TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Badi (58), salah satu petani dari Desa Nglurup, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung semakin mantap menanam kopi.

Secara khusus Badi menanam kopi jenis Arabika sejak tahun 2028 silam.

Kini dia mengakui, tanaman kopi itu telah menjadi penghasilannya saat ini.

“Sebenarnya masih ada ternak sapi, saya serahkan ke anak. Saya fokus ke kopi,” ujar Badi, saat ditemui di acara Ngolah Pikir dan Inspirasi (Ngopi) di Lapangan Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Sabtu (1/8/2026).

Baca juga: Kadek Rai Dewi Astini Ramaikan Nyantrik ke-9 Sanggar Candra Mustika Tulungagung

Ayah 6 anak ini berkisah, sebelumnya punya sejumlah usaha, seperti beternak sapi dan membuat mebel.

Sampai di tahun 2018 datang Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri, melakukan sosialisasi penanaman kopi.

Badi diberi tahu jika kopi Arabika tumbuh dengan baik di ketinggian 700 meter sampai 1.700 meter.

“Lokasi kami kan ada di gunung, ketinggiannya 1.100 meter. Jadi cocok untuk Arabika,” sambungnya.

Saat itu Badi mulai menanam pohon kopi Arabika sejumlah 4.000 pohon.

Selain jenis komasti yang jadi mayoritas, ada varietas Kobra (Kolombia Brazil) dan Arabika yellow caturra.

Tiga tahun kemudian Badi mulai merasakan hasil panen kopi Arabika yang ia tanam.

“Sekarang ekonomi saya di-cover sama kopi. Istri dan 2 anak saya juga ikut jualan kopi,” ungkapnya.

Hasil biji kopi yang sudah dibersihkan (green bean), saat ini harganya Rp 80.000 per kilogram.

Namun Badi  memilih mengolahnya sendiri menjadi produk kopi yang sudah disangrai, seharga Rp 150.000 per kg.

Untuk menghasilkan 1 kg kopi yang sudah disangrai, dibutuhkan bahan baku 1,3 kg green bean.

“Jadi meski ada harga Rp 80.000 untuk green bean, barangnya tidak ada karena saya pakai sendiri. Kecuali para pemain kopi, baru saya beri,” ungkapnya.

Kopi Mbah Badi dipilih menjadi merek dagang kopi Arabika produksi Badi dan keluarga.

Penjualannya selalu habis dari toko ke toko, meski Badi tidak punya perwakilan toko di wilayah kota.

Badi sedang menggenjot produksi dengan target 1 ton green bean per tahun.

Menurutnya, tanaman kopi menjadi solusi tanaman ekonomi di kawasan pegunungan.

Kopi tidak perlu membabat pohon yang sudah ada, justru menjadi naungan untuk pohon kopi yang ditanam.

Dengan demikian tanaman kopi tidak mengubah ekosistem tanaman di wilayah pegunungan.

“Dengan tanaman kopi, konservasi airnya tetap terjaga, kelestarian hutan juga terjaga. Sementara secara ekonomi juga menguntungkan petani,” tandasnya.

Sementara Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida), Wahiyd Masrur, kopi menjadi solusi antara menjaga kelestarian hutan dan mengangkat ekonomi warga.

Dengan kopi, masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi tanpa merusak hutan.

Ia menyebut, tanaman kopi bagian dari pembangunan berkelanjutan, karena menjaga keseimbangan aspek ekonomi, aspek sosial, dan kelestarian hutan.

“Memang masih butuh kolaborasi untuk memunculkan kopi khas Tulungagung,” ucapnya.

Sejumlah daerah di Tulungagung juga potensial untuk tanaman kopi, seperti Kecamatan Pagerwojo dan Sendang yang sudah dikenal, lalu Kecamatan Gondang, Campurdarat, Besuki, Tanggunggunung dan Pucanglaban.

Wahiyd menyebut, kopi akan menjadi ketahanan pangan sekunder.

Kopi bukan tanaman pangan, namun hasilnya bisa mengangkat ekonomi petani.

“Brida akan mendukung potensi ini dengan data riset, agar potensi ini bisa berkembang secara optimal,” tandasnya.

(David Yohanes/TribunMataraman.com)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.