Tuntas

Menurutnya, pada awal kemunculan gejala, ia hanya mengira Alam mengalami gangguan kesehatan yang umum dialami anak-anak. Namun setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan medis di rumah sakit, hasil diagnosis dokter mengubah kehidupan keluarganya.

"Alhamdulillah, sebisa mungkin kami tetap menjalani dan menikmati setiap proses pengobatannya. Tetapi ketika pertama kali mengetahui penyakit yang diderita anak saya, perasaan yang muncul benar-benar sulit dijelaskan dengan kata-kata. Saat itu saya terus bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi seperti ini. Awalnya saya mengira hanya sakit biasa, ternyata anak saya didiagnosis menderita talasemia dan harus menjalani transfusi darah setiap bulan," tutur Dewi kepada TribunPontianak.co.id, Kamis 23 Juli 2026. 

Ia mengakui kabar tersebut sempat menjadi pukulan berat bagi seluruh anggota keluarga. 

Rasa sedih, cemas, hingga tidak percaya bercampur menjadi satu ketika mengetahui bahwa Alam harus menjalani pengobatan rutin dalam jangka panjang demi mempertahankan kondisi kesehatannya.

Namun seiring berjalannya waktu, Dewi dan keluarganya mulai belajar menerima kenyataan tersebut. 

Mereka memilih untuk tetap tegar, ikhlas, dan fokus mendampingi setiap proses pengobatan yang harus dijalani Alam.

Menurut Dewi, tidak ada pilihan lain selain terus memberikan dukungan terbaik kepada sang anak agar tetap bersemangat menjalani terapi dan transfusi darah secara rutin. Baginya, penerimaan dan keikhlasan menjadi kekuatan terbesar bagi keluarga untuk menghadapi cobaan tersebut.

"Sekarang kami hanya menjalani semua proses pengobatan ini dengan ikhlas. Mau bagaimana lagi, kondisinya memang seperti ini. Tidak mungkin terus menyalahkan keadaan atau marah. Yang bisa kami lakukan adalah terus mendampingi dan menjalani semuanya dengan penuh keikhlasan," ujarnya.

• Program SIGAP, Bupati Landak Jemput Bola Tangani Belasan Ribu Anak Putus Sekolah

Saat menceritakan perjalanan hidup putranya, Dewi tampak berusaha menahan air mata. Dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca, ia mengungkapkan doa sederhana yang selalu dipanjatkan setiap hari untuk Alam.

Ia berharap putranya senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan menjalani pengobatan, serta umur yang panjang sehingga dapat terus tumbuh, belajar, dan meraih cita-citanya seperti anak-anak lainnya.

"Mudah-mudahan anak saya selalu diberikan kesehatan dan dipanjangkan umurnya," ucap Dewi penuh harap. 

(*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.