TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - Musim kemarau yang melanda wilayah Kabupaten Muaro Jambi pada Agustus 2026 memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman pangan dan hortikultura.
Berdasarkan data Laporan Krisis Pertanian dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Kabupaten Muaro Jambi, setidaknya ada 3.339 hektare lahan pertanian yang berpotensi mengalami kekeringan dari total 4.498 hektare luas tanam periode Mei-Agustus 2026.
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Muaro Jambi, Evi Syahrul, mengungkapkan bahwa karakteristik lahan pertanian di Muaro Jambi yang mayoritas masih mengandalkan sawah tadah hujan menjadi faktor utama tingginya kerentanan terhadap ancaman kemarau.
"Sebagian besar lahan kita tidak memiliki irigasi teknis dan sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Kondisi ini membuat lahan pertanian sangat rentan ketika memasuki musim kemarau," ujar Evi Syahrul.
Evi memaparkan, hingga akhir Agustus 2026 tercatat sebanyak 2.089 hektare padi sawah telah terdampak kekeringan dengan tingkat kerusakan yang bervariasi, yakni rusak ringan 402 hektare, rusak sedang 237 hektare, rusak berat 1.403 hektare, dan puso atau gagal panen 46 hektare.
Sementara itu, sekitar 1.250 hektare lahan lainnya dilaporkan masih bertahan.
"Lahan yang masih bertahan ini umumnya berada di daerah cekungan atau wilayah yang terjangkau oleh bantuan irigasi pompa air," jelasnya.
Dari beberapa kecamatan yang ada, Kecamatan Kumpeh menjadi wilayah terdampak paling parah dengan luas lahan terancam mencapai 1.058 hektare.
Adapun sebaran wilayah terdampak lainnya meliputi:
Krisis air ini tak hanya menerpa tanaman padi. Evi Syahrul menambahkan, sebanyak 171 hektare tanaman hortikultura, seperti cabai dan sayuran, turut mengalami kekeringan.
Wilayah terdampak hortikultura ini tersebar di Kecamatan Kumpeh seluas 144 hektare, Jambi Luar Kota 22 hektare, dan Mestong 5 hektare.
Selain krisis air, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga mulai meluas ke sektor komoditas unggulan. Di Kecamatan Sungai Gelam, kebakaran lahan seluas 3 hektare telah menghanguskan tanaman nanas warga.
Menghadapi situasi ini, pihak DTPH Muaro Jambi terus mengoptimalkan sarana penyedotan air ke lahan-lahan yang rentan. Namun, Evi mengakui bahwa kapasitas peralatan pompa yang ada saat ini masih sangat terbatas dibandingkan luas lahan yang terdampak.
"Kapasitas mitigasi kita saat ini menggunakan irigasi pompa air permukaan sebanyak 5 titik dan pompa air tanah di 9 titik. Kemampuannya baru melayani sekitar 140 hektare atau hanya sekitar 4 persen dari total lahan yang berpotensi terdampak," ungkap Evi.
Pihaknya mengimbau para petani untuk terus berkoordinasi dengan petugas penyuluh lapangan (PPL) dan memanfaatkan sumber air terdekat guna meminimalkan perluasan area padi yang mengalami puso.
(*)
Baca juga: Dampak Kemarau, 1.106 Hektare Sawah di Batang Hari Kekeringan dan 23 Hektare Puso
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.