Liputan6.com, Beijing - Sepasang lansia di China laporkan cucu perempuannya ke polisi setelah anak tersebut mengambil 20 ribu yuan atau sekitar Rp 52,2 juta dan sebuah gelang emas dari rumah mereka tanpa izin.
Dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (12/9/2026), menurut laporan Legal Daily pada 1 September, perempuan dengan nama belakang Chen asal Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur di barat laut China ini dijatuhi hukuman penjara enam bulan atas tuduhan pencurian dan denda sebesar 2.000 yuan (Rp 5,2 juta).
Chen mengambil uang dan perhiasan milik kakek-neneknya saat sang kakek sedang tidur siang di rumah. Kemudian, ia menjual gelang emas tersebut dengan harga lebih dari 27 ribu yuan (Rp 70,5 juta) dan menghabiskan seluruh uang tersebut.
Bahkan saat persidangan, ia tetap bersikukuh bahwa ia harus dibebaskan dari semua dakwaan.
"Uang yang saya ambil milik kakek-nenek saya. Mereka akan memaafkan saya dan tidak akan menyalahkan saya. Ini urusan keluarga kami," kata Chen.
Namun, pasangan lanjut usia tersebut memilih untuk tidak memaafkannya. Mereka berkata sudah memanjakan cucu perempuannya dan menyebutnya pemalas serta selalu ingin 'menuai tanpa menabur.'
Sebelumnya, ia sudah pernah mengambil barang-barang berharga lainnya dari rumah mereka. Nilainya semakin tinggi setiap kali. Akibatnya, mereka memutuskan untuk mengambil langkah hukum sebagai cara untuk mendidiknya.
Hukuman yang dijatuhkan kepada Chen memicu perdebatan panas di media sosial China.
"Ia pasti sudah sering mencuri uang mereka dan pada akhirnya mengecewakan mereka," tulis seorang pengamat.
Ada juga yang berkata bahwa apa yang dilakukan pasangan itu sudah benar, karena ini bukan hanya urusan uang, melainkan kesempatan untuknya menjadi lebih baik.

Namun, ada juga yang berpikir bahwa apa yang dilakukan pasangan tersebut berlebihan.
"Mereka harusnya bisa menyelesaikan masalah ini secara privat, tapi malah memilih untuk menyudutkannya dan membahayakan masa depannya," tutur seorang pengguna.
Nilai-nilai tradisional China memandang keluarga sebagai suatu kesatuan, di mana orang tua sering kali memberikan kekayaan mereka kepada anak-anak tanpa memandang usia. Contohnya adalah orang tua China biasanya menanggung biaya pendidikan anak-anak mereka bahkan ketika menempuh pendidikan pascasarjana.
Sebuah hal yang normal juga bagi pasangan muda untuk membeli properti dan memanfaatkan apa yang disebut "enam dompet," yaitu menggabungkan tabungan mereka dengan tabungan orang tua dan mertua.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah lain seperti "anak penuh waktu," muncul untuk menggambarkan dinamika keluarga tradisional China ini. Semakin banyak orang dewasa muda yang tinggal bersama orang tua mereka dan berperan sebagai pengurus rumah tangga sebagai imbalan atas dukungan finansial.
Bagi orang tua yang memiliki uang pensiunan dan bisa menghidupi anak-anaknya, "gaji" ini dipandang oleh sebagian orang sebagai bentuk baru dari uang saku yang mereka berikan dengan murah hati untuk meringankan beban keuangan anak-anak mereka.
Senada dengan nilai-nilai China tentang membagikan kekayaan, ada pengguna yang berkomentar mendukung pasangan lansia tersebut.
Menurut Undang–Undang Pidana China, siapapun yang mencuri benda milik publik atau pribadi dalam jumlah besar atau melakukan pencurian berulang kali dapat dihukum penjara hingga tiga tahun.
Meskipun mencuri dari anggota keluarga atau kerabat dekat biasanya tidak dianggap sebagai tindak pidana apabila mendapat maaf, pelaku tetap bisa menerima keringanan hukuman jika diproses secara hukum.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.