Jakarta -

Induk orang utan bersama bayinya ditemukan mengalami malnutrisi saat kemarau panjang melanda habitatnya di Kutai Timur (Kutim). Kondisi itu terjadi setelah sumber pakan dan air berkurang, sementara sejumlah titik api juga mulai muncul di sekitar habitatnya.


Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto mengatakan induk dan bayi orang utan tersebut bukan korban luka bakar secara langsung akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).


"Keduanya diselamatkan dari kawasan hutan yang telah terfragmentasi dan terdampak kemarau panjang," ujarnya kepada detikKalimantan, dikutip Sabtu (12/9/2026).




Kemarau panjang membuat sumber pakan dan air di habitat kedua orang utan tersebut berkurang. Di saat bersamaan, sejumlah titik api juga mulai bermunculan di sekitar kawasan habitatnya.


"Saat diperiksa, keduanya mengalami malnutrisi sehingga dibawa ke Pusat Rehabilitasi Satwa Long Sam," kata dia.





Paulinus mengatakan induk dan bayi orang utan tersebut berasal dari wilayah Kutim kemudian dievakuasi ke PPS Long Sam di Berau. Saat ini, keduanya berada dalam pengawasan tim medis untuk menjalani pemulihan.


"Kondisi satwa yang diselamatkan saat ini relatif stabil dan terus membaik. Mereka berada dalam pengawasan tim medis, mendapatkan perawatan, tambahan nutrisi, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala," kata dia.


Tak hanya induk dan bayi orang utan, sejumlah satwa lain juga telah dievakuasi di tengah karhutla yang terjadi di Berau. Paulinus menyebut sejauh ini terdapat kukang dan tenggiling yang diselamatkan dari area terdampak kebakaran.


"Sementara induk orang utan dan bayinya berasal dari wilayah Kutai Timur," ujar dia.


Jumlah satwa yang terdampak belum dapat dipastikan karena tim masih melakukan patroli dan pendataan di lapangan. Satwa yang telah dievakuasi juga belum akan dilepasliarkan sebelum kondisinya benar-benar pulih dan habitat dinilai aman.


"Jumlah ini masih bersifat sementara karena tim terus melakukan patroli dan pendataan di lapangan. Pelepasliaran baru akan dilakukan setelah kondisi satwa pulih dan habitatnya kembali dinilai aman," kata dia.




Ancaman karhutla juga masih berada tidak jauh dari PPS Long Sam. Titik kebakaran yang sebelumnya terpantau sekitar 10 kilometer dari pusat rehabilitasi tersebut hingga kini masih terus diawasi tim.


"Upaya pemadaman dan pembuatan sekat dilakukan untuk memutus pergerakan api. Namun, kondisi belum sepenuhnya aman karena cuaca sangat kering, arah angin dapat berubah, dan titik api berpotensi muncul kembali," kata dia.


Paulinus mengatakan terdapat beberapa titik api di sekitar kawasan Long Sam dengan jumlah yang dapat berubah setiap hari. Sulitnya akses hingga menipisnya sumber air menjadi kendala petugas untuk melakukan pemadaman.


"Kendala utama pemadaman adalah lokasi yang sulit dijangkau, sumber air yang mulai mengering, api yang masuk ke lapisan tanah dan gambut, keterbatasan peralatan serta logistik, dan kondisi tim yang mulai kelelahan," ujar dia.


Kemarau panjang turut membuat debit sejumlah sumber air di Long Sam mengalami penurunan. Kendati demikian, kebutuhan air dan pakan seluruh satwa yang sedang menjalani rehabilitasi masih dapat dipenuhi.


"Namun, kami tetap melakukan langkah antisipasi karena kemarau menyebabkan debit beberapa sumber air menurun serta ketersediaan pakan alami semakin terbatas," kata dia.


Tim PPS Long Sam kini terus memantau persediaan untuk mengantisipasi kemarau berkepanjangan sekaligus ancaman karhutla di sekitar kawasan. Patroli dan pemadaman juga masih dilakukan bersama masyarakat dan instansi terkait.


"Persediaan air, pakan, obat-obatan, dan kebutuhan darurat terus dipantau," kata dia.
















Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.