TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bagi sebagian anak di Kota Makassar, gawai kini bukan lagi benda asing.

Layar ponsel bisa menjadi teman bermain, sumber suara dan gambar, sekaligus sarana mengenal berbagai hal baru.

Hanya dengan beberapa sentuhan, anak dapat melihat warna, mengenal huruf, angka hingga menyaksikan beragam video.

Namun, di balik kemudahan itu muncul persoalan lain.

Ketika gawai lebih banyak digunakan untuk bermain game atau menonton 'konten', waktu anak untuk bermain secara langsung, bergerak dan berinteraksi dengan lingkungan bisa berkurang.

Di sinilah guru pendidikan anak usia dini (PAUD) menghadapi tantangan baru.

Guru tidak cukup hanya menguasai metode pembelajaran konvensional.

Mereka juga perlu memahami teknologi agar dapat mengarahkan penggunaan gawai menjadi sesuatu yang memberikan manfaat bagi anak.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang PAUD Dinas Pendidikan Kota Makassar, Yasmain Gasba, saat menjadi pembicara dalam Forum Koordinasi Guru PAUD se-Kota Makassar yang berlangsung di Hotel Vasaka, Jalan AP Pettarani, Makassar, Jumat (4/9).

Yasmain mengatakan perkembangan era digital membuat guru perlu belajar memanfaatkan gawai secara tepat dalam proses pendidikan.

"Guru harus belajar bagaimana cara menggunakan gawai itu. Dengan melihat kondisi era digitalisasi saat ini, penting bagi guru dan murid," kata Yasmain.

Menurutnya, dunia pendidikan tidak bisa berjalan tanpa mengikuti perkembangan zaman.

Pemanfaatan teknologi kata Yasmain, dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih sesuai dengan perkembangan anak sehingga proses pendidikan tidak terasa sebagai tekanan, baik bagi guru maupun peserta didik.

Ia juga mengingatkan penggunaan gawai pada anak usia dini tetap harus dibatasi.

Teknologi tidak boleh membuat anak kehilangan dunia bermain yang menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang mereka.

Baginya belajar pada usia dini tidak harus selalu dilakukan melalui layar.

Guru dapat mengajarkan berbagai konsep sederhana dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar anak.

Pengenalan huruf, misalnya, bisa dilakukan dengan menghubungkannya dengan buah, mainan atau benda lain yang mudah ditemukan anak.

"Sebagai pendidik, kita perlu meminta anak-anak belajar dengan cara bermain. Misalnya, pengenalan huruf itu bisa disamakan dengan bentuk buah atau benda apa yang ada di sekeliling kita," ujarnya.

Cara tersebut membuat anak mendapatkan pengalaman secara langsung.

Anak tidak sekadar melihat gambar dari layar, tetapi juga mengenal benda, menyentuh, mengamati dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Menurut Yasmain, penggunaan gawai tetap dapat dilakukan apabila ditempatkan sebagai alat bantu pembelajaran.

Guru perlu memahami kapan teknologi digunakan dan kapan anak harus diajak meninggalkan layar untuk bermain serta berinteraksi secara langsung.

Tantangan Terbesar Ada di Rumah

Persoalan penggunaan gawai tidak berhenti ketika anak meninggalkan sekolah.

Guru dapat mengatur aktivitas anak selama berada di PAUD.

Tetapi setelah sampai di rumah, kebiasaan penggunaan gawai kembali menjadi tanggung jawab keluarga.

Yasmain mengakui hal tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian.

Anak yang telah mengikuti pembelajaran di sekolah dapat kembali menggunakan gawai untuk bermain gim ketika berada di rumah.

"Di sekolah sudah kita ajarkan, tetapi saat di rumah mereka kembali lagi memakai gawai untuk bermain game," katanya.

Karena itu, guru dan orangtua perlu memiliki pemahaman yang sama.

Jangan sampai guru berupaya membangun kebiasaan belajar yang sehat di sekolah, tetapi pola penggunaan gawai di rumah justru tidak terkontrol.

Orangtua perlu mendampingi anak ketika menggunakan perangkat digital.

Bukan hanya mengatur lamanya penggunaan, tetapi juga memperhatikan konten yang dikonsumsi anak.

Perkembangan teknologi pada akhirnya membuat guru memiliki tantangan baru.

Guru dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi pada saat yang sama harus memahami batas penggunaannya untuk anak usia dini.

Yasmain menilai kemampuan tersebut penting agar gawai tidak dipandang semata-mata sebagai ancaman.

Teknologi dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat, terbatas dan didampingi orang dewasa.

Sebaliknya, tanpa pendampingan, gawai berpotensi lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan.

Karena itu, literasi digital bagi guru dan orangtua menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan pola belajar anak di era digital.

Yasmain menambahkan bahwa anak membutuhkan ruang untuk berlari, bermain, berbicara, bertanya, menyentuh benda, mengenal lingkungan dan bertemu dengan teman-temannya.

Sebab, bagi anak usia dini, belajar bukan hanya tentang apa yang muncul di layar.

Belajar juga terjadi ketika mereka bermain dan menemukan dunia di sekelilingnya.(*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.