Oleh: Hanna Christina Uranus, Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

“Bumi memiliki daya tampung. Jika manusia terus berkembang biak, kita akan punya masalah serius.”

Kutipan dari Tere Liye dalam novel Hujan ini terasa semakin relevan di tengah berbagai persoalan lingkungan yang kita hadapi hari ini.

Perubahan iklim, polusi, berkurangnya ruang hijau, hingga kerusakan ekosistem bukan lagi sekadar isu jauh di masa depan, melainkan kenyataan yang mulai dirasakan sehari-hari.

Tak heran, banyak orang merasakan kekhawatiran mendalam terhadap kondisi bumi.

Menurut studi International Journal of Environmental Research and Public Health oleh Mosca dan rekan-rekannya (2025), remaja dan generasi muda termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami gejolak emosional akibat tekanan krisis iklim, seperti kesedihan, ketakutan, kemarahan, dan perasaan tidak berdaya.

Perasaan ini dikenal sebagai eco-anxiety, yaitu kecemasan yang muncul ketika seseorang melihat kondisi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan serta merasa tidak pasti terhadap masa depan planet yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Namun, di balik kecemasan tersebut, ada kabar baik. Keterlibatan langsung dalam aktivitas merawat lingkungan ternyata dapat membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis. 

Professor of Neuroscience and Mental Health dari University of Reading, United Kingdom, Ciara McCabe menjelaskan bahwa berbagai kegiatan sederhana yang melibatkan alam mampu menumbuhkan rasa bermakna, mempererat koneksi sosial, serta menghadirkan kembali harapan. 

Beliau dan rekan-rekan melakukan penelitian mengenai program beternak lebah selama 12 minggu yang melibatkan remaja.

Baca juga: Psikologi Pengendalian Diri dan Mengapa Pasar Menghargainya

Melalui kegiatan merawat sarang lebah, belajar tentang ekosistem, hingga memanen madu, para peserta melaporkan stres yang berkurang, energi yang meningkat, serta tumbuhnya kepedulian terhadap alam. 

Mereka juga merasa lebih optimis karena dapat berkontribusi secara nyata bagi lingkungan (McCabe, Demir-Kassem & Deeks, 2026). Kegiatan seperti inilah yang dikenal dengan eco-activities.

Apa Itu Eco-Activities?

Eco-activities adalah berbagai aktivitas yang bertujuan menjaga lingkungan sekaligus mempererat hubungan manusia dengan alam.  

Kegiatan ini baik untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis karena alasan-alasan berikut:

1. Memberikan rasa kebermaknaan (sense of purpose)

Ketika seseorang melakukan sesuatu untuk lingkungan, sekecil apa pun itu, muncul perasaan bahwa tindakannya memiliki dampak positif. Perasaan bahwa diri kita berguna dan berkontribusi dapat meningkatkan makna hidup, terutama di tengah situasi global yang sering terasa tidak pasti.

2. Mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kontak dengan alam dapat membantu menurunkan tingkat stres, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan konsentrasi. Itulah sebabnya berjalan di taman, merawat tanaman, atau menghirup udara segar sering membuat pikiran terasa lebih tenang.

3. Mengurangi rasa tidak berdaya terhadap krisis lingkungan

4. Meningkatkan koneksi sosial

Banyak eco-activities dilakukan secara bersama-sama, misalnya melalui komunitas volunteer lingkungan, urban farming, atau kegiatan clean-up. Aktivitas semacam ini membuka kesempatan untuk bertemu orang baru, membangun relasi positif, dan merasakan dukungan sosial yang penting bagi kesehatan mental.

Eco-Activities yang Mudah Dilakukan 

Memulai gaya hidup ramah lingkungan tidak harus rumit. Ada banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari.

1.    Berkebun kecil-kecilan

Menanam cabai, tomat, atau tanaman hias di balkon dan halaman rumah bisa menjadi aktivitas menyenangkan sekaligus menenangkan. Bahkan merawat tanaman indoor pun dapat memberi efek positif.

Merawat makhluk hidup lainnya

Merawat hewan peliharaan, memberi makan burung di taman, mengamati kupu-kupu, atau mengikuti kegiatan konservasi satwa dapat membantu seseorang merasa lebih dekat dengan kehidupan di sekitar. Interaksi dengan hewan juga sering dikaitkan dengan penurunan stres dan meningkatnya rasa tenang. 

3.    Menghabiskan waktu di alam

Jalan pagi di taman, hiking ringan, atau piknik tanpa sampah adalah cara sederhana untuk terhubung kembali dengan alam.

4.    Ikut kegiatan komunitas mengenai alam

Coba bergabung dalam kegiatan volunteer lingkungan, beach clean-up, atau penanaman pohon di daerah sekitar. Selain bermanfaat, pengalaman ini juga bisa memperluas jaringan pertemanan.

Merawat Bumi dan Merawat Diri Bersama-Sama

Professor of Applied Ecology dari University of Reading, United Kingdom, Tom Oliver, menjelaskan dalam bukunya The Nature Delusion: Why We Can’t Fix the World Without Fixing Ourselves bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga cara pandang manusia terhadap alam.

Menurutnya, banyak orang masih merasa seolah manusia terpisah dari alam, padahal kehidupan kita sangat terhubung dan saling bergantung dengan ekosistem. Ketika kita mulai melihat diri sebagai bagian dari alam, maka perilaku dan keputusan secara kolektif pun bisa bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan.

Pada akhirnya, eco-anxiety tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang melemahkan.

Di balik rasa cemas terhadap masa depan bumi, tersimpan kepedulian dan dorongan untuk bertindak (Kurth & Pihkala, 2022).

Ketika diarahkan ke langkah nyata melalui berbagai eco-activities, kecemasan tersebut dapat berubah menjadi energi positif yang meningkatkan kesejahteraan psikologis, menumbuhkan rasa berdaya, memperkuat harapan, sekaligus memberi manfaat bagi alam dan diri kita sendiri. 

Setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini bukan hanya membantu bumi bernapas lebih lega, tetapi juga membantu kita merasa lebih tenang dan bermakna. 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.