TRIBUN-TIMUR.COM, GOWA - Kisah pilu dialami seorang siswi SMP Negeri di Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Siswi itu berinisial F 14 tahun.
Ia hampir setahun tidak lagi masuk sekolah.
Ia memilih berdiam diri di rumah setelah mengalami perundungan atau bullying dari teman-temannya.
Perundungan itu diduga berkaitan dengan kondisi fisik F yang sejak lahir mengalami celah langit-langit mulut atau cleft palate.
Kondisi tersebut membuat cara berbicaranya berbeda dari anak-anak pada umumnya.
F merupakan warga Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa.
Saat ini, ia tercatat sebagai siswi kelas VIII di salah satu SMP Negeri di Desa Sengka.
Namun, sejak mengalami perundungan, F semakin takut untuk kembali ke sekolah. Ia bahkan disebut mulai menutup diri dan menolak berinteraksi dengan orang lain.
Orang tua F, Dg Nojeng, mengatakan perubahan pada anaknya terjadi setelah beberapa kali pulang dari sekolah dalam kondisi menangis.
Dg Nojeng yang sehari-hari bekerja sebagai petani mengatakan, F kerap bercerita bahwa dirinya diejek oleh teman-temannya.
"Awalnya dia sering pulang menangis, bilang diejek. Lama-lama dia takut ke sekolah. Dan hampir setahun ini tidak pernah masuk," ungkap Dg Nojeng saat ditemui di rumahnya, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat F semakin enggan keluar rumah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan tidak lagi berinteraksi seperti sebelumnya.
Keluarga sebenarnya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak sekolah, termasuk kepada wali kelas.
Dg Nojeng mengatakan, pihak sekolah sempat menyampaikan bahwa F telah ditegur setelah keluarga melaporkan perundungan yang dialaminya.
Namun, menurut dia, perlakuan yang diterima F justru kembali terjadi. Kondisi itu membuat anaknya semakin takut untuk bersekolah.
"Katanya sudah ditegur. Tapi setelah itu anak saya malah semakin sering dapat perlakuan tidak baik," katanya.
Bahkan, Dg Nojeng menyebut pihak sekolah pernah memulangkan F dengan alasan tidak mengerjakan tugas.
"Terakhir pihak sekolah sempat memulangkan anak saya dengan alasan tidak mengerjakan tugas," lanjutnya.
Setelah kejadian tersebut, F semakin jarang ke sekolah hingga akhirnya hampir setahun tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Di tengah kondisi itu, keluarga juga mempertanyakan perhatian pihak sekolah terhadap keberadaan F yang sudah lama tidak hadir.
Menurut Dg Nojeng, selama hampir setahun anaknya tidak masuk sekolah, tidak ada kunjungan dari pihak sekolah ke rumah.
Tidak ada pula sapaan ataupun komunikasi untuk sekadar menanyakan kondisi F dan alasan ia tidak lagi mengikuti pembelajaran.
Keluarga menilai kondisi tersebut semestinya mendapat perhatian lebih dari pihak sekolah, terlebih ketidakhadiran F berkaitan dengan persoalan perundungan yang sebelumnya telah dilaporkan.
Keterbatasan ekonomi keluarga juga menjadi persoalan lain yang dihadapi F.
Kondisi ekonomi membuat F belum mendapatkan penanganan medis secara optimal untuk kondisi celah langit-langit mulut dialaminya sejak lahir.
Kondisi fisik tersebut kemudian menjadi salah satu hal membuat F merasa minder ketika berinteraksi dengan teman-temannya.
Kini, F lebih banyak berdiam diri di rumah.
Hampir setahun meninggalkan sekolah membuat masa belajarnya terhenti, sementara trauma akibat perundungan masih dirasakan.
Laporan TribunGowa.com, Sayyid Zulfadli
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.